Ch. 4 - Kamar Kosong
Kamar itu dulunya tidak ada fungsinya.
Enam bulan lalu isinya cuma satu kasur busa yang tidak ada yang tidur di sana, satu lemari tua yang pintunya tidak bisa tutup sempurna, dan tiga kardus berisi entah apa yang tidak ada yang mau bongkar. Bram sendiri lupa kapan terakhir kali masuk ke sana.
Sekarang, kasur busanya sudah pergi ke gudang. Lemarinya sudah jadi rak kabel dan aksesori. Kardusnya sudah jadi bahan bakar pertanyaan "ini punya siapa?" yang tidak pernah terjawab. Dan di ruangnya yang tidak terlalu besar — mungkin tiga kali empat meter — berdiri satu setup drum empat pieces di sudut kiri, dua acoustic amp kecil bersandar di dinding kanan, bass amp hitam berdiri di pojok belakang, dan karpet abu-abu tebal menutupi hampir seluruh lantai.
Tidak ada peredam dinding profesional. Bram cukup menempel foam telur di tiga sisi, dan sisanya ditutupi kain tebal pinjaman dari ibu kosnya yang lama. Hasilnya? Tidak sempurna. Tapi cukup. Cukup untuk tidak membuat tetangga datang mengetuk pintu dengan ekspresi yang minta maaf tapi sebetulnya tidak.
Mereka menyebutnya studio. Dengan penuh keyakinan. Tanpa tanda kutip.
---
Timur datang pertama, seperti biasa — karena dia satu-satunya yang tidak bisa santai kalau belum setting up.
Dia masuk dengan Quad Cortex di tangan kiri, tas kabel di pundak kanan, dan ekspresi orang yang sudah tahu persis apa yang akan dia lakukan untuk tiga puluh menit ke depan. Bram yang buka pintu sambil masih mengunyah roti.
"Lo makan dulu baru setup?" kata Timur.
"Aku manusia," kata Bram. "Lo mau drum sounding seperti apa, tergantung apakah tanganku bertenaga atau enggak."
"Filosofis sekali."
"Itu bukan filosofi, itu biologi."
Timur sudah masuk ke dalam kamar dan mulai membuka tas kabelnya sebelum Bram selesai bicara.
---
Leon dan Noel datang bersamaan — tentu saja — dengan dua hard case ukulele di punggung masing-masing dan satu plastik kresek berisi jajan pasar di tangan Leon. Atau Noel. Tidak ada yang bisa memastikan.
"Ini buat siapa?" tanya Bram, menunjuk kreseknya.
"Buat semua," kata yang di kiri.
"Tapi kalau Kang Gusep ikut makan, kita hitung per orang ya," kata yang di kanan. "Soalnya kalau dia makan banyak, kita rugi."
"Kang Gusep belum dateng."
"Makanya kita hitung sekarang, sebelum dia dateng."
Bram menatap mereka bergantian. "Kalian serius?"
Keduanya mengangguk. Dengan wajah yang sama seriusnya.
---
Kang Gusep datang paling akhir, tapi dengan energi paling ramai. Pintu depan belum sepenuhnya terbuka waktu suaranya sudah masuk duluan.
"Heh, motornya mana? Kok sepi parkiran?"
"Motor kembar lagi di Pak Wardi, Kang," teriak Noel dari dalam. "Kan Kang Gusep udah tau."
"Iya tau, nanya aja." Kang Gusep masuk, menyapu pandangan ke seluruh ruangan, lalu mengangguk-angguk seperti sedang menilai properti. "Makin rapi nih studionya. Kemarin masih ada kabel nyasar di bawah snare."
"Itu kabelnya Leon," kata Timur tanpa menoleh dari Quad Cortex-nya.
"Itu kabelnya Noel," kata Leon.
"Itu bukan kabel siapa-siapa," kata Noel. "Itu kabel yang nggak ada yang ngaku."
