Ch. 8 - Obrolan Panjang
Dua ukulele sopranissimo berhenti berbunyi sekitar pukul sembilan.
Bukan karena diputuskan. Jari-jari Leon dan Noel berhenti bergerak seperti jam yang tidak perlu dimatikan karena sudah selesai fungsinya. Suara terakhir bergantung sebentar di udara pantai, lalu angin mengambilnya pergi.
Api unggun sudah rendah tapi belum mati. Cukup untuk cahaya, cukup untuk bayangan empat wajah di pasir gelap.
Bram berbaring miring, kepala di atas lengannya, menatap api. Rokok kedua baru saja dimatikan. Timur duduk tegak seperti selalu — lutut ke atas, tangan di lutut. Leon dan Noel berdampingan, dua sopranissimo diletakkan miring di pasir karena tidak ada yang peduli kalau pasir masuk ke badan kayu lima puluh ribu rupiah.
Hening yang nyaman. Bukan hening yang buntu.
Lalu Noel bersuara.
"Kupang lebih banyak bintangnya dari ini. Tapi ini hampir sama."
Kalimat itu keluar santai, seperti melanjutkan percakapan yang tidak pernah dimulai.
Bram menoleh pelan. "...Kupang?"
"Kami dari sana." Leon menatap ke atas. "Sampai SMP."
Bram diam sebentar — baru menyadari ada chapter panjang sebelum chapter yang dia kenal.
"Baru tahu ini."
"Lo tidak pernah tanya."
"Gue memang tidak tanya banyak hal."
"Iya." Leon melirik. "Kami tahu."
I. ASAL USUL
"Kenapa ke Jogja?" tanya Bram.
"Beasiswa. SMK musik." Leon mengangkat bahu. "Ada program buat siswa dari daerah. Kami daftar, dua-duanya keterima."
"Nilai audisi sama persis?"
"Sama persis."
"Tentu saja." Bram diam sebentar. "Orang tua setuju?"
"Tidak langsung." Noel memeluk lututnya. "Jauh, katanya. Tapi ayah kami bilang — kalau mau pergi, pergi yang benar. Jangan setengah-setengah."
"Dan beliau kasih kalian Monkey Baja."
"Waktu itu bisnis lagi bagus." Noel melihat ke arah gelap di mana motor mereka terparkir jauh di atas. "Jadi ya, dikasih."
"Sekarang?"
Leon dan Noel saling lirik. Pertukaran singkat yang artinya: sampai mana yang mau diceritakan.
"Beberapa tahun lalu, koneksi bisnis ayah kami banyak yang ada di seberang perbatasan," kata Leon. "Setelah batas berubah, jaringannya berbeda. Masih jalan, tapi tidak seluas dulu."
Tidak ada yang bertanya lebih lanjut. Bram dan Timur sudah cukup dewasa untuk tahu kapan seseorang meletakkan kalimat di titik yang tepat.
"Makanya kalian tidak minta apa-apa lagi," kata Bram. Bukan pertanyaan.
"Kami tidak pernah bilang itu," kata Noel.
"Tapi betul?"
Dua detik.
"Betul," kata Leon.
Api unggun crackle sekali. Angin pantai masuk, lalu pergi.
"Ayah lo tahu lo ke Dieng naik motor itu?" tanya Bram.
Leon hampir tersedak napasnya sendiri menahan tawa. "Kalau tahu, kemungkinan besar beliau tidak tidur dua minggu."
"Tapi kalian tetap naik."
"Motor itu dikasih supaya kami bisa pergi ke mana pun kami perlu pergi." Noel mengangkat bahu. "Kami pergi."
Timur, yang dari tadi diam, mengangguk satu kali. Kecil. Tapi ada.
II. NAMA-NAMA
Entah dari mana, Leon bertanya sesuatu yang seharusnya sudah ditanyakan jauh lebih awal.
"Bram. Nama asli lo apa?"
Bram menatap Leon. "Bram."
"Nama penuh."
Jeda.
"Abraham."
Noel menegakkan punggungnya. "Abraham?"
"Abraham."
"Abraham de Vries?"
"Abraham Satria de Vries."
Hening dua detik — jenis hening yang sedang mengolah informasi sambil mencoba tidak terlihat terlalu mengolah informasi.
"Lo orang Belanda," kata Leon, pelan dan sangat terukur. "Nama Abraham. Tinggi seratus delapan puluh tiga."
"Iya."
"Kenapa lo main drum bukan bola?"
Timur, dari sudut api, menunduk sedikit. Bahunya bergerak. Dia menahan sesuatu.
"Siapa tahu masuk timnas," tambah Noel.
"Timnas mana?" tanya Bram datar.
