Ch. 1 - Prologue: Chaos on Wheels
Titik Kumpul: Chaos Pertama
Pukul 07.00 pagi, parkiran minimarket jadi saksi bisu pemandangan paling absurd sepanjang sejarah turing Indonesia.
Bram datang pertama. Suzuki DR800S Big-nya mengaum pelan tapi berwibawa, kayak harimau yang lagi nguap. Dia turun dengan anggunnya — 183 cm, kaki langsung menapak sempurna, bahkan sedikit menekuk. Helm full-face-nya dipasang miring sedikit, gaya orang yang udah tau dia kelihatan keren. Darah Belanda itu emang ga bisa bohong — bahkan cara dia standar motornya aja kayak adegan film.
Timur datang kedua. Suara motor tiga roda itu beda dari kejauhan — wrrr... wrrr... — kayak suara mesin cuci yang lagi ngepret. Piaggio MP3 Yourban-nya meluncur mulus. Begitu berhenti, sistem pengunci otomatis tiga rodanya langsung klik, berdiri sendiri kayak meja.
Bram menatap. Lama.
"Timur... itu motor apa becak listrik?"
Timur turun dengan tenang, lepas helm, sisir rambut. "Motor tiga roda. Stabil. Aman. Dewasa."
"Dewasa katanya. Nenek-nenek ke pasar juga pake yang kayak gitu."
"Nenek-nenek ga bisa main bass kayak gue."
Sebelum Bram bisa balas, dari kejauhan terdengar suara... pret-pret-pret-pret-pret — kayak dua ekor tawon yang lagi marahan.
Leon dan Noel tiba. Beriringan. Kompak. Di atas dua Honda Monkey lawas seri baja, seat height 578mm, yang ukurannya secara visual tampak seperti mainan yang entah kenapa punya STNK sungguhan.
Keduanya berhenti. Kaki mereka — dengan tinggi 153 cm — menapak tanah dengan sangat nyaman. Bahkan terlalu nyaman. Dengkul mereka hampir menyentuh setang.
Hening sejenak di parkiran itu.
Bram menatap DR800S-nya. Menatap Monkey mereka. Menatap lagi DR800S-nya.
"Kalian... serius?"
"Serius apanya?" jawab Leon dan Noel bersamaan, lalu saling tatap, lalu ketawa.
Di Jalan: Formasi yang Mencurigakan
Konvoi pun berangkat dengan formasi yang — kalau dilihat dari drone — bentuknya kayak lelucon:
• Depan: DR800S Bram, tinggi, gagah, ground clearance hampir setinggi pinggang orang normal.
• Tengah: MP3 Yourban Timur, tiga roda, duduk santai kayak lagi di sofa.
• Belakang: Dua Honda Monkey, pret-pret-pret, berjuang heroik.
Di jalan lintas, situasi mulai kacau.
DR800S Bram dengan gampangnya tembus 120 km/jam. Timur dan MP3-nya ikut di 100 km/jam, masih santai. Leon dan Noel? Mereka nge-gas pol. Full throttle. Semua doa dipanjatkan.
Speedometer Monkey: 85 km/jam.
Angin dari truk gandeng yang nyalip nyaris menerbangkan mereka berdua. Motor kecil mereka oleng sedikit — tapi simetris, karena mereka kembar dan instingnya sama.
Walkie-talkie (mereka emang bawa, karena ga ada yang mau repot pairing Bluetooth) berbunyi:
"Bram, pelan dikit!" — Leon.
"Bram, pelan dikit!" — Noel, 0.3 detik kemudian.
"Kalian kayak echo," kata Bram, tapi dia melambat juga.
Rest Area: Insiden Parkir
Di rest area, Bram parkir DR800S-nya. Motor itu berdiri gagah. Orang-orang noleh. Satu bapak-bapak bahkan foto-foto.
Timur parkir MP3-nya. Sistem tiga roda otomatis terkunci, berdiri sendiri. Tanpa standar samping, tanpa standar tengah. Timur turun, masukkan tangan ke saku, jalan ke warung kopi.