Kang Gusep menarik kursi plastik dari sudut ruangan — kursi yang memang sengaja diletakkan di sana karena Kang Gusep selalu butuh kursi plastik untuk duduk di mana pun dia berada — dan mendudukkan dirinya dengan gaya seorang pengawas proyek yang baru tiba di lokasi.
"Oke. Kita rapat dulu atau main dulu?"
"Main dulu," kata Bram.
"Rapat dulu," kata Timur.
Keduanya saling lirik.
"Main dulu," kata Leon dan Noel bersamaan, kompak sempurna, tanpa koordinasi.
Kang Gusep menengok ke kiri, ke kanan, lalu mengangkat tangan seperti wasit. "Main dulu. Suara mayoritas. Timur kalah."
"Ini bukan voting."
"Tapi hasilnya sama," kata Kang Gusep. "Ayo main."
---
I. SEBELUM MULAI
Timur selesai patching duluan. Selalu.
Quad Cortex-nya sudah terhubung ke bass amp via output 1, ke PA kecil mereka via output 3, dan ke dirinya sendiri via earphone monitoring yang dia tancap ke output headphone. Semua kabel rapi, semua routing bersih, semua preset sudah dicek dua hari lalu dan dicek lagi tadi pagi.
Leon dan Noel? Mereka cukup mengeluarkan ukulele dari case, menyetem sebentar, dan duduk.
"Kita udah siap," kata Leon.
"Dari tadi," kata Noel.
Timur menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Built-in effects itu curang."
"Built-in effects itu efisien," koreksi Leon.
"Reverb, delay, chorus. Tiga. Udah. Selesai," kata Noel sambil menunjukkan tiga jari.
"Kalian main ukulele di band post-math dengan setup sesimpel itu."
"Dan kedengarannya bagus," tambah Leon. "Bahkan katanya ethereal."
"Siapa yang bilang ethereal?"
"Review di Instagram. Tiga minggu lalu."
Timur diam sebentar. "...oke. Ethereal boleh."
Bram sudah duduk di belakang drum sejak tujuh menit lalu, memainkan ghost note pelan-pelan di snare, menunggu semua orang siap. Dia tidak ikut berdebat tentang efek. Dia sudah selesai dengan debat itu sejak pertama kali Timur menjelaskan signal chain-nya tiga puluh menit dan Bram menyerah di menit ke-delapan.
"Oke," kata Bram. "Mulai dari yang mana?"
"Yang baru," kata Timur.
"Yang mana yang baru?"
"Yang belum punya nama."
"Kita punya empat track yang belum punya nama."
"Yang paling baru dari yang empat itu."
"...yang ketukan 13/8 di tengahnya?"
"Ya."
Bram mengangguk, memutar satu drumstick di jarinya. "Oke. Dari top."
---
II. SUARA YANG TIDAK MASUK AKAL DI ATAS KERTAS
Yang pertama masuk adalah Bram.
Bukan dengan intro yang dramatis — tidak ada fill panjang, tidak ada cymbal crash pembuka. Dia mulai dengan hi-hat, pelan, bersih, 4/4 yang sangat biasa, seperti orang yang baru saja berjalan masuk ke ruangan. Tiga bar. Empat bar. Pendengar baru akan mengira ini intro lagu indie yang manis.
Bar kelima, snare masuk. Tapi bukan di dua dan empat. Sedikit di belakang beat dua, sedikit di depan beat empat — ghost note yang hampir tidak terdengar tapi terasa, seperti seseorang yang menyelipkan komentar di sela-sela percakapan orang lain. Kick drum mulai bergeser, tidak menempel di beat satu, tapi mengelilinginya — groovy, berat, seperti Toe sedang belajar cara jatuh yang tidak biasa.
Lalu Timur masuk.
