Langsung ke konten utama

Ch. 3 - Perjalanan untuk Kembali

07.00 — Wonosobo: Sarapan dan Keputusan Rute
Pagi di Wonosobo dingin dengan cara yang tidak minta maaf.
Bram turun dari kamar dengan jaket sudah terpasang, rambut Ivy League-nya sedikit berantakan tapi tidak cukup berantakan untuk dia pedulikan. Timur sudah di warung sebelah penginapan sejak enam tiga puluh — duduk dengan teh panas, rambut slick back-nya entah bagaimana tetap rapi meski baru bangun, menatap jalan yang masih berkabut dengan ekspresi datar khasnya.
Leon dan Noel turun bersamaan. Buzz cut mereka sama acaknya. Jaket wanita ukuran L mereka masih dipakai karena belum ada opsi lain. Mereka langsung duduk, langsung pesan nasi kuning, langsung makan tanpa basa-basi — ritme kembar yang tidak butuh komunikasi verbal untuk koordinasi.
"Pulang lewat mana?" tanya Leon di sela suapan.
"Jalur selatan," kata Bram. "Lewat Sapuran, turun ke Kutoarjo, masuk Purworejo, baru ke Jogja."
"Lebih jauh?"
"Lebih jauh. Tapi beda pemandangan."
Timur menyesap tehnya. "Jalannya lebih sepi juga. Lebih enak."
Noel: "Tanjakan?"
"Ada. Tapi lebih sedikit dari kemarin."
Leon dan Noel saling tatap. Kalkulasi diam-diam yang hanya mereka berdua yang bisa baca.
"Oke," kata Leon.
"Oke," kata Noel.
Bram menatap mereka berdua. "Kalian ga mau tanya lagi soal kecepatan?"
"Kami udah tau jawabannya," kata Leon.
"Slow and steady," kata Noel.
"Dengan dignity," tambah Leon.
"Monkey Baja itu dignified," kata Noel dengan nada orang yang sudah berdamai dengan kenyataan tapi tidak mau mengakuinya secara penuh.
Bram memesan nasi kuningnya dan memilih untuk tidak mengomentari lebih lanjut.

08.30 — Keberangkatan: Pemanasan dan Insiden Pertama
Parkiran penginapan. Empat motor, empat helm, udara masih dingin.
Bram starter DR800S-nya. Suara mesinnya mengaum pelan — bukan kasar, lebih ke jenis suara yang terdengar serius tanpa berusaha keras. Timur starter MP3 Yourban — wrrr, mulus, tiga roda mengunci, berdiri sendiri.
Leon dan Noel starter Monkey Baja mereka masing-masing.
Pret.
Diam.
Pret-pret.
Diam lagi.
Leon menendang kick starter untuk ketiga kalinya. Mesinnya hidup — ngiiing — suara yang familiar: serangga yang baru bangun dan belum sarapan.
Noel starter-nya hidup di percobaan kedua. Dia tidak mengomentari ini tapi ada sesuatu di matanya yang mengatakan bahwa dia menyadari perbedaannya.
Pemilik penginapan — seorang ibu paruh baya — keluar untuk melambaikan tangan pamit. Dia menatap konvoi itu dari kiri ke kanan. Berhenti di dua Monkey Baja.
"Motornya juga mau ikut pulang ke Jogja, Mas?"
"Iya, Bu," jawab Leon.
"Jauh ya."
"Bisa, Bu."
Ibu itu tersenyum dengan jenis senyum yang artinya ya semoga saja. "Hati-hati ya, Mas. Banyak tanjakan."
"Kami tau, Bu. Kemarin kami sudah naik."
"Oh sudah naik." Dia menatap Monkey Baja sekali lagi. "Hebat ya."
Leon menerima komentar itu dengan serius dan tulus. "Makasih, Bu."

