Ch. 2 - Jogja-Dieng dan Segala yang Tak Terencana

05.43 — Parkiran Angkringan, Jogja
Ide ini muncul dari Bram.
Bukan ide yang matang. Bukan ide yang direncanakan. Bram bangun jam empat pagi karena tidak bisa tidur, buka WhatsApp grup "burnt memorial (jangan baperan)", dan ketik:
"dieng yuk. sekarang."
Timur, yang memang tidak pernah benar-benar tidur malam, balas dalam tiga detik:
"oke."
Leon dan Noel baru balas dua puluh menit kemudian, bersamaan, dengan pesan yang identik:
"oke."
"oke."
Tidak ada diskusi. Tidak ada persiapan. Tidak ada pengecekan cuaca. Empat orang, empat motor, satu tujuan kabur.
Mereka kumpul di parkiran angkringan langganan mereka di bilangan Kota Gede. Masih gelap. Lampu jalan oranye. Asap kopi dari termos plastik. Bram sudah di sana duluan, duduk di atas DR800S-nya yang besar dengan jaket tebal dan ekspresi orang yang tahu ini keputusan bodoh tapi tidak menyesal.
Timur datang kedua. MP3 Yourban-nya meluncur senyap, berhenti, klik — berdiri sendiri tanpa kickstand seperti biasa. Dia turun, tangan masuk saku, napas keluar jadi uap putih tipis di udara pagi.
"Dingin," kata Timur.
"Ini masih Jogja," jawab Bram.
"Makanya kubilang dingin."
Dua menit kemudian, dari kejauhan, terdengar suara khas dua Honda Monkey Baja: pret-pret-pret-pret — seperti dua ekor tawon yang baru bangun dan belum mood. Leon dan Noel tiba beriringan, buzz cut mereka basah sedikit entah karena embun atau belum sempat lap muka. Keduanya turun dari motor masing-masing, kaki menapak sempurna di aspal, dan langsung menghampiri termos kopi di warung.
"Bawa jaket tebal?" tanya Bram.
Leon dan Noel saling tatap.
Diam.
"Dieng itu dua ribu meter lebih," kata Bram.
Lagi-lagi diam.
"Kalian bawa jaket apa yang sekarang dipake?"
"Yang sekarang dipake," jawab Noel.
Bram menghela napas. Timur mengeluarkan uang dan memesan kopi tambahan tanpa komentar. Ada toko jaket di Magelang. Nanti saja.

06.15 — Jogja ke Magelang: Babak Pertama Kesenjangan
Konvoi berangkat saat langit baru mulai abu-abu.
Formasi seperti biasa: DR800S di depan, MP3 Yourban di tengah, dua Monkey Baja tertatih di belakang. Di jalan Jogja-Magelang yang masih sepi, Bram melaju nyaman di 100 km/jam. Timur ikut tanpa masalah. Leon dan Noel — full throttle, semua doa.
Speedometer Monkey Baja: 82 km/jam.
Mereka tertinggal.
Bukan tertinggal parah. Tapi cukup untuk membuat mereka terlihat seperti dua titik merah-putih kecil di cermin spion Bram yang semakin mengecil.
Walkie-talkie berbunyi — mereka memang masih pakai walkie-talkie karena tidak ada yang mau setup Bluetooth:
"Bram, lelet dikit." — Leon.
"Bram, lelet dikit." — Noel, 0.4 detik kemudian.
Bram melambat ke 75. Timur sudah di 75 dari tadi, karena dia tidak pernah terburu-buru. Ketenangan Timur di atas motor adalah ketenangan orang yang sadar tiga rodanya tidak akan jatuh.
Di Muntilan, mereka berhenti sebentar di SPBU. Bram turun dari DR800S, kaki hampir-hampir menyentuh aspal sepenuhnya. Timur beli air mineral. Leon dan Noel mengisi bensin Monkey Baja mereka — masing-masing butuh waktu dua menit karena tangkinya memang kecil sekali.
Petugas SPBU menatap dua Monkey Baja itu cukup lama.
"Ini motor beneran, Mas?"
"Beneran," jawab Leon.
"SIM-nya ada?"
"Ada," jawab Noel.
Petugas manggut-manggut, kembali ke pos jaga dengan langkah orang yang baru melihat sesuatu yang tidak ingin dia proses terlalu dalam.