Bass Dingwall-nya — tuning BEAD, sehingga string terendahnya adalah B yang dalam dan sedikit menakutkan — membangun nada dasar yang seharusnya jadi fondasi. Tapi Timur menekan octave pedal, dan tiba-tiba ada dua lapisan: bass yang dalam itu, dan versi oktaf atasnya yang menduduki zona frekuensi menengah, zona yang harusnya milik gitar. Quad Cortex menambahkan sedikit gain di lapisan atas — bukan distorsi penuh, lebih ke crunch yang dipoles, sedikit shoegazy di tepinya, seperti kalau Royal Blood memutuskan untuk tidak terlalu keras tapi tetap tidak mau terdengar lunak.
Kang Gusep, yang tadinya duduk santai, sedikit menegakkan punggungnya.
Leon dan Noel masuk bersamaan — tentu saja — dan ini bagian yang selalu sedikit mengejutkan meskipun sudah didengar puluhan kali. Dua ukulele kecil, dan voicing chord yang mereka mainkan dibagi dua: Leon megang bagian bawah, Noel di atas, sehingga kalau didengar terpisah masing-masing terdengar seperti chord yang belum selesai. Tapi digabungkan? Sesuatu yang hangat, sedikit kompleks, dengan harmoni yang tidak bisa ditebak akan belok ke mana. Taimane Gardner kalau dia memutuskan untuk tidak solo tapi bermain dalam ensemble yang lebih berat.
Untuk delapan bar pertama mereka semua bermain di zona yang sama, membangun tekstur. Kemudian Bram melakukan sesuatu.
Dia tidak memberi aba-aba. Dia tidak pernah memberi aba-aba untuk ini. Dia cukup berpindah — dari 4/4 ke sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang terasa seperti 7/8 tapi berjalan di atas pola yang sebetulnya 13/16, dan entah bagaimana groove-nya tidak hilang. Kick drum-nya masih terasa di tempat yang terasa benar meskipun secara teknis tidak di tempat yang konvensional. Ghost note di snare-nya mengisi celah-celah yang tersisa. Seorang pendengar awam akan mengangguk-angguk mengikuti tanpa tahu kenapa hitungannya terasa ganjil.
Timur adjust langsung, tanpa ragu, karena dia sudah dengar ini puluhan kali dan tetap tidak bisa memprediksi kapan Bram akan melakukannya.
Leon dan Noel juga adjust — tapi cara mereka berbeda. Noel menekan satu nada panjang, membiarkannya bergantung, sementara Leon mulai tapping, percussive, tiga nada pendek yang mengelilingi beat seperti aksen. Sesuatu dari Feng E, tapi lebih berat karena konteks di bawahnya adalah bass yang sedikit menggeram.
Kang Gusep diam.
Ini bukan diam yang tidak nyaman. Ini diam jenis lain — jenis yang muncul waktu seseorang tidak tahu harus bilang apa karena telinganya sedang sibuk.
Tiga menit berlalu. Empat menit. Section tengah masuk — yang 13/8 yang dimaksud Bram tadi — dan di sini Leon mulai memainkan sesuatu yang tidak ada di sana dua minggu lalu: satu phrase pendek dengan aksen flamenco yang sangat tipis, bukan rasgueado penuh, lebih ke sentuhan di senar yang menghasilkan decaying note dengan karakter berbeda. Sementara Noel menahan chord sustain di bawahnya.
Ini yang selalu jadi momen paling tidak terduga. Dan selalu terdengar lebih berat dari yang seharusnya mungkin dari dua ukulele kecil.
Timur menambah sedikit fuzz di lapisan atas bass-nya — preset yang dia beri nama "shoegaze tapi sehat" di Quad Cortex — dan suaranya membengkak sedikit, bukan keras, tapi lebih penuh, seperti ruangan yang tiba-tiba terasa lebih luas dari ukuran fisiknya.
Bram membawa semuanya turun perlahan — bukan dengan crash, tapi dengan cara snare-nya mulai lebih jarang, hi-hat mulai lebih pelan, kick drum mulai lebih dalam jedanya. Seperti sesuatu yang sedang menghela napas.