09.15 — Wonosobo ke Sapuran: Jalan yang Berbeda, Masalah yang Sama
Jalur Wonosobo-Sapuran adalah jalan pegunungan yang lebih sempit dari jalur kemarin, dengan pemandangan perkebunan yang berganti-ganti — tembakau, sayuran, sesekali kebun kopi. Jalannya mulus tapi menyempit di beberapa bagian hingga hampir dua motor saja.
Bram di depan. DR800S-nya di jalan sempit ini terasa lebih lebar dari biasanya — handlebars lebarnya hampir menyentuh tepi jalan di tikungan terkecil. Dia melambat, pilih garis jalan dengan teliti.
Timur di belakang Bram. MP3 Yourban-nya di jalan sempit adalah tantangan lain — dua roda depan butuh lebar lebih. Di satu tikungan sempit, ada motor bebek dari arah berlawanan. Timur berhenti. Motor bebek berhenti. Dua pihak saling mengukur ruang yang tersedia.
Ruangnya tidak cukup untuk dua kendaraan lewat bersamaan.
Yang lewat duluan: motor bebek. Dengan lancar, tanpa drama.
Timur maju. Dua roda depan MP3-nya melewati tepi jalan dengan margin sekitar sepuluh sentimeter di sisi kiri.
Di belakangnya, Leon dan Noel melewati titik yang sama dengan Monkey Baja masing-masing — dengan margin lebih dari cukup, karena Monkey Baja itu kecil dan bisa melewati celah yang tidak bisa dilewati motor normal.
Noel di walkie-talkie: "Timur, di tikungan sempit, Monkey kami lebih bebas dari MP3 lo."
Hening dua detik.
"Diam."
Leon: "Ini fakta teknis."
"Diam."
---
Di tengah perjalanan, di satu ruas jalan yang lurus dan menurun, terjadi sesuatu yang tidak diantisipasi siapapun.
Monkey Baja Noel — dengan gravitasi sebagai sekutu, mesin full throttle, dan jalan lurus yang bersih — mencapai kecepatan yang membuat Noel sendiri sedikit terkejut.
Speedometer: 88 km/jam.
Ini bukan masalah kecepatan. Ini masalah stabilitas. Monkey Baja dengan wheelbase pendek dan suspensi standar di kecepatan 88 km/jam mulai terasa seperti berdiri di atas papan skateboard yang bergerak.
Noel mengurangi gas. Motor sedikit oleng ke kiri. Dia koreksi. Sedikit ke kanan. Dia koreksi lagi.
Semua ini terjadi dalam dua detik dan tidak ada yang mati.
Tapi walkie-talkie berbunyi dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya:
"Bram."
"Apa."
"Delapan delapan."
"Delapan delapan apa."
"Kilometer per jam."
Jeda panjang.
"Dan?"
"Agak... seru."
Bram: "Seru dalam artian?"
"Stangnya agak ngajak ngobrol sendiri."
Bram menghela napas. "Kurangin gas di turunan panjang. Motor itu bukan didesain buat top speed, didesain buat keliatan bagus."
"Gue tau." Jeda. "Tapi delapan delapan."
Leon di belakang Noel: "Gue tadi juga delapan lima."
"Gue lebih kenceng."
"Tipis."
"Tetap lebih kenceng."
Timur: "Kalian berdua tolong fokus ke jalan."

11.00 — Kutoarjo: Peradaban dan Pertamina
Keluar dari jalur pegunungan, mereka masuk ke dataran. Kutoarjo menyambut mereka dengan jalan yang lebih lebar, lebih ramai, dan sebuah SPBU yang tepat waktu karena bensin Monkey Baja Leon sudah bergetar di garis merah.
Di SPBU, seorang remaja penjaga pompa — mungkin usianya tidak jauh dari Leon dan Noel — menatap dua Monkey Baja itu dengan ekspresi campuran antara kagum dan bingung.
"Ini motor buat turing, Mas?"
"Iya," jawab Leon.
"Dari mana?"
"Jogja. Pergi ke Dieng, balik lewat sini."
Remaja itu menatap Monkey Baja. Menatap Dieng yang jauhnya ratusan kilometer di balik gunung yang tidak kelihatan dari sini. Menatap Monkey Baja lagi.
"Kuat ya motornya."
Noel: "Kuat. Pelan, tapi kuat."
"Itu yang penting," kata remaja itu dengan keyakinan seorang bijaksana.
Leon mengangguk dengan serius. "Betul."
Sementara itu, di sisi lain SPBU, Bram dan Timur mengisi bensin sambil membahas satu hal yang belum dibicarakan sejak semalam.
"Pak Wardi bisa handle dua motor sekaligus?" tanya Timur.
"Dia pernah handle tiga swap paralel. Dua Monkey kecil harusnya masuk akal."
"Berapa lama kira-kira?"
"Tergantung part. Kalau part lengkap, seminggu sampai sepuluh hari. Kalau harus nunggu part, bisa dua minggu."
Timur manggut. "Gue bilang ke importir keluarga gue soal beberapa part. Dia mungkin bisa bantu cepet."
"Oke bagus."
"Dan soal Akrapovic gue—"
"Itu urusan lo sama Pak Wardi sendiri."
"Kenapa?"
"Karena gue mau lihat ekspresi Pak Wardi waktu lo minta Akrapovic buat MP3 Yourban."
Timur menatap Bram. "Ada yang salah dengan itu?"
"Tidak ada yang salah. Cuma... menarik."