Leon dan Noel saling pandang.
"...dua pilihan ada," kata Leon akhirnya.
"Gue tidak bisa main bola."
"Pernah coba?"
"Pernah. SD kelas tiga."
"Hasilnya?"
"Gue injak kaki orang."
"Disengaja?"
Bram berpikir satu detik terlalu lama untuk membuat jawabannya terasa murni tidak disengaja. "Tidak disengaja. Tapi efektif."
Timur sekarang benar-benar tidak bisa menahan — suara kecil keluar, bukan tawa penuh, tapi cukup untuk membuat Leon dan Noel juga tertawa.
"Satu insiden itu," kata Bram, "dan semua orang sepakat gue lebih baik main drum."
"Lebih aman untuk semua pihak," kata Noel.
"Secara statistik, iya."
Leon masih sedikit tertawa. "Jadi nama lo Abraham tapi lo tidak bisa main bola dan jadi drummer post-math di Jogja."
"Itu rangkuman yang akurat."
"Itu juga rangkuman yang aneh."
"Hidup jarang mengikuti narasi yang paling logis."
Noel mengangguk pelan, seperti menerima kalimat itu sebagai life advice yang legitimate. Lalu dia menoleh ke Timur.
"Lo juga. Kenapa namanya Timur?"
Timur menatap Noel. "Kenapa memangnya?"
"Lo dari Bekasi."
"Iya."
"Jawa Timur juga bukan."
"Betul."
"Dan lo..." Noel melihat Timur dari atas ke bawah dengan cara yang berusaha sehalus mungkin, "...tidak kelihatan seperti orang yang namanya dari arah mata angin."
"Kurang melanin," kata Leon, sangat jujur.
"Itu poin yang valid," kata Timur, sama jujurnya. "Nama itu bukan dari arah mata angin."
"Dari mana?"
"Bahasa Turkic." Timur menyesap kopinya. "Timur artinya besi. Baja."
Satu detik.
Dua detik.
Leon dan Noel menoleh ke satu sama lain dengan kecepatan yang, kalau direkam slow-motion, akan terlihat seperti dua orang yang baru mendapat wahyu bersamaan.
"BAJA," kata Leon.
"MONKEY BAJA," kata Noel.
"Lo dan motor kami namanya sama," kata Leon.
"Secara etimologi, kalian terhubung," kata Noel.
Timur membuka mulut. Menutupnya. Menoleh ke Bram.
Bram menatap balik dengan ekspresi yang sangat datar. "Jangan lihat ke gue. Gue juga tidak mengantisipasi ini."
"Lo dan Monkey Baja kami," kata Leon, masih setengah tidak percaya dengan penemuan ini. "Sama-sama baja."
"Namanya bermakna baja," koreksi Timur. "Itu berbeda dari secara harfiah—"
"Tapi intinya sama."
"Intinya sangat tidak sama."
"Timur." Noel menatapnya dengan serius yang tidak proporsional untuk konteks ini. "Ini keren. Terima saja."
Timur diam. Menatap api. Menatap dua Monkey Baja yang tidak kelihatan dari sini tapi dia tahu ada di sana.
"...baik," katanya akhirnya. Dengan nada orang yang menyerah pada argumen yang tidak bisa dia menangkan bukan karena argumennya lemah, tapi karena lawan bicaranya tidak bermain dengan logika yang sama.
Bram: "Progress."
III. DARI ALMATY
"Jadi buyut lo itu yang datang ke Indonesia?" tanya Leon ke Timur.
"Nurlan. Iya."
"Gimana ceritanya?"
Timur menatap api. Satu tarikan A Mild, diembuskan pelan.
"Era lima puluhan. Indonesia dan Uni Soviet punya hubungan diplomatik yang tidak biasa untuk masa Perang Dingin. Soekarno dekat dengan Moskow. Ada arus pertukaran — delegasi, pedagang, orang-orang yang melihat peluang." Dia jeda. "Nurlan adalah pedagang Muslim Kazakhstan yang punya koneksi ke jalur Asia Tengah ke Asia Tenggara. Dia lihat Indonesia yang baru merdeka, ekonominya sedang tumbuh, butuh barang impor. Dia datang."
"Sendiri?" tanya Noel.
"Sendiri."
"Dari Almaty ke Indonesia. Tahun lima puluhan. Sendiri."
"Iya."
Leon dan Noel saling pandang lagi — tapi kali ini bukan untuk konsultasi batin. Lebih ke dua orang yang sama-sama perlu satu detik sebelum bisa melanjutkan.
"Terus?" kata Leon.