07.30 — Magelang: Insiden Jaket
Magelang masih pagi ketika mereka tiba. Udara sudah sedikit berbeda — lebih bersih, sedikit lebih dingin. Dari kejauhan, siluet Merapi masih malu-malu di balik kabut tipis.
Mereka mampir ke toko perlengkapan motor di pinggir jalan. Leon dan Noel perlu jaket. Bram yang sarankan tempatnya karena dia pernah beli ikat kepala di sini waktu tur band sebelumnya.
Masalah pertama: stok jaket.
Ukuran L tersedia. Ukuran M tersedia. Ukuran XL tersedia.
Ukuran yang pas untuk long torso dengan overall tinggi 153 cm?
Kompleks.
Leon coba jaket ukuran M — lengannya pas, tapi bagian torso terlalu pendek. Perutnya kelihatan sedikit.
Coba ukuran L — torso pas, tapi lengannya melewati jari-jari.
Coba ukuran M lagi, beda model.
Bram duduk di kursi plastik, melihat proses ini dengan sabar. Timur sudah keluar, minum kopi dari warung sebelah.
Dua puluh menit kemudian, Leon dan Noel keluar dengan jaket yang sama persis — satu-satunya ukuran yang cocok untuk torso panjang mereka adalah jaket wanita ukuran L, dengan cutting yang kebetulan lebih panjang di bagian badan.
"Ini jaket cewek," kata Bram.
"Hangat," kata Leon.
"Sama aja," kata Noel.
Timur menatap dua jaket identik itu. Menatap Leon. Menatap Noel. "Jadi kalian sekarang bener-bener ga bisa dibedain."
"Emang dari dulu," jawab mereka bersamaan.

08.45 — Magelang ke Temanggung: Jalan Mulai Naik
Keluar Magelang, karakter jalan mulai berubah.
Jalan nasional Magelang-Temanggung adalah salah satu jalan paling enak di Jawa Tengah — mulus, lebar, dan mulai meliuk mengikuti kontur tanah yang perlahan naik. Di kanan-kiri, kebun tembakau berjejer rapi. Udara makin segar. Kabut di ceruk-ceruk lembah belum sepenuhnya pergi.
Bram di depan, DR800S-nya makan tikungan dengan tenang. Suspensi panjang motornya menyerap ketidaksempurnaan aspal tanpa drama. Ban dual-purpose-nya cengkeram mulus. Ini habitat aslinya.
Timur di tengah. MP3 Yourban-nya, yang di kota terasa sedikit aneh dengan tiga rodanya, di jalan berliku justru menunjukkan karakter aslinya — sistem parallelogram-nya membuat motor bisa miring di tikungan seperti motor biasa, tapi dengan stabilitas yang jauh lebih tinggi. Timur menikung dengan santai, dua roda depannya mencengkeram aspal dari dua titik sekaligus.
Leon dan Noel? Mereka menikmati jalan ini dengan caranya sendiri. Monkey Baja mereka, dengan suspensi pendek dan wheelbase mini, terasa setiap detail permukaan aspal langsung ke pantat. Tapi mereka tidak mengeluh. Mereka tidak pernah mengeluh soal motor — mungkin karena bench mark kenyamanan mereka memang rendah dari awal.
Di satu tikungan yang sedikit menanjak, sebuah pick-up tua menyalip mereka dengan kecepatan rendah.
Lalu sebuah angkot.
Lalu seorang ibu-ibu di atas motor bebek dengan keranjang belanja penuh sayuran.
Leon dan Noel menatap ibu-ibu itu berlalu.
"Pret-pret-pret-pret."
Walkie-talkie: "Ibu tadi lebih kenceng dari kita di tanjakan." — Noel.
Tidak ada yang menjawab. Bram dan Timur menganggap itu bukan sesuatu yang perlu dikomentari demi menjaga perasaan.