12.30 — Purworejo: Makan Siang dan Drama Kecil
Purworejo. Mereka mampir di warung soto yang papan namanya sudah pudar tapi parkirannya penuh — pertanda yang selalu bisa dipercaya.
Soto daging. Nasi terpisah. Kerupuk gratis di meja.
Semua makan dengan tenang sampai Leon melihat ke arah parkiran dari dalam warung dan ekspresinya berubah.
"Noel."
"Apa."
"Motor kita."
Noel menoleh ke parkiran. Dua Monkey Baja mereka diparkir di sudut. Di sebelah mereka, sebuah Honda Vario terparkir oleh seorang ibu yang rupanya tidak memperhatikan, atau memperhatikan tapi memutuskan bahwa dua Monkey Baja itu tidak perlu jarak yang layak.
Hasilnya: Vario itu parkir sangat dekat dengan Monkey Baja Leon sehingga pintu masuk ke motor Leon praktis terblokir.
Leon berdiri. Bram menatapnya. "Mau ngapain?"
"Mau mindahin motor."
"Motornya dulu, makannya nanti?"
"Motornya dulu."
Leon keluar. Mengangkat — secara harfiah mengangkat — Monkey Baja-nya keluar dari posisi terjepit, memindahkannya satu meter ke kanan, lalu kembali duduk dan melanjutkan makan soto seolah tidak terjadi apa-apa.
Bram melihat ini. Menatap Timur.
Timur mengangkat bahu. "Keuntungan motor kecil. Bisa dipindah pakai tangan."
"Itu seharusnya memalukan tapi justru efisien."
"Banyak hal begitu."
Di mejanya, Noel makan soto dengan tenang dan tidak berkomentar — karena Noel tahu kalau dia yang mengalami hal yang sama, dia akan melakukan persis hal yang sama. Tanpa diskusi.

14.30 — Masuk Jogja: GPS, Kesombongan, dan Jalan Macet
Masuk ring road Jogja, traffic mulai terasa. Bukan macet parah, tapi cukup untuk membuat perjalanan yang tadinya lancar jadi sedikit tersendat-sendat.
Di kondisi ini, karakter masing-masing motor kembali berbicara.
DR800S Bram: tinggi, bisa lihat situasi jauh ke depan, suspensi nyaman di stop-and-go, tapi lebar handlebars bikin selap-selip agak terbatas.
MP3 Yourban Timur: di kondisi macet perkotaan, ini habitatnya. Tiga roda berdiri stabil saat berhenti, tidak perlu injak rem terus-terusan, bisa berhenti di mana saja tanpa khawatir jatuh. Timur meluncur di kemacetan dengan tampang orang yang tidak merasakan kemacetan.
Monkey Baja Leon dan Noel: ukurannya kecil, jadi selap-selip mudah. Tapi karena kecil, mereka kurang terlihat oleh pengendara lain. Dua kali Leon hampir disalip motor yang rupanya tidak melihat ada Monkey Baja di sampingnya.
"Bram, mereka ga keliatan kita."
"Pakai klakson."
"Udah."
"Lebih sering."
Suara klakson Monkey Baja — tin tin — memang tidak terlalu meyakinkan di tengah lautan motor Jogja. Tapi setidaknya ada.
Di satu persimpangan, GPS Bram mengarahkan mereka ke gang yang dia tidak yakin bisa dilalui DR800S.
Dia berhenti. Menatap gang. Menatap handlebars DR800S yang lebarnya hampir sama dengan lebar gang.
Timur berhenti di sampingnya. Melihat gang. Melihat DR800S. Melihat gang lagi.
"Masuk?"
"Belum tau."
"Coba ukur."
"Gimana caranya ngukur?"
"Jalan pelan."
"Kalau ga muat di tengah-tengah gimana?"
"Mundur."
Bram menatap Timur dengan ekspresi yang mengkomunikasikan bahwa saran 'mundur' untuk motor sepanjang 2265mm di gang sempit adalah saran yang terdengar lebih mudah dari pelaksanaannya.
Leon mengintip dari belakang. "Mau gue duluin? Monkey gue pasti muat."
Bram menatap gang. Menatap Monkey Baja Leon yang lebarnya mungkin sepertiga DR800S.
"...Ya. Duluin."
Leon dan Noel masuk gang duluan dengan lancar. DR800S Bram memutar balik mencari jalan lain. MP3 Yourban Timur mengikuti Bram karena dua roda depannya juga tidak yakin dengan gang itu.
Mereka ketemu lagi di ujung gang.
Noel di walkie-talkie, dengan nada sangat netral: "Kami sudah di ujung."
"Iya gue tau."
"Monkey Baja muat di gang itu."
"Iya gue tau."
"Cuma informasi."
"Terima kasih."