Mereka selesai di nada yang menggantung. Tidak ada resolusi yang manis. Nada terakhir Leon, satu harmonic di fret tinggi, bergantung di udara selama tiga detik sebelum menghilang.
Hening.
Kang Gusep bertepuk tangan. Satu kali. Keras.
"Edan."
III. RAPAT
"Oke," kata Bram, meletakkan drumstick di snare. "Sekarang rapat."
"Katanya main dulu baru rapat," kata Timur.
"Udah main."
"Baru satu track."
"Cukup untuk pemanasan. Kang Gusep, gimana?"
Kang Gusep masih dalam posisi sedikit condong ke depan dari kursi plastiknya, seperti orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dia kategorikan. Dia menggaruk belakang kepalanya.
"Jujur ya," katanya. "Aku setiap kali denger kalian main, selalu mikir — ini band beneran apa instalasi seni."
"Keduanya," kata Leon.
"Serentak," kata Noel.
"Oke, oke." Kang Gusep meluruskan posisi duduknya, mengeluarkan buku kecil dari saku bajunya. Buku catatan yang sudah bertahun-tahun menemaninya — pinggirnya cokelat, tulisannya campur ballpoint biru dan hitam tergantung pena apa yang dia temukan lebih dulu. "Gig akhir minggu. Venue-nya sudah konfirmasi load-in jam tiga sore. Soundcheck jam lima. Show jam delapan."
"Stage size?" tanya Timur.
"Bilang enam kali empat meter, tapi aku selalu kurang satu meter dari yang mereka bilang."
"Jadi lima kali tiga."
"Kurang lebih."
Timur mengangguk pelan. Menghitung sesuatu dalam kepalanya.
"Aman," katanya akhirnya. "Asal PA-nya decent."
"Kata mereka ada PA baru. Tapi aku belum lihat sendiri."
"PA baru bukan jaminan PA bagus," kata Timur.
"Makanya kita bawa sendiri yang penting-penting," kata Bram.
Kang Gusep mengetuk-ngetuk buku catatannya dengan jari. "Nah, ini yang mau aku bahas. Packing L300-nya. Akhir minggu kemarin cukup mepet — kick drum-nya mau aku taruh di mana itu sempat bikin kepala pusing."
"Kick drum harus di layer pertama," kata Bram. "Horizontal, dikasih padding di kedua sisi."
"Iya, itu aku tau. Tapi kemarin bass amp-nya rebutan posisi sama floor tom."
"Bass amp layer pertama juga," kata Timur. "Sebelah kick."
"Berarti floor tom ke layer dua?"
"Layer dua, sebelah bass."
Kang Gusep mencatat. Tangannya bergerak cepat, tulisannya mungkin hanya bisa dibaca oleh dirinya sendiri dan mungkin oleh orang yang sangat sabar.
"Cymbal bag?"
"Vertikal, di sisi kanan. Jangan ditumpuk," kata Bram.
"Ukulele?" Kang Gusep menatap Leon dan Noel.
"Layer empat. Paling atas," kata Noel.
"Jangan ada yang naruh sesuatu di atas case ukulele."
"Kemarin ada kabel yang nyantol di atas."
"Itu kabelnya Timur."
"Itu bukan kabelku," kata Timur.
"Kita sudah bahas ini," kata Bram.
"Dan belum ada kesimpulannya," kata Leon.
Kang Gusep mengangkat tangan. "Kabel itu kabel hantu. Tidak ada yang punya. Dia ada sendiri. Kita move on."
IV. KANG GUSEP VS QUAD CORTEX
Di sela-sela rapat, Timur mulai mengecek preset Quad Cortex-nya lagi — kebiasaan yang sudah jadi semacam ritual, seperti pilot yang mengecek checklist sebelum terbang meski sudah hafal di luar kepala.
Kang Gusep memperhatikan dari kursinya.
Layar Quad Cortex menyala, penuh dengan block diagram — capture, IR loader, EQ, compressor, delay, reverb, modulation, output routing — semua tersambung dengan garis-garis signal path yang kalau dilihat sekilas terlihat seperti peta jalan tol.