"Menetap di Bekasi. Menikah sama perempuan lokal. Mulai usaha impor kecil-kecilan — koneksi internasionalnya yang jadi modal. Berkembang jadi bisnis yang lumayan." Timur mematikan A Mild-nya di pasir. "Tapi waktu sudah tua, dia balik ke Almaty."
"Balik?"
"Katanya mau mati di tanah sendiri." Timur berkata ini sangat datar, seperti melaporkan hasil rapat. "Dan iya. Dia mati di sana."
"Tapi keluarganya di sini?"
"Keluarganya sudah empat generasi di sini. Cuma dia yang balik."
Hening.
"Jadi lo ke Almaty untuk ketemu dia di sana?" tanya Bram.
"Tiga kali. Terakhir waktu gue tujuh atau delapan tahun." Timur menatap langit sebentar. "Dia yang ajarkan gue ski waktu itu."
Noel menoleh ke Timur. Pelan. "Lo bisa ski?"
"Dulu bisa. Sudah lama tidak."
"Lo bisa ski." Noel mengucapkan ini dengan nada orang yang sedang merekonsiliasi dua informasi yang tidak terduga ada dalam satu orang. "Tapi lo di Jogja. Main bass."
"Iya."
"Bisa ski tapi main bass post-math di Jogja."
"Konteksnya berbeda."
"Kontrasnya keren banget," kata Leon.
Timur diam sebentar. Menatap api. Ada sesuatu yang sedang dia proses — sesuatu tentang Nurlan yang ajarkan ski di Almaty, dan Timur yang sekarang di pantai Gunungkidul, dan jarak antara keduanya yang terlalu jauh untuk diukur dengan kilometer saja.
"Nurlan tidak pernah dengar gue main," katanya akhirnya. "Dia meninggal sebelum gue main musik. Tapi gue rasa..." pause, "...dia orang yang pergi jauh sendirian untuk sesuatu yang dia percaya. Mungkin itu yang nurun."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Lalu Leon berkata, dengan nada yang sangat lugas: "Itu keren banget dan gue tidak tahu cara meresponsnya selain bilang keren banget."
Timur: "Itu sudah cukup."
"Beneran?"
"Beneran."
Bram menatap langit. Tidak menambahkan apa-apa — karena dia sudah tahu cerita ini, dan tahu juga bahwa beberapa hal lebih baik dibiarkan berdiri sendiri tanpa komentar.
"Lo mau balik ke Almaty?" tanya Noel.
"Mau." Satu kata. Sederhana dan final seperti banyak hal yang Timur katakan.
"Kapan?"
"Suatu hari."
"Itu bukan jadwal."
"Itu bukan hal yang butuh jadwal."
Noel mempertimbangkan ini dan, setelah dua detik, mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu, dia menerima jawaban Timur tanpa tindak lanjut.
IV. DARI TANGERANG
"Lo sendiri, Bram?" tanya Leon. "Sebelum Jogja."
"Tangerang."
"Tangerang ke Jogja kenapa?"
"Undip pilihan pertama. Tidak tembus. Pilihan kedua UGM." Bram mengangkat bahu. "Residual benefit: lebih manusiawi dari Jakarta."
"Orang tua di Tangerang?"
"Masih. Ibu orang Tangerang. Ayah—" Bram berhenti satu detik, memilih cara mengatakannya. "Ayah orang Belanda. Den Haag."
Leon menarik napas untuk bicara.
"Jangan," kata Bram.
"Gue belum bilang apa-apa."
"Ekspresi lo sudah bilang."
"Ekspresi gue netral."
"Ekspresi lo tidak pernah netral waktu mau bereaksi terhadap sesuatu."
Leon menutup mulut. Dua detik. "Ayah lo kerjanya apa di sini?"
"Konsultan. Water management. Teknik pengelolaan air dan infrastruktur hidraulik. Ada perusahaan konsultan Belanda yang kontrak jangka panjang sama pemerintah Indonesia untuk proyek pengendalian banjir, drainase, irigasi. Ayah gue salah satu tenaga ahlinya."
Satu detik hening.
"KONSULTAN AIR," kata Noel.
"Profesi itu nyata?" kata Leon.
"Itu," kata Bram, dengan sabar yang sudah sangat terlatih, "adalah salah satu profesi paling kritis di negara dengan masalah banjir kronis. Belanda sepertiga wilayahnya di bawah permukaan laut. Mereka ahlinya. Wajar ada konsultannya di sini."
"Tapi namanya konsultan air—"
"Water management engineer. Hidraulika. Sangat serius dan sangat dibutuhkan."
"Keren banget," kata Noel.
"Lebih keren dari konsultan biasa," kata Leon. "Konsultan air itu kayak konsultan tapi juga sama bumi."