16.00 — Bengkel Pak Wardi: Sebuah Pertemuan
Bengkel Pak Wardi ada di gang kecil yang kalau orang tidak tahu, tidak akan menemukannya. Papan namanya: "BENGKEL WARDI — MESIN & MODIFIKASI" — hurufnya agak miring, catnya sudah kusam sejak lama, tapi bengkelnya tetap ada bertahun-tahun, yang berarti sesuatu.
Di depan bengkel: beberapa motor dalam berbagai kondisi pembedahan. Satu Ninja sedang ganti bearing. Satu Mio karburatornya terbuka. Dan Pak Wardi sendiri — pria lima puluhan, kurus, rambut sebagian sudah putih, kacamata baca didorong ke atas dahi, tangan hitam permanen dari oli, dan ekspresi orang yang sudah melihat semua jenis motor dan semua jenis permintaan tidak masuk akal dalam hidupnya.
Dia menatap konvoi yang masuk ke gangnya.
DR800S besar. MP3 Yourban tiga roda. Dua Monkey Baja putih-merah.
"Lho, Bram." Dia manggut ke Bram. "Timur."
"Pak Wardi." Bram manggut. Sedikit lebih tegak dari biasanya tanpa dia sadari — refleks ketemu orang yang lebih tua dan dia hormati.
"Pak Wardi." Timur juga manggut, nadanya lebih pelan dari biasanya.
Pak Wardi menatap Leon dan Noel. Lalu menatap dua Monkey Baja. Lalu balik ke mereka berdua.
"Iki sing arep di-swap?" — Ini yang mau di-swap?
Leon menoleh ke Bram dengan tatapan yang artinya: gue nangkep 'swap' tapi sebelum itu gue kurang yakin.
Bram: "Iya, Pak. Dua-duanya."
"Kalian yang punya?" tanya Pak Wardi ke kembar, kali ini pakai Indonesia tapi ada -e tipis di ujungnya.
"Iya, Pak," jawab Leon. "Saya Leon, ini Noel."
"Kembar?"
"Kembar, Pak."
Pak Wardi manggut pelan. Ekspresinya tidak berubah tapi matanya bergerak sedikit — jenis gerakan mata orang yang sedang menyimpan informasi. Dia jongkok di depan salah satu Monkey Baja, memeriksanya dengan tangan — menggerak-gerakkan, mendengarkan, mengetuk beberapa bagian rangka.
"Diajak nyang ngendi iki?" — Diajak ke mana ini?
Leon: "Eh—"
Bram, pelan ke Leon: "Diajak ke mana."
Leon: "Oh. Ke Dieng, Pak. Kemarin."
Pak Wardi berdiri. "Munggah nganti nduwur?" — Naik sampai atas?
Leon ke Bram lagi. Lebih cepat kali ini.
"Naik sampai atas," bisik Bram.
"Naik sampai atas, Pak," Leon ke Pak Wardi. "Turun juga."
Pak Wardi mengeluarkan suara kecil dari hidungnya — bukan tawa, lebih ke bunyi orang yang menerima sebuah fakta dan menempatkannya di folder yang tepat.
"Slamet," katanya pendek. — Selamat.
"Nggih, Pak. Alhamdulillah," jawab Leon dengan sopan.
Noel di sebelahnya juga manggut. "Nggih."
Pak Wardi melirik ke keduanya sebentar dengan ekspresi yang sedikit lebih hangat — tidak banyak, tapi ada. Anak muda yang sopan selalu dapat satu poin ekstra dari Pak Wardi, meskipun Pak Wardi tidak pernah mengatakannya.