"Itu apaan?" tanya Kang Gusep.
"Neural DSP Quad Cortex," jawab Timur tanpa menoleh.
"Itu... efek?"
"Multi-effects processor. Sekaligus amp modeler, cab simulator, dan interface."
Kang Gusep beranjak dari kursinya, mendekat, dan memandang layar dengan ekspresi yang sangat serius. "Aku pernah benerin mixer 24 channel di ruang rapat bupati, loh."
Timur menoleh sebentar. "Oke."
"Jadi aku ngerti-ngerti dikit soal audio."
"Oke."
"Itu routing-nya gimana?"
Timur menarik napas. Bukan napas yang kesal — lebih ke napas orang yang sedang memutuskan dari mana memulai penjelasan tentang sesuatu yang kompleks kepada seseorang yang antusias.
"Jadi," kata Timur, "bass masuk dari input 1. Sebelum masuk ke chain utama, ada splitter — satu jalur lanjut ke capture Neural yang aku pakai buat amp sim-nya, satu jalur lagi lalu ke octaver block yang posisinya di awal chain biar octave tracking-nya bersih. Dari octaver, dua sinyal — dry dan wet — dimerge lagi ke compressor, terus ke EQ tiga band buat shaping, baru masuk ke amp block. Amp block-nya aku pakai capture custom dari Ampeg SVT yang aku modif sendiri gain structurenya—"
"Sabar," kata Kang Gusep.
Timur berhenti.
"Dari awal lagi. Pelan-pelan."
"Bass masuk dari input—"
"Dari sebelum itu."
Timur diam. "Sebelum bass masuk?"
"Dari... konsepnya dulu. Kenapa butuh sebanyak ini?"
"Karena aku perlu cover frekuensi bass dan gitar sekaligus. Satu orang. Satu instrumen."
Kang Gusep mengangguk lambat. "Oke. Lanjut."
"Jadi ada dua layer suara — yang bawah untuk bass, yang atas untuk gitar. Dua-duanya dari satu Dingwall."
"Oke, itu masuk akal. Terus?"
"Dua layer ini punya routing terpisah di dalam Quad Cortex. Layer bass keluar ke bass amp via output 1. Layer gitar keluar ke guitar amp via output 3. Tapi keduanya juga keluar ke PA via output 2 dengan mix yang berbeda—"
"Output-nya ada tiga?"
"Ada empat. Aku pakai tiga."
Kang Gusep menatap layar lagi. Menatap garis-garis routing yang bersilangan. Menatap nama-nama block yang tercetak kecil di layar sentuh itu.
"Dan ini... kamu atur sendiri?"
"Dari awal, ya."
"...berapa lama?"
"Preset ini?" Timur berpikir sebentar. "Tiga minggu. Ini versi tujuh."
"Versi tujuh."
"Yang sebelumnya kurang clean di frekuensi 800hz."
Kang Gusep mundur satu langkah. Bukan mundur yang dramatis — lebih ke mundur refleks, seperti orang yang baru menyadari dia berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang dia tidak sepenuhnya mengerti.
"Aku," katanya pelan, "benerin mixer 24 channel di ruang rapat bupati."
"Iya."
"Itu... pusing juga waktu itu."
"Quad Cortex beda kategorinya sama mixer, Kang."
"Iya." Kang Gusep mengangguk pelan. "Aku ngerti sekarang." Dia kembali ke kursi plastiknya dengan langkah yang sangat tenang dan sangat bermartabat, duduk, dan menyilangkan tangan. "Kamu yang handle ini sendiri waktu di panggung nanti ya."
"Dari dulu juga gitu, Kang."
"Bagus. Konsisten."
Leon dan Noel saling pandang. Leon menekan tombol kecil di body ukulele-nya. Layar kecil menyala.
"Reverb," kata Leon.
"Delay," kata Noel.
"Chorus."