Bram menatap Leon. "Itu bukan deskripsi yang akurat sama sekali."
"Tapi lo ngerti maksudnya."
"Sayangnya iya."
Timur, dari sisinya: "Ayah lo bolak-balik ke Den Haag tiap tahun?"
"Sekali setahun. Urusan kantor pusat, sekaligus ketemu keluarga besar. Kadang bawa kami."
"Lo pernah ke Belanda?" tanya Noel.
"Beberapa kali. Terakhir dua tahun lalu."
Leon menarik lutut ke dadanya. "Rasanya gimana? Ke tempat yang separuh asal lo dari sana tapi lo tidak lahir di sana?"
Bram berpikir sebentar. Pertanyaan ini jarang dia jawab bukan karena tidak ada jawabannya.
"Familiar tapi asing. Kayak buku yang pernah lo baca tapi lupa sebagian plotnya. Lo kenal strukturnya, tapi detailnya sering mengejutkan."
Leon mengangguk pelan. Menyimpan itu di suatu tempat.
Noel menatap api. Pelan dan sangat tenang: "Sama kayak kami di Timor Leste."
Kalimat itu keluar pendek dan bersih. Tidak minta apa-apa. Tapi menempati ruang yang lebih besar dari ukurannya.
Bram mengangguk sekali. Timur tidak bergerak tapi sesuatu di cara dia duduk berubah sedikit.
V. MT. BARRAMUNDI
"Kalian berdua kenal dari kampus?" tanya Leon ke Bram dan Timur.
"Iya," kata Bram.
"Siapa yang duluan?"
Bram dan Timur saling menatap. Jeda yang sangat spesifik.
"Gue yang approach Timur," kata Bram.
"Gue sudah mengamati drumming Bram selama dua minggu sebelum itu," kata Timur.
"Lo tidak pernah bilang ini."
"Tidak perlu bilang."
"Berarti lo sudah tertarik duluan."
"Mengamati bukan berarti tertarik."
"Dua minggu itu lama untuk mengamati seseorang tanpa agenda."
Timur diam sebentar. Poin yang valid. "...gue sedang assess apakah kolaborasi viable."
Noel berbisik ke Leon: "Itu artinya tertarik."
Leon berbisik balik: "Sangat tertarik."
Bram mendengar keduanya. Tidak berkomentar, tapi senyumnya sedikit naik.
"Manggung pertama berapa penonton?" tanya Noel.
"Sembilan," kata Bram.
"Sepuluh," kata Timur.
Leon: "Mana yang benar?"
"Sembilan yang duduk," kata Bram. "Satu berdiri di pintu, tidak masuk tapi tidak pergi."
"Dia menunggu temannya," kata Timur.
"Dia tetap mendengarkan sampai habis," kata Bram.
"Sembilan setengah," simpul Noel.
"Itu tidak ada standarnya," kata Bram.
"Tapi lebih akurat dari dua versi yang ada," kata Noel dengan nada orang yang cukup yakin bahwa dia benar.
"Mereka semua diam sampai kita selesai," kata Bram, nadanya bergeser sedikit. "Di venue kapasitas seratus. Naik panggung, lihat itu, gue pikir malam itu akan menyedihkan."
"Tapi?"
"Tidak satu pun dari sembilan itu pergi sebelum selesai. Tidak banyak tepuk tangan. Tapi diam yang mereka kasih itu..." Bram mengangkat bahu. "Waktu itu ternyata cukup."
Timur mematikan A Mild. "Waktu itu gue bilang ke Bram harus lebih ramai."
"Lebih banyak penonton?" tanya Leon.
"Lebih ramai secara suara. Dua orang tidak bisa isi seluruh frekuensi. Ada yang kosong dan gue tidak bisa terima itu."
"Terus?"
Timur melirik Leon dan Noel. "Ada kompetisi band. Gue dengar ada duo ukulele dari SMK musik yang aransemennya tidak biasa."
Leon menegakkan punggung. "Lo yang cari kami?"
"Gue yang riset kalian. Dua minggu sebelum kompetisi."
"Dan lo tidak bilang ke Bram."
"Dan Bram daftar kompetisi itu tanpa bilang ke gue."
Bram: "Itu benar."
"Jadi kita impas."
Leon dan Noel memproses ini bersamaan. "Jadi kalian berdua bergerak sendiri-sendiri dan kebetulan hasilnya sama?"
"Bukan kebetulan," kata Bram dan Timur, bersamaan lagi.
Keduanya saling lirik — sedikit terkejut jawabannya identik.
"Gue daftar," kata Bram, "karena Mt. Barramundi butuh sesuatu yang lebih dan gue tidak tahu apa. Jadi gue taruh diri di situasi yang bisa membuka kemungkinan itu."