Bram menyodorkan HP ke Pak Wardi — daftar spesifikasi dari obrolan semalam.
Pak Wardi membaca. Kacamata bacanya turun ke hidung, didorong naik lagi.
"Supra X satus selawe karbu, basis-e?" — Supra X 125 karbu, basisnya?
"Nggih, Pak," jawab Bram. Lalu menambahkan dengan sedikit kagok: "Sing... karburator. Ora injeksi." — Yang karburator. Bukan injeksi.
Pak Wardi melirik Bram sebentar. Ada sesuatu di sudut matanya. "Iso Jowo?" — Bisa Jawa?
Bram: "Sak... sak-sakedhik-e, Pak." — Sedikit-sedikit, Pak. Pengucapannya tidak salah tapi ada jeda kecil di tengah-tengah yang mengkhianati bahwa dia memikirkannya dulu sebelum bicara.
"Lumayan," kata Pak Wardi, kembali ke daftar. Satu kata tapi artinya cukup banyak.
Timur berdiri di samping Bram, membaca daftar yang sama dari sudut mata. Saat Pak Wardi mengatakan sesuatu dalam Jawa, Timur mengerti — terlihat dari cara kepalanya bergerak sedikit, atau matanya merespons di waktu yang tepat. Tapi dia tidak mengeluarkan satu kata Jawa pun. Bahasa Indonesia yang bersih dan rapi, atau diam.
Leon dan Noel di belakang, sedikit lebih jauh, mendengarkan dengan ekspresi penuh perhatian yang sedikit tegang — jenis perhatian orang yang berusaha keras menangkap sinyal di area dengan reception buruk.
Pak Wardi membaca lebih lanjut. "High comp sepuluh setengah. Cam stage siji—" — stage satu
"Nggih," kata Bram.
"—oli cooler wajib."
"Nggih, Pak. Wajib," Bram mengkonfirmasi. "Soale mesin-e—" dia berhenti sedetik, "karena mesin-e bakal luwih panas."
Pak Wardi mendongak. Menatap Bram sebentar. Bukan tatapan heran — lebih ke tatapan seseorang yang sedang mengkalibrasi ulang. "Kowe kuliah opo?" — Kamu kuliah apa?
"Hukum, Pak."
"..." Pak Wardi kembali ke daftar. "Iyo. Wajib oil cooler."
--'
Di satu titik, Pak Wardi bertanya ke Leon dan Noel langsung — bahasa Indonesia tapi ada lho di akhir:
"Kalian mau cruising pirang km/jam, lho?" — Berapa km/jam?
Leon: "Tujuh puluh sampai sembilan puluh santai, Pak. Kalau bisa sesekali tembus seratus."
"Saiki piro?" — Sekarang berapa?
Leon dan Noel saling lirik.
"...Dua puluh, Pak. Di tanjakan Dieng."
Pak Wardi menatap dua Monkey Baja itu dengan pandangan dokter yang baru mendengar keluhan pasien dan sekarang mengerti kenapa wajahnya pucat.
"Yo wis," katanya akhirnya. — Ya sudah.
Noel berbisik ke Leon: "Yo wis itu oke atau tidak oke?"
Leon berbisik balik: "Kayaknya oke."
Noel manggut, tidak sepenuhnya yakin tapi menerima.
---
"Dua-duanya paralel dikerjain ya, Pak?" kata Bram. "Soale..."
Pak Wardi sudah mendahului: "Soale kudu padha persis." — Karena harus sama persis.
Bram menatapnya. "Pak Wardi ngerti?"
"Kembar," kata Pak Wardi datar, seperti itu menjelaskan segalanya — dan memang iya.
Leon dan Noel mengangguk dengan ekspresi tulus. Pak Wardi sudah paham tanpa perlu dijelaskan, dan itu rasanya seperti bentuk penghormatan yang tidak perlu diverbalkan.
--'
Lalu Timur maju sedikit.
"Pak Wardi, kula badhe nyuwun tulung setunggal malih." — Pak Wardi, saya mau minta tolong satu hal lagi.
Pak Wardi mendongak. Timur mengucapkan itu dalam Jawa halus yang cukup fasih untuk dimengerti tapi dia sendiri tahu batas kemampuannya — satu kalimat, cukup, lalu beralih ke Indonesia.
"Knalpot motor saya mau diganti. Yang itu." Dia menunjuk MP3 Yourban.
Pak Wardi melihat ke MP3 Yourban. Lalu ke Timur.
"Ganti opo?" — Ganti apa?
"Akrapovic, Pak."
Keheningan yang sangat spesifik.
Pak Wardi melepas kacamatanya. Mengusapnya dengan kain lap di kantong celana — kain lap yang warnanya sudah tidak bisa didefinisikan. Memasang kembali. Menatap MP3 Yourban satu kali. Menatap Timur satu kali.
"Akrapovic," ulangnya.
"Nggih, Pak."
"Buat iku." Satu jari ke arah MP3 Yourban.
"Nggih."
Pak Wardi menghela napas — panjang, metodis, napas orang yang sudah bertahun-tahun melatih respon ini untuk situasi tertentu.
"Suwi golekke." — Lama nyarinya.
"Nggih, Pak. Mboten masalah." — Tidak masalah.
"Larang." — Mahal.
"Nggih."
Pak Wardi menyebut angkanya.
Timur tidak berkedip. "Nggih, Pak. Saged." — Bisa.
Pak Wardi menatapnya sebentar — bukan takjub, lebih ke orang yang sedang mengkonfirmasi bahwa dia tidak salah dengar. Lalu manggut pelan dan mencatat di buku kumalnya.
Bram ke Timur, sangat pelan: "Tadi gue bilang gue mau lihat ekspresi Pak Wardi."
Timur, juga pelan: "Puas?"
"Sangat."
Noel berbisik ke Leon: "Timur tadi ngomong apa ke Pak Wardi di awal?"
Leon berbisik balik: "Minta tolong kayaknya. Bahasa Jawa."
"Timur bisa bahasa Jawa?"
"Kayaknya dikit-dikit."
"Kita kapan bisa?"
"Entah."