10.00 — Temanggung: Kopi dan Kontroversi Kecil
Temanggung adalah kota kopi. Mereka berhenti di warung kopi pinggir jalan yang kursinya sudah penuh bapak-bapak dengan rompi dan wajah masing-masing.
Kopi robusta Temanggung datang dalam cangkir kecil, hitam, kental, pahit dengan cara yang menyenangkan. Bram minum dua. Timur minum satu tapi pelan. Leon dan Noel minta kopi susu karena robusta murni membuat jantung mereka merasa kompetitif.
Di warung itu, seorang bapak berbadan besar dengan motor trail besar memperhatikan parkiran mereka sejak tadi.
"Itu motornya buat turing, Mas?" tanyanya ke Bram, menunjuk DR800S.
"Iya, Pak."
"Dari mana?"
"Jogja. Mau ke Dieng."
Bapak itu manggut-manggut kagum. Lalu matanya berpindah ke MP3 Yourban. Ekspresinya berubah sedikit.
"Itu..." dia ragu.
"MP3 Yourban," kata Timur tanpa diminta, tanpa menoleh dari cangkir kopinya.
"Tiga roda ya?"
"Tiga roda."
"Buat turing juga?"
"Buat turing juga."
Bapak itu manggut lagi, kali ini lebih pelan. Lalu matanya berpindah ke dua Honda Monkey Baja di pojok parkiran. Lama sekali dia menatapnya.
"Itu... anak-anak punya?"
"Saya," jawab Leon.
"Saya juga," jawab Noel.
"Mau ke Dieng juga?"
"Mau ke Dieng juga," jawab keduanya bersamaan.
Bapak itu menyeruput kopinya. Meletakkan cangkir. Menatap ke arah jalan yang memanjang ke utara — ke arah Wonosobo, ke arah tanjakan panjang menuju Dieng.
"Hati-hati ya, Mas."
Nada suaranya adalah nada suara orang yang sudah melihat banyak hal di hidupnya dan memilih untuk tidak bicara lebih jauh.

11.30 — Temanggung ke Wonosobo: Tanjakan Sesungguhnya
Keluar Temanggung, tanjakan mulai serius.
Jalan Temanggung-Wonosobo adalah jalan yang cantik dan tidak ramah secara bersamaan. Naik terus, meliuk, kadang sempit, dengan pemandangan lembah dan gunung yang membuat orang lupa bahwa mereka harusnya fokus ke jalan.
Bram di depan. DR800S-nya naik tanjakan seperti orang dewasa naik tangga — stabil, tidak terburu-buru, tidak kehabisan napas.
Timur di tengah. MP3 Yourban-nya sedikit lebih berjuang di tanjakan panjang dibanding di jalan datar, tapi masih sangat terkontrol. Timur tidak mengubah postur atau ekspresinya sama sekali.
Leon dan Noel di belakang.
Di sinilah fisika berbicara jujur.
Honda Monkey Baja dengan mesin kecilnya, di jalan datar bisa diajak bermartabat. Di tanjakan panjang, mesinnya mulai bicara dengan dialek yang berbeda — suaranya berubah dari pret-pret yang riang menjadi ngeeeng yang lebih serius dan sedikit cemas.
Kecepatan mereka turun ke 40 km/jam.
Lalu 35.
Sebuah truk sayuran tua yang knalpotnya menghitam menyalip mereka di tanjakan. Supir truk itu melihat ke samping, melihat dua Monkey Baja kecil berjuang di pinggirnya, dan memberikan anggukan yang — entah kenapa — terasa seperti anggukan penuh simpati.
Walkie-talkie: "Bram, truk itu lebih kenceng." — Leon.
"Dan lebih berat," tambah Noel.
"Apresiasi prosesnya," jawab Bram dari depan, yang jelas-jelas tidak sedang mengapresiasi apapun dan hanya mencoba tidak tertawa.
Timur: "Kalian mau gue dorong?"
"Bisa?" — Leon, setengah serius.
"Enggak."
"Ya udah."
Mereka sampai di Wonosobo dengan selamat. Butuh waktu lebih lama dari yang seharusnya, tapi selamat.

12.30 — Wonosobo: Mie Ongklok dan Ketenangan Sebelum Badai
Wonosobo berarti satu hal: mie ongklok.
Mereka duduk di warung mie ongklok yang sudah penuh sejak jam sebelas — meja kayu, kursi plastik, mangkuk besar, kuah kental dengan kaldu gurih yang warnanya cokelat keemasan. Mie lurus, potongan kol, daun kucai, dan taburan bawang goreng.
Empat mangkuk datang. Empat orang diam beberapa menit.
Mie ongklok yang benar memang tidak perlu komentar. Dia berbicara sendiri.
Bram makan dengan kecepatan sedang dan ekspresi damai. Timur makan dengan cara yang sama seperti dia melakukan segalanya — teratur, tidak terburu, tidak menyisakan apapun. Di sudut mejanya, ada gelas teh anget yang dia minta tanpa diminta. Leon dan Noel makan dengan kecepatan yang identik — sendok masuk bersamaan, kuah ditiup bersamaan, mengambil kerupuk bersamaan dari piring tengah.
Di luar warung, kabut mulai turun dari arah utara.
Bram menatap ke langit dari balik jendela. "Dieng kayaknya lagi berkabut."
"Dieng selalu berkabut," kata Timur.
"Berkabut yang itu beda sama berkabut yang itu."
Timur tidak menjawab tapi memesan jaket tambahan di dalam kepalanya — terlambat karena dia tidak bawa.
Setelah makan, Timur berdiri sebentar, berjalan ke ujung gang di samping warung. Tidak bilang apa-apa. Tidak ada yang bertanya apa-apa. Beberapa menit kemudian dia kembali, duduk, memesan teh kedua.
Tidak ada yang mengomentari.
Bram menatap peta di HP-nya. "Dari sini ke Dieng sekitar dua belas kilometer. Tapi nanjak terus."
"Seberapa nanjak?" tanya Leon.
"Nanjak banget."
"Lebih nanjak dari tadi?"
"Jauh lebih nanjak dari tadi."
Leon dan Noel saling tatap. Lalu menatap mangkuk mie ongklok mereka yang masih setengah penuh. Lalu memakannya dengan lebih cepat — seperti orang yang sedang mengisi energi untuk sesuatu yang mereka tahu akan berat.