"Gue riset," kata Timur, "supaya waktu kemungkinan itu muncul, gue tidak tidak siap."
Noel mengangguk. "Bram melompat dan berharap ada sesuatu di bawah. Timur sudah tahu ada sesuatu di bawah tapi menunggu Bram yang melompat."
Tidak ada yang membantah.
"Cara kerja kalian dari dulu kayak gini?" tanya Leon.
"Ternyata iya," kata Timur. Dengan nada orang yang baru melihat sesuatu yang sudah lama ada.
"Oh iya," kata Noel tiba-tiba. "Mt. Barramundi. Itu anagram nama kalian berdua kan?"
Timur menutup mata satu detik.
"Dua tahun," katanya ke langit. "Dua tahun baru sadar."
"Kami baru sadar sekarang juga," kata Leon, defensif.
"Kalian beberapa bulan. Gue dua tahun pakai nama itu."
Bram, dengan ekspresi yang sangat datar dan sangat puas: "Gue tunggu berapa lama kalian menyalakan ini."
"Lo sengaja tidak bilang?" tanya Noel.
"Siapa yang mau main di band bernama 'Bram dan Timur'?"
Timur: "Itu memang nama yang jelek."
"Makanya."
VI. KENAPA BEGITU
"Bram," kata Noel.
"Ya."
"Lo orangnya paling teratur di sini. Checklist, sistem, semua harus efektif dan efisien. Tapi lo yang selalu mulai hal paling tidak terencana."
Bram: "Iya."
"Kenapa?"
"Hidup gue di luar band sangat teratur." Bram memutar cangkir kosongnya di pasir. "Kerjaan teratur. Rutinitas teratur. Cara gue makan siang teratur. Kalau semua teratur terus, lama-lama terasa seperti spreadsheet yang jalan sendiri."
"Jadi band ini—"
"Satu-satunya tempat gue bisa tidak logis tanpa konsekuensinya." Bram bilang ini sangat datar, seperti menjelaskan kenapa ban cadangan itu penting. "Jadi gue manfaatkan."
Hening sebentar.
"Itu," kata Leon, "adalah penjelasan paling teratur yang pernah gue dengar untuk kenapa seseorang perlu tidak teratur."
"Gue tidak perlu tidak teratur. Gue perlu ruang untuk tidak teratur."
"Bedanya—"
"Signifikan secara konseptual."
Noel mengangguk pelan. Lalu: "Tapi lo yang teks jam empat pagi 'dieng yuk sekarang'."
"Iya."
"Lo yang daftar kompetisi tanpa bilang siapa-siapa."
"Iya."
"Lo yang bikin studio dari kamar kosong tanpa minta pendapat siapapun."
"Iya."
"Itu bukan orang yang hidupnya teratur, Bram."
"Justru karena teratur di semua hal lain, hal-hal itu bisa terjadi." Bram mengangkat bahu. "Outlet-nya spesifik."
Noel menatap Leon. Leon menatap Noel.
"Outlet-nya juga cukup sering mengganggu tidur orang lain," kata Noel.
"Itu collateral benefit."
"Benefit buat siapa?"
"Buat semua yang akhirnya ikut dan menikmatinya."
Leon terpaksa mengangguk. Karena itu benar. Tidak bisa dibantah.
"Dan lo, Timur?" kata Noel. "Lo kenapa kayak lo?"
Timur memandang Noel. "Maksudnya?"
"Kenapa lo lebih mudah ngasih sesuatu daripada nerima. Kenapa semua lo riset dulu. Kenapa kalau ada yang ramah lo langsung kasih spesifikasi motor."
Bram, sangat pelan: "Noel."
"Kenapa?"
"Itu tiga pertanyaan sekaligus."
"Gue bisa jawab satu per satu." Noel menatap Timur. "Mulai dari yang paling mudah dulu."
Timur menyesap A Mild-nya. Menatap api cukup lama sebelum menjawab.
"Nurlan mulai dari nol di negeri orang. Kakek besar dalam bisnis yang dibangun dari kalkulasi dan kepercayaan yang harus dibuktikan dulu. Ayah gue melanjutkan cara yang sama." Dia jeda. "Di keluarga kami, segala sesuatu punya nilai tukar. Itu bukan cynicism — itu cara bertahan. Cara membangun sesuatu dari tidak ada selama empat generasi."
"Dan lo besar di situ," kata Bram.
"Dan gue besar di situ. Jadi waktu seseorang melakukan sesuatu tanpa ekspektasi, gue selalu cari di mana nilai tukarnya. Kalau tidak ketemu—"
"Lo bingung," kata Bram.
"Gue bingung."