17.00 — Drama Kembar: Pulang Naik Apa
Motor sudah dititipkan. Leon dan Noel berdiri di depan bengkel, menatap dua Monkey Baja di sudut dengan ekspresi yang sulit didefinisikan — seperti menitipkan sesuatu penting ke dokter, tahu hasilnya baik, tapi tetap menatapnya sekali lagi sebelum pergi.
"Saged dipercados, Pak Wardi?" tanya Leon ke Pak Wardi yang sudah mau masuk ke dalam. — Bisa dipercaya?
Pak Wardi berbalik. Menatap Leon sebentar. "Iso Jowo?" — Bisa Jawa?
Leon sedikit kaget ditanya balik. "Eh — sak... sak-sak-e, Pak." Pengucapannya lebih kacau dari punya Bram.
Sudut bibir Pak Wardi bergerak satu milimeter ke atas — ini adalah versi senyum Pak Wardi. "Wis, tenang. Aman."
"Keduanya, Pak?" tanya Noel, balik ke Indonesia dengan aman.
"Keduanya."
"Matur nuwun, Pak." — Leon dan Noel bersamaan, dengan nada sangat tulus.
Pak Wardi manggut dan masuk ke dalam. Pintu gulungnya setengah turun.
---
Mereka berbalik. Bram dan Timur masih ada — motor diparkir, tidak kemana-mana.
"Kalian ga langsung pulang?" tanya Leon.
"Nanti," kata Bram.
Leon melihat Bram. Melihat Timur. Tidak mengatakan apa-apa. Noel juga tidak. Mereka hanya mengerti.
---
Leon membuka aplikasi di HP-nya. Noel membuka aplikasi di HP-nya. Ini gerakan refleks — dua belas tahun jadi kembar identik membuat banyak hal dilakukan bersamaan tanpa komunikasi.
Keduanya memesan taksi. Ke alamat yang sama.
Keduanya mendapat konfirmasi.
Leon melihat HP-nya. Melihat HP Noel.
"...Kita pesan dua?"
Noel melihat HP-nya. Melihat HP Leon. "Kayaknya iya."
Dua detik keheningan.
"Cancel salah satu?" kata Noel.
"Kamu cancel punya kamu," kata Leon.
"Kenapa punya gue yang cancel?"
"Ya cancel punya gue juga ga pa pa."
"Tapi kalau punya kamu yang cancel, berarti kamu yang naik punya gue—"
"Atau kamu naik punya gue—"
"Tapi itu punya kamu, bukan punya gue—"
Bram melihat percakapan ini berlangsung selama dua belas detik dengan ekspresi yang tidak bisa memutuskan antara heran dan lelah. Lalu: "Biarkan saja dua-duanya."
Keduanya menatap Bram.
"Sudah telanjur pesan. Driver sudah jalan. Cancel sekarang kena penalti, kasihan drivernya." Bram mengangkat bahu. "Naik masing-masing. Beres."
Leon dan Noel mempertimbangkan ini sebentar.
"Oh iya ya," kata Noel.
"Masuk akal," kata Leon.
Dan itu selesai. Bukan karena prinsip mereka kalah — tapi karena solusinya memang paling adil untuk semua pihak, termasuk dua driver yang tidak ada hubungannya dengan filosofi kembar apapun.
---
Driver pertama tiba — Pak Slamet, Avanza putih, usia sekitar empat puluhan, kumis tipis. Dia menatap Leon dan Noel yang berdiri berdampingan.
"Yang order Leon?"