"Selesai."
Keduanya tersenyum ke arah Timur.
Timur membalas dengan tatapan datar. "Kalian main di band post-math. Kalian seharusnya punya lebih dari tiga parameter."
"Tapi kita ethereal," kata Noel.
"Review Instagram," tambah Leon.
"Aku akan bikin counter-review."
"Silakan. Kita punya dua akun."
---
Bram yang dari tadi memperhatikan semua ini dari belakang drum-nya akhirnya angkat bicara.
"Timur, jelasin ke aku lagi — Quad Cortex vs yang lain. Yang Fractal itu."
Timur menoleh. "FM9?"
"Iya yang itu."
"Kenapa?"
"Penasaran. Kamu pernah bilang Quad Cortex lebih simpel."
Timur mengangguk, tampak senang ada yang mau membahas ini. "Fractal FM9 itu processing power-nya lebih besar. Algorithm-nya beda — lebih mendalam, lebih kompleks. Routing-nya bisa lebih gila lagi. Tapi interface-nya lebih demanding. Buat dapet tone yang aku mau, estimasi waktunya dua kali lipat dibanding Quad Cortex. FM9 itu untuk orang yang mau kontrol absolut dan punya waktu dan kesabaran buat ekplorasi dalam banget."
Bram memperhatikan. Mengangguk.
"Dan Quad Cortex?"
"Lebih cepat ke hasil. Capture technology-nya lebih intuitif. Untuk kebutuhan aku di live setting, lebih efisien."
"Jadi Quad Cortex lebih simpel dari FM9."
"Secara workflow, ya."
Bram diam sebentar. Melirik Quad Cortex yang layarnya masih penuh block diagram. Melirik Kang Gusep yang tadi mundur satu langkah dari alat yang sama itu.
"Timur," kata Bram pelan.
"Ya?"
"Kalau Quad Cortex itu versi simpelnya..."
"Ya?"
"...FM9 itu seperti apa?"
Timur memikirkannya sebentar. "Lebih dalam."
"Lebih dalam dari ini."
"Jauh lebih dalam."
Bram mengangguk sangat pelan. "Oke." Dia mengambil drumstick-nya lagi dan mulai memainkan ghost note di snare, ekspresinya kembali ke mode default: tenang, sedikit hampa, fokus ke ritme sederhana di tangannya sendiri.
Kang Gusep menoleh ke Bram. "Kamu ngerti?"
"Nggak," kata Bram. "Tapi aku udah damai dengan itu."
V. UPDATE MOTOR
"Oh iya," kata Timur di sela mereka semua minum air. "Update motor."
Leon dan Noel langsung tegak.
"Part-nya?" tanya Leon.
"Beberapa udah aku dapetin." Timur menyeruput air mineralnya dengan santai. "Termasuk exhaust. Akrapovic buat MP3-ku udah on the way. Tinggal nunggu shipping."
Kang Gusep mengangguk. "Pak Wardi udah dikabarin?"
"Udah. Dia yang bakal pasang dan tuning."
"Exhaust buat kita gimana?" tanya Noel.
Timur melirik ke arah kembar itu. Satu detik. Dua detik. Ekspresinya tidak berubah tapi ada sesuatu di sudut mulutnya yang hampir jadi senyum.
"Ada."
Leon dan Noel berdiri satu senti lebih tegak dari tadi. Insting kembar yang sangat tajam untuk mendeteksi informasi yang sengaja ditahan.
"Merknya apa?" tanya Leon.
"Surprise."
"Timur."
"Nanti tau sendiri."
"Itu motor kita."
"Dan exhaust-nya aku yang bayarin. Jadi aku yang berhak bikin dramatis kapan ngasih taunya."
Noel berpaling ke Bram. "Bram, dia bisa dipaksa ngomong?"
"Kayaknya nggak," kata Bram. "Dia lebih keras dari kick drum-ku."
"Bram bisa kasih info?"
"Aku nggak tau apa-apa."