Leon berkata, pelan: "Tapi lo sendiri sering melakukan sesuatu buat orang lain tanpa lo harapkan kembali."
Timur tidak langsung menjawab.
"Knalpot kami. Knalpot Bram. Lo riset semua orang. Lo pilih nama Two Brothers karena filosofinya." Noel mengangkat bahu. "Lo lebih sering tulus dari yang lo sadari. Lo cuma tidak tahu cara menerimanya balik."
Timur memandang Noel cukup lama.
"Gue perlu waktu memproses kalimat itu."
"Santai." Noel menunjuk ke sekeliling. "Kita di pantai. Tidak ada deadline."
VII. SAMA-SAMA
"Timur," kata Leon.
"Ya."
"Kami mau bilang makasih soal knalpot Two Brothers. Beneran." Leon berhenti sebentar. "Bukan cuma knalpotnya. Soal lo ngerti tanpa kami harus jelasin."
Diam.
Timur menatap api. Tidak bergerak. Leon dan Noel menunggu.
Akhirnya Timur menoleh ke Bram.
"Lo dulu gimana kalau ada orang yang bilang terima kasih. Tulus. Tanpa ada yang perlu dibalas."
Bram membutuhkan satu detik untuk memastikan dia mendengar dengan benar. "Lo sedang konsultasi ke gue soal cara menerima terima kasih?"
"Gue tidak tahu harus ngapain."
"Lo bilang sama-sama."
"Sama-sama artinya apa di sini?"
"Artinya: gue acknowledge, gue tidak awkward, kita lanjut."
Timur memproses ini dengan sangat serius. "Tapi itu tidak sepenuhnya mencerminkan—"
"Timur."
"Ya?"
"Dua kata. Coba."
Timur menatap Leon dan Noel. Hening dua detik.
"...sama-sama."
Terdengar seperti seseorang yang baru mengucapkan kata dalam bahasa asing yang fonetiknya familiar tapi konteksnya belum tertanam sepenuhnya.
Leon menahan senyum. Berhasil. Tapi hanya sebagian.
"Itu susah ya buat lo?"
"Tidak susah. Tidak familiar."
Bram menyalakan Marlboro Gold ketiga. "Untuk catatan — gue juga tidak mulus. Gue biasanya langsung convert jadi tindakan. Seseorang bilang makasih, gue langsung cari hal berikutnya yang bisa dikerjakan."
"Melarikan diri ke produktivitas," kata Timur.
"Lebih terhormat dari bingung diam."
"Sama aja tidak tahu cara berada di momen itu."
Bram dan Timur menatap satu sama lain.
Dua orang yang baru saling mendiagnosis dengan cukup akurat — dan keduanya tidak sepenuhnya nyaman dengan diagnosanya, tapi tidak ada yang bisa membantah.
Kemudian sesuatu melintas di sisi api.
Kepiting kecil. Ukuran kepalan tangan. Berjalan sangat serius ke arah yang tidak ada urusannya dengan siapapun di sini.
"KEPITING," kata Leon.
Semua orang menoleh.
Kepiting itu berhenti. Merasakan ada sesuatu. Lalu berjalan lagi dengan gaya yang mengkomunikasikan bahwa dia tidak peduli dengan siapapun di pantai ini.
"Kecil banget," kata Noel.
"Tapi serius," kata Leon.
"Sangat serius. Lihat jalannya."
"Seperti dia punya meeting."
Kepiting menghilang ke kegelapan di luar jangkauan api.
Empat orang memandang ke arah kepiting yang sudah tidak ada.
Tiga detik hening.
"...tadi kita lagi ngomongin apa?" kata Bram.
"Lo dan Timur yang tidak bisa menerima ketulusan," kata Noel, langsung dan tanpa jeda.
Bram: "Oh iya."
Timur: "Iya."
Leon: "Kami bantu kalian."
Bram: "Caranya?"
Leon berpikir. "Mulai malam ini, kalau ada yang tulus bilang sesuatu ke lo, jangan langsung kabur ke tindakan. Diam dulu dua detik. Biarkan mendarat."
Bram mempertimbangkan ini. "Dua detik itu lama."
"Dua detik itu normal."
"Tergantung konteksnya."
"Bram." Leon. "Dua. Detik."
"...oke."
Noel menoleh ke Timur. "Dan lo, kalau bingung, boleh konsultasi. Tapi bukan ke Bram saja."
"Kenapa bukan ke Bram?"
"Karena Bram juga sama bingungnya, dia cuma lebih cepat menyembunyikannya."
Bram membuka mulut. Menutupnya lagi. Poin yang tidak bisa dibantah.