"Saya, Pak." Leon mengangkat tangan.
Pak Slamet menatap Noel. Metatap Leon. Metatap Noel lagi. "Kembar?"
"Kembar, Pak."
"Wah." Manggut pelan. "Sama persis ya."
"Sama persis, Pak."
Pak Slamet melihat ke dalam bengkel — dua Monkey Baja masih terlihat dari gang. "Itu motor kalian?"
"Iya, Pak. Lagi servis."
"Dari mana tadi?"
"Dari Dieng, Pak. Touring."
Pak Slamet melihat Monkey Baja. Melihat Dieng yang ada di balik barisan gunung yang tidak terlihat dari sini. Melihat Monkey Baja lagi. "Naik itu ke Dieng?"
"Naik itu ke Dieng, Pak."
Pak Slamet manggut dengan ekspresi orang yang memutuskan untuk mengagumi sesuatu yang dia tidak sepenuhnya mengerti. "Hebat."
"Makasih, Pak," kata Leon dengan tulus.
Leon masuk ke mobil. Sebelum pintu ditutup: "Hati-hati di jalan ya, Pak."
Pak Slamet sedikit terkejut — tidak banyak penumpang yang bilang itu ke driver. "Eh — iya, Mas. Makasih."
---
Driver kedua tiba dua menit kemudian — Mas Rizky, lebih muda, Avanza silver, earphone masih di satu telinga ketika turun dari mobil.
Dia melihat Noel. Melihat ke arah Avanza Pak Slamet yang baru saja jalan. Kembali ke Noel.
"Eh — tadi ada yang kembar sama kamu naik taksi lain?"
"Iya, Mas. Saudara kembar saya."
"Gue kira mata gue yang error." Mas Rizky tertawa kecil. "Kirain gue lihat orang yang sama dua kali."
Noel tersenyum sopan. "Sering kejadian, Mas."
"Kalian kemana-mana emang naik taksi sendiri-sendiri?"
Noel memikirkan cara menjawab ini yang tidak membutuhkan penjelasan panjang. "Kalau motornya ada, bareng. Kalau lagi diservis ya gini, Mas."
"Oh motornya diservis." Mas Rizky mengangguk. Lalu lirik ke bengkel Pak Wardi. "Yang mana motornya?"
"Yang putih-merah kecil di dalem itu, Mas. Dua-duanya."
Mas Rizky melihat dua Monkey Baja di sudut bengkel. "Lucu ya motornya."
"Iya, Mas."
"Tapi keliatan enak."
Noel menoleh ke dua Monkey Baja-nya satu kali lagi sebelum masuk mobil. "Enak, Mas. Cuma... pelan."
"Santai aja. Yang penting nyampe."
"Betul, Mas." Noel masuk mobil. "Makasih ya."
---
Bram dan Timur menunggu sampai dua Avanza itu menghilang di tikungan ujung gang.
Tidak ada yang perlu dikatakan soal mengapa mereka menunggu. Mereka hanya menunggu, dan itu cukup.
Timur mematikan rokok. Naik ke MP3 Yourban. Klik.
"Akrapovic-nya kapan kira-kira?" tanya Bram.
"Pak Wardi bilang dua sampai tiga minggu."
"Sabar."
"Gue selalu sabar."
"Tidak terlihat sabar."
"Gue terlihat datar. Berbeda dengan tidak sabar."
Bram memasang helm. Starter DR800S. Mesinnya mengaum pelan dan serius.
Dia melirik sebentar ke dalam bengkel — dua Monkey Baja kecil di sudut, diam, menunggu.
Lalu keluar gang. Masuk malam Jogja.