"Bohong."
"Serius. Timur ga ngomong apa-apa ke Gue"
Leon kembali ke Timur. "Part lain?"
"Beberapa masih inden di Pak Wardi. Dia yang cari, dia yang handle. Begitu semua dateng, langsung pasang dan tuning sekaligus. Lebih efisien."
"Berarti berapa lama lagi?"
"Tergantung parting-nya."
"Estimasi?"
Timur mengangkat bahu. Bahu yang sangat santai untuk seseorang yang baru saja menginformasi sesuatu yang sangat tidak memuaskan.
"Noel," kata Leon, pelan tapi sangat penuh makna.
"Ya," kata Noel, dengan nada yang persis sama.
Keduanya duduk kembali, serentak, dengan ekspresi yang identik — ekspresi orang yang sudah menerima kenyataan tapi belum sepenuhnya ikhlas.
VI. DRAMA LOGISTIK
"Berarti akhir minggu ini," kata Kang Gusep, menatap catatannya, "kalian berdua," — dia menatap Leon dan Noel, — "numpang L300."
"Iya, Kang."
"Pertama kalinya."
"Iya, Kang."
Kang Gusep menghela napas dengan cara seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum terjadi tapi sudah bisa dia bayangkan dengan sangat detail.
"Baik," katanya. "Aku cuma mau bilang beberapa hal sebelumnya."
"Silakan, Kang."
"Satu. Kabinnya muat tiga orang dengan aman. Jadi soal ruang, tidak ada masalah." Dia mengangkat satu jari. "Tapi kalian berdua itu secara psikologis terasa seperti empat orang."
Leon mengernyit. "Maksudnya?"
"Energinya. Kalian berdua nggak pernah diam."
"Kita pendiam, Kang."
"Kalian pendiam secara verbal. Tapi kalian bisa ngobrol tanpa ngomong dan entah kenapa itu lebih melelahkan."
Noel melirik Leon. Leon melirik Noel. Mereka tidak ngomong apa-apa, tapi sesuatu jelas tersampaikan di antara keduanya.
Kang Gusep menunjuk ke arah mereka. "Itu. Itu yang aku maksud. Itu baru berlangsung dua detik dan aku sudah capek."
Bram tertawa. Dia tidak bisa tidak tertawa untuk ini.
"Bram," kata Kang Gusep, tanpa senyum. "Kamu ikut L300 juga kalau mau."
"Nggak, makasih. Aku naik DR."
"Pengecut."
"Bijaksana," koreksi Bram.
Timur tidak menoleh dari Quad Cortex-nya, tapi satu sudut mulutnya naik sedikit.
Kang Gusep kembali ke Leon dan Noel. "Dua. Jangan bawa jajan banyak-banyak ke kabin."
"Kenapa, Kang?"
"Aromanya nggak kemana-mana di dalam kabin."
"Tapi aromanya enak."
"Aku yang mutusin enak atau enggak. Di kendaraanku." Dia berhenti sebentar. Lalu menoleh ke Timur. "Atau — secara teknis — kendaraan keluargamu."
Timur mengangkat bahu. "Sudah aku serahin ke Kang Gusep. Bebas."
"Iya, dan aku pakai untuk kerja. Makanya aku yang mutusin soal jajan."
"Logis," kata Noel.
"Tiga," lanjut Kang Gusep, kembali ke daftarnya. "Kalian duduk rapi. Sabuk terpasang. Tidak ada kaki di dashboard."
"Kaki kita nggak sampai dashboard, Kang."
Kang Gusep diam sebentar. Menatap postur Leon dan Noel. Memproses informasi ini.
"...benar juga," akuinya. "Oke, poin tiga direvisi: tidak ada tangan di dashboard."
"Kenapa tangan?"
"Karena aku nggak tau kebiasaan kalian dan aku ingin mencegah semua kemungkinan sejak awal."
Leon dan Noel saling pandang lagi — versi yang lebih panjang kali ini.