"Ke kami juga bisa," kata Leon. "Kami tidak selalu punya jawaban yang benar, tapi kami selalu punya jawaban."
Timur menatap keduanya. Dua detik.
"Sama-sama," katanya. Lebih natural dari sebelumnya.
VIII. SOAL MUSIK DAN YANG DIKEJAR
"Kalian mau band ini jadi apa?" kata Leon.
Bram menatap langit. "Gue mau lihat seberapa jauh ini bisa pergi kalau kita tidak sengaja membatasinya."
"Timur?"
Timur diam sebentar lebih lama. Lalu:
"Gue mau suara kita tidak bisa ditiru." Pintu yang biasanya setengah terbuka, sekarang dibuka penuh beberapa detik. "Banyak yang bisa mainkan apa yang kita mainkan secara teknis. Tapi kombinasi ini — cara kita melakukannya — harusnya tidak bisa di-replicate. Itu yang gue kejar."
"Itu idealis," kata Leon.
"Itu standar."
"Standar dan idealis bisa ada di tempat yang sama."
Timur membuka mulut. Menutupnya. Menoleh ke Bram.
"Lo bilang apa tadi ke gue?"
Bram, dengan sabar: "Itu analisis paling Timur yang pernah gue dengar dari lo."
"Itu bukan pujian."
"Tapi lo menerimanya sebagai pujian," kata Noel, sangat datar.
Timur: "..."
Bram: "Dia belajar cepat."
Leon ke Noel: "Kita yang ajarkan."
Noel: "Tadi."
Timur menghela napas — bukan napas yang kesal, lebih ke napas orang yang mulai terbiasa berada di tengah-tengah sesuatu yang tidak sepenuhnya dia kendalikan. "Gue tidak biasa membiarkan orang tahu itu cara gue berpikir tentang musik. Karena kalau orang tahu standarnya, mereka juga tahu kapan standar itu tidak tercapai."
Tidak ada yang menjawab langsung.
Angin laut masuk — lebih kuat dari sebelumnya. Api miring sebentar, lalu kembali.
"Itu," kata Noel pelan, "kalimat yang tidak gue sangka keluar malam ini."
"Banyak yang tidak disangka malam ini," kata Leon.
Timur tidak menyangkal.
IX. SEBELUM TIDUR
Api sudah sangat rendah. Bara masih ada — oranye redup di bawah abu putih.
"Bram," kata Leon.
"Ya."
"Lo appreciation-nya gimana ke orang? Tadi lo bilang lo tidak sering memuji."
"Iya."
"Tapi lo pasti punya."
Bram menatap Leon. Lama. "Ini jebakan."
"Ini bukan jebakan."
"Ini pasti jebakan."
"Tidak ada yang menjebak siapapun. Pantai. Jam segini. Tidak ada yang direkam."
Leon mengangkat dua tangan, menunjukkan tidak ada HP. Noel juga. Dengan ekspresi yang lebih meyakinkan karena memang tulus.
Bram menghela napas. Menatap langit sebentar. Lalu duduk dari posisi berbaringnya.
"Timur." Dia menatap Timur. "Lo yang paling konsisten dari semua orang yang pernah gue kenal. Bukan karena lo tidak berubah — tapi karena cara lo berubah selalu dari dalam, tidak karena tekanan luar. Itu langka."
Timur tidak langsung menjawab. Ada satu gerakan kecil di rahangnya — jenis gerakan yang orang buat ketika menelan sesuatu yang tidak mereka antisipasi.
"Sama-sama," kata Timur. Kali ini tanpa jeda panjang.
Bram menatap Leon dan Noel.
"Kalian." Dia berhenti sebentar. "Kalian naik motor kecil ke Dieng tanpa tahu apa yang menunggu. Dan kalian sampai. Dan mesin lama itu kalian simpan bukan karena nilainya, tapi karena dia sudah ikut perjalanan itu." Bram mengangkat bahu — tapi bahu yang mengangkat itu tidak seringan gerakannya. "Itu cara berpikir yang gue tidak punya. Dan gue rasa gue perlu sekali-sekali pinjam."
Leon dan Noel diam.
Ini salah satu momen di mana keduanya tidak merespons bersamaan — karena masing-masing sedang menerima sesuatu secara individual, dan timing individual mereka tidak identik untuk hal ini.
"Makasih, Bram," kata Leon.
"Makasih, Bram," kata Noel, setengah detik kemudian.
Bram berbaring kembali. "Tidak perlu dibalas."
Leon membuka mulut.
"Tidak perlu."
Leon menutup mulut. Tapi sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di sana.
Noel menoleh ke Timur. "Lo mau balas ke Bram?"