Satu jam kemudian.
Grup WhatsApp "burnt memorial (jangan baperan)":
Leon: sampe rumah
Noel: sampe rumah
Bram: 👍
Timur: 👍
Leon: pak wardi orangnya bisa dipercaya kan?
Bram: udah langganan bertahun-tahun
Leon: oke
Noel: motor kita aman kan di pak wardi?
Bram: aman
Leon: dua-duanya?
Bram: dua-duanya
Noel: oke makasih
Leon: btw kang gusep tadi nanya kapan kita manggung lagi
Timur: manggung aja, lo bisa desakan di depan sama kang gusep
Noel: kang gusep baunya kayak solder
Leon: dan rokok kretek
Noel: tapi orangnya baik
Leon: sangat baik
Bram: kang gusep adalah salah satu manusia terbaik yang pernah gue kenal
Timur: setuju
Leon: kita kasih bonus dong kang gusep
Noel: setuju
Bram: setuju
Timur: setuju
Leon: oke noted. tidur dulu
Noel: tidur dulu
(dua centang biru sekaligus)
Bram: istirahat
Timur: ——
(tidak ada reply. kemungkinan besar sudah asleep atau memang memilih untuk mengakhiri percakapan dengan diam yang bermartabat)

Monkey Baja dalam pengerjaan. Akrapovic dalam pencarian. Kang Gusep dalam tidurnya yang diperoleh dengan jujur. Burnt Memorial dalam jeda — sampai turing berikutnya. — 🔧🏍️

Postingan populer dari blog ini

Ch. 4 - Kamar Kosong

Kamar itu dulunya tidak ada fungsinya. Enam bulan lalu isinya cuma satu kasur busa yang tidak ada yang tidur di sana, satu lemari tua yang pintunya tidak bisa tutup sempurna, dan tiga kardus berisi entah apa yang tidak ada yang mau bongkar. Bram sendiri lupa kapan terakhir kali masuk ke sana. Sekarang, kasur busanya sudah pergi ke gudang. Lemarinya sudah jadi rak kabel dan aksesori. Kardusnya sudah jadi bahan bakar pertanyaan " ini punya siapa? " yang tidak pernah terjawab. Dan di ruangnya yang tidak terlalu besar — mungkin tiga kali empat meter — berdiri satu setup drum empat pieces di sudut kiri, dua acoustic amp kecil bersandar di dinding kanan, bass amp hitam berdiri di pojok belakang, dan karpet abu-abu tebal menutupi hampir seluruh lantai. Tidak ada peredam dinding profesional. Bram cukup menempel foam telur di tiga sisi, dan sisanya ditutupi kain tebal pinjaman dari ibu kosnya yang lama. Hasilnya? Tidak sempurna. Tapi cukup. Cukup untuk tidak membuat tetangga datang me...

Ch. 1 - Prologue: Chaos on Wheels

Titik Kumpul: Chaos Pertama Pukul 07.00 pagi, parkiran minimarket jadi saksi bisu pemandangan paling absurd sepanjang sejarah turing Indonesia. Bram datang pertama. Suzuki DR800S Big-nya mengaum pelan tapi berwibawa, kayak harimau yang lagi nguap. Dia turun dengan anggunnya — 183 cm, kaki langsung menapak sempurna, bahkan sedikit menekuk. Helm full-face-nya dipasang miring sedikit, gaya orang yang udah tau dia kelihatan keren. Darah Belanda itu emang ga bisa bohong — bahkan cara dia standar motornya aja kayak adegan film. Timur datang kedua. Suara motor tiga roda itu beda dari kejauhan — wrrr... wrrr... — kayak suara mesin cuci yang lagi ngepret. Piaggio MP3 Yourban-nya meluncur mulus. Begitu berhenti, sistem pengunci otomatis tiga rodanya langsung klik , berdiri sendiri kayak meja. Bram menatap. Lama. "Timur... itu motor apa becak listrik?" Timur turun dengan tenang, lepas helm, sisir rambut. "Motor tiga roda. Stabil. Aman. Dewasa." "Dewasa katanya. Nenek-nen...

Ch. 8 - Obrolan Panjang

Dua ukulele sopranissimo berhenti berbunyi sekitar pukul sembilan. Bukan karena diputuskan. Jari-jari Leon dan Noel berhenti bergerak seperti jam yang tidak perlu dimatikan karena sudah selesai fungsinya. Suara terakhir bergantung sebentar di udara pantai, lalu angin mengambilnya pergi. Api unggun sudah rendah tapi belum mati. Cukup untuk cahaya, cukup untuk bayangan empat wajah di pasir gelap. Bram berbaring miring, kepala di atas lengannya, menatap api. Rokok kedua baru saja dimatikan. Timur duduk tegak seperti selalu — lutut ke atas, tangan di lutut. Leon dan Noel berdampingan, dua sopranissimo diletakkan miring di pasir karena tidak ada yang peduli kalau pasir masuk ke badan kayu lima puluh ribu rupiah. Hening yang nyaman. Bukan hening yang buntu. Lalu Noel bersuara. "Kupang lebih banyak bintangnya dari ini. Tapi ini hampir sama." Kalimat itu keluar santai, seperti melanjutkan percakapan yang tidak pernah dimulai. Bram menoleh pelan. "...Kupang?" "Kami dari...