"Mantap sih sebenernya," gumam Bram, ga rela ngaku.
"Gue tau," kata Timur tanpa menoleh.
Leon dan Noel parkir Monkey mereka di pojok. Dua satpam langsung menghampiri.
"Mas, maaf, ini area parkir motor. Untuk sepeda di sebelah sana."
Leon: "Ini motor, Pak."
Satpam menatap Honda Monkey. Menatap Leon. Menatap lagi Honda Monkey.
"Platnya asli?"
Noel ngeluarin STNK. Satpam baca. Baca lagi. Manggut-manggut pelan, pergi tanpa komentar lebih lanjut.
Makan Siang: Satu Meja, Empat Dunia
Di warung soto pinggir jalan, mereka duduk berempat.
Bram duduk di kursi plastik yang langsung protes dengan cara melengkung dramatis. Kakinya kepanjangan, lututnya hampir nyentuh dagu.
Timur duduk sempurna. Postur tegak. Ekspresi flat.
Leon dan Noel duduk di kursi yang sama tingginya dengan mereka — kaki mereka ayun-ayun ga nyentuh lantai.
"Jadi," kata Bram sambil nyruput es teh, "secara teknis, kalian bawa motor apa bawa vespa anak-anak?"
"Honda Monkey," jawab Leon.
"Seri baja," tambah Noel.
"Legendaris," kompak.
"Kalian beli di toko mainan?"
"Kalian beli celana di toko tenda?" balas Leon.
Bram diam. Poin valid.
Timur meletakkan sendok. "Gue mau kasih tau kalian sesuatu. Di jalan tadi, waktu kalian pada ribut soal kecepatan, gue udah pesen kopi di sini via ojol dari atas motor. Sambil jalan. Tanpa pegang setang. Tiga roda, bos."
Semua diam.
"...Itu ilegal," kata Bram akhirnya.
"Dan keren," kata Leon.
"Dan keren," kata Noel.
Timur angkat cangkir. "Cheers."
Sore: Gerimis dan Keadilan Alam
Hujan ringan turun mendadak.
Bram langsung waspada — DR800S-nya tinggi, ban dual-purpose, jalan basah minta respek.
Leon dan Noel menepi panik — Monkey kecil mereka di jalan basah berasa kayak sabun di ubin kamar mandi.
Timur?
Timur tetap jalan. MP3 Yourban dengan tiga titik kontak-nya stabil seperti biasa di aspal basah. Dia bahkan sempat kibas-kibasin tangan ke kamera GoPro yang dipasang di dada, gaya selebriti.
Dari balik jas hujan, suara walkie-talkie:
"Bram, ini gue salah apa beli motor tiga roda?" — Timur.
"...Diem lo." — Bram.
"Gue mau beli Monkey juga," — Timur.
"Gue udah punya," — Noel.
"Bukan buat turing. Buat hiasan." — Timur.
"Hei!" — Leon.
Sampai Tujuan
Mereka tiba menjelang magrib. Venue sudah ramai, roadies sudah set up semua instrumen.
Empat motor diparkir di belakang panggung berdampingan:
DR800S yang gagah. MP3 yang ganjil tapi percaya diri. Dua Monkey yang imut tapi bernyawa.
Panitia yang menyambut mereka menatap parkiran itu lama sekali.
"Ini... band-nya dateng semua?"
"Semua," jawab Bram.
"Yang mana drummernya?"
Bram angkat tangan.
"Oh. Saya kira yang naik motor gede itu manager."
Bram menghela napas panjang.
Di sudut lain, Leon dan Noel sedang foto-foto sama Honda Monkey mereka untuk Instagram, dengan caption yang sudah mereka diskusikan sejak di rest area:
"Small bike, big stage. 🐒🎸"
Timur duduk di atas MP3-nya yang terkunci stabil, minum kopi sachetan, menatap senja.
Sempurna, pikirnya. Tiga roda. Satu vibe.
— Tamat (sementara, sampai turing berikutnya) — 🏍️🛵🐒🐒