"Oke, Kang."
"Bagus." Kang Gusep menutup buku catatannya. "Berangkat jam dua siang. Kalian harus sudah siap jam satu lima puluh, karena L300 butuh waktu lebih lama dari motor kalau ada macet."
"Siap."
VII. SEBELUM BUBAR
Mereka main dua track lagi setelah rapat selesai. Yang pertama track lama, yang sudah matang, yang mereka bisa mainkan sambil setengah ngobrol dan hasilnya tetap bagus. Yang kedua track baru lagi — yang masih kasar di section tengahnya, yang ending-nya belum ada, yang Bram masih eksperimen dengan pola kick drum di bar ke-tiga belas.
Kang Gusep mendengarkan keduanya dari kursi plastiknya, buku catatan sudah masuk saku, posisi duduk santai, ekspresi yang sudah kembali ke mode kontemplatif.
Waktu mereka selesai, dia bertepuk tangan lagi. Satu kali. Keras. Seperti tadi.
"Tetap edan," katanya.
"Makasih, Kang," kata Leon.
"Bukan pujian. Observasi."
"Sama aja."
Kang Gusep berdiri, merapikan kursi plastiknya ke sudut ruangan — tindakan yang tidak perlu karena tidak ada yang akan memindahkan kursi itu, tapi dia lakukan karena itu adab — dan mengambil kunci L300-nya dari kantong.
"Aku duluan. Besok aku cek kondisi L300 dulu. Akhir minggu harus bersih dalamnya."
"Emangnya kotor, Kang?" tanya Noel.
"Lantainya ada bekas sol sepatu yang aku nggak tau itu sol sepatu siapa."
Kang Gusep menatap lantai kabin imajiner sebentar, seperti sedang mengingat-ingat. "Dari karet hitam. Ukuran normal. Mungkin dari salah satu kalian waktu loading barang kemarin."
Timur tidak menoleh. "Bukan aku."
"Bram?"
"Aku pakai sepatu putih kemarin, sol putih."
Kang Gusep menatap Leon dan Noel.
"Kita naik taksi kemarin, Kang," kata Leon. "Nggak ikut L300."
Keheningan satu detik.
"Oh." Kang Gusep mengangguk pelan. "Berarti dari aku sendiri."
Tidak ada yang berkomentar. Ini terasa seperti keputusan yang bijak dari semua pihak.
"Tetap akan aku bersihkan," kata Kang Gusep dengan martabat penuh. "Kendaraan harus selalu rapi." Dia melangkah ke arah pintu. "Hati-hati, kabari kalau ada yang berubah jadwalnya."
"Siap, Kang."
Pintu menutup. Suara langkahnya menjauh di lorong.
Tiga detik hening.
"Sol sepatunya sendiri," kata Bram.
"Dan dia tetap mau bersihin," kata Leon.
"Profesional," kata Noel.
Timur menutup case Quad Cortex-nya dengan bunyi klik yang rapi. "Kita beresin kamar dulu. Latihan lagi Rabu?"
"Rabu bagus," kata Bram.
"Aku bisa," kata Leon.
"Aku juga," kata Noel.
Semuanya mulai bergerak — membersihkan kabel, mengecek case instrumen, memastikan tidak ada yang tertinggal — dengan ritme yang tidak ada yang mengkomandoi tapi entah bagaimana tetap terasa teratur. Seperti mereka pernah melakukan ini ratusan kali. Karena memang begitu.
Di luar, sore Jogja mulai keemasan. Dari jendela kamar studio yang kecil itu, cahayanya masuk miring, jatuh di drum kit Bram, memantul samar di layar Quad Cortex yang sudah dimatikan, menyentuh ujung dua hardcase ukulele yang berdiri rapi di sudut.
Satu kamar yang dulunya tidak ada fungsinya.
Sekarang terasa seperti tempat yang sangat spesifik milik empat orang yang suaranya, di atas kertas, tidak seharusnya masuk akal.
- to be continued