Timur mematikan A Mild terakhirnya. "Gue sudah tahu cara Bram appreciate sesuatu. Dia buat checklist. Dia prepare tiga puluh menit lebih awal. Dia simpan dua termos di tas dan kasih ke Kang Gusep tanpa bilang apa-apa." Pause. "Gue tidak butuh kata-kata dari dia."
Bram menatap langit. Tidak menjawab.
Tapi ada sesuatu di cara dia menatap langit yang sedikit berbeda dari tadi.
Satu menit berlalu dalam diam yang sangat berbeda dari diam di awal malam.
Lalu Leon mengeluarkan HP-nya.
"JANGAN," kata Bram dan Timur bersamaan, tanpa menoleh.
"Foto bintangnya—"
"LEON."
HP ditaruh. Dua detik. Tangan bergerak lagi ke arah HP.
"MASIH LEON."
HP kembali ke pasir. Leon bertahan lima detik penuh sebelum tangannya bergerak lagi.
Noel menepuk punggung tangan Leon pelan. Seperti orang tua yang menahan anaknya dari mengambil kue sebelum makan malam.
"Nanti," kata Noel.
Leon menarik napas panjang seperti seseorang yang baru selamat dari sesuatu. "Oke."
Timur menatap Bram. Bram menatap balik.
"Dua orang," kata Bram pelan.
"Energi empat," kata Timur, juga pelan.
Dari sudut pasir, Leon: "Kami dengar itu."
Tidak ada yang menjawab. Tapi Timur, untuk pertama kalinya malam itu, tersenyum — tipis, kecil, tapi ada, dan di cahaya bara api terakhir itu cukup terlihat.
---
Satu per satu mereka bergerak ke tenda.
Timur berdiri pertama. Sopranissimo Leon dan Noel masih di pasir — dia lewat ke sana, mengambil keduanya, meletakkannya rapi di dekat tenda kembar. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang mengomentari.
Leon melihat. Tidak berkata apa-apa.
Bram bangkit terakhir. Memastikan bara sudah aman.
Di tenda masing-masing, dalam gelap dan suara ombak Selatan, malam itu settle dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan.
Tidak ada yang berubah secara dramatis. Tidak ada resolusi besar, tidak ada janji yang diucapkan. Hanya empat orang yang duduk di depan api dan berbicara sampai api yang memutuskan sudah waktunya selesai.
Tapi ada sesuatu yang bergeser.
Sesuatu tentang Bram yang sekarang diketahui bahwa hidupnya terlalu teratur untuk tidak sesekali membutuhkan kekacauan — dan kenyataan itu tidak membuatnya lebih kecil, justru sebaliknya.
Sesuatu tentang Timur yang untuk pertama kalinya di depan orang lain mengatakan apa yang dia kejar, bukan apa yang dia kerjakan.
Sesuatu tentang Leon dan Noel yang malam itu berbicara lebih banyak dari biasanya, tentang hal-hal yang biasanya disimpan — dan tidak ada yang meminta mereka berhenti.
Di grup WhatsApp "burnt memorial (jangan baperan)", tidak ada yang kirim pesan malam itu.
Tidak perlu.
---
Pagi harinya, jam enam kurang sepuluh, Bram keluar dari tenda lebih dulu.
Langit sudah terang di timur — bukan matahari penuh, tapi cahaya awal yang membuat garis pantai jadi kuning pucat.
Timur sudah ada di batu yang sama seperti semalam. Tidak ada rokok. Tidak ada HP. Hanya duduk menghadap laut — punggung tegak seperti selalu, tapi ada sesuatu di cara dia menatap laut yang berbeda dari cara dia menatap sesuatu di kota.
Bram berdiri di sampingnya beberapa detik. Menatap ke arah yang sama.
"Tidur?" tanya Bram.
"Cukup."
Bram duduk di batu yang lain. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Dua orang. Sunrise yang belum penuh. Ombak Selatan yang tidak meminta izin.
Dari tenda kembar, terdengar satu chord sopranissimo — sember, sedikit fals, sangat konsisten dengan dirinya sendiri. Berhenti. Kemudian dua chord. Kemudian sesuatu yang mulai membentuk melodi.
Bram menatap laut. "Kemarin malam."
"Ya," kata Timur.
"Banyak."
"Ya."
Dua kata. Cukup.
Di pantai yang tidak ada warungnya, di bawah langit Gunungkidul yang tidak perlu filter, empat orang dari satu band yang di atas kertas tidak seharusnya bisa berdiri memulai pagi hari dengan cara yang tidak ada yang rencanakan — tapi entah bagaimana terasa persis seperti yang seharusnya.
— BURNT MEMORIAL: CHAOS ON WHEELS, PART 8 SELESAI —