14.00 — Wonosobo ke Dieng: Jalan yang Tidak Ramah pada Mesin Kecil
Jalan dari Wonosobo ke Dieng adalah argumen fisik yang tidak bisa dibantah.
Elevasi Wonosobo sekitar 760 meter. Dieng 2.093 meter. Dua belas kilometer untuk naik 1.300 meter lebih. Matematikanya sederhana dan menyebalkan.
Jalannya mulus — itu kabar baiknya. Jalannya sempit di beberapa titik, berkelok ketat, dengan tanjakan yang di beberapa bagian kemiringannya membuat orang yang jalan kaki pun perlu pause.
Bram naik pertama. DR800S-nya, dengan ground clearance 230mm dan mesin besar, memakan tanjakan ini dengan serius tapi stabil. Dia tidak ngebut — jalan ini bukan tempatnya. Dia naik dengan ritme yang konstan, gigi dua dan tiga bergantian, ban dual-purpose mencengkeram aspal basah dengan mantap.
Timur naik kedua. MP3 Yourban-nya di tanjakan ketat mulai menunjukkan karakternya yang berbeda dari jalan datar. Tiga roda berarti tiga titik kontak, tapi juga berarti tiga roda yang harus bekerja mendorong berat badan motor dan pengendara ke atas. Timur tidak panik. Dia turun gigi, buka gas lebih dalam, dan naik dengan ekspresi orang yang sedang menyelesaikan sesuatu tanpa ingin dibahas setelahnya.
Di tikungan pertama yang ketat, MP3 Yourban perlu sedikit lebih lebar dari motor biasa untuk berbelok — karena dua roda depan butuh ruang lebih saat menikung. Timur kalkulasi ini dengan tenang. Sebuah pickup dari arah berlawanan hampir tidak menyisakan ruang. Timur berhenti, pickup lewat, Timur lanjut tanpa ekspresi berubah.
Leon dan Noel naik terakhir.
Monkey Baja mereka, di tanjakan ini, bersuara seperti dua ekor serangga yang sangat bersungguh-sungguh.
NGEEEEENG.
Kecepatan: 25 km/jam.
NGEEEEENG.
20 km/jam.
Di tanjakan terpanjang dan terkurrus, kecepatan mereka turun ke 15 km/jam. Pejalan kaki di pinggir jalan — seorang bapak dengan karung di punggungnya — berjalan sejajar dengan mereka selama hampir tiga puluh detik sebelum perlahan mendahului.
Bapak itu tidak menoleh. Dia terlalu sopan untuk itu.
Noel di walkie-talkie, suaranya sedikit berbeda dari biasanya: "Bram. Kita oke. Tapi pelan."
"Seberapa pelan?"
"Bapak-bapak jalan kaki tadi lebih kenceng."
Hening sebentar.
"Apresiasi prosesnya," kata Timur, menggunakan kalimat Bram dari tadi, dan kali ini semuanya tertawa — termasuk Leon dan Noel, meski tertawa di atas Monkey Baja yang sedang berjuang di tanjakan terasa seperti keputusan yang sedikit menguras napas.

15.15 — Dieng: Sampai, Dingin, dan Kabut
Mereka sampai di dataran Dieng ketika kabut sudah turun sepenuhnya.
Bukan kabut tipis. Ini kabut Dieng yang sungguhan — tebal, putih, membatasi jarak pandang jadi sekitar dua puluh meter, membuat pohon-pohon cemara di tepinya tampak seperti siluet dari cerita yang lebih serius dari yang mereka rencanakan.
Dan dingin.
Bram turun dari DR800S, melepas helm, dan napasnya langsung keluar jadi uap putih tebal.
"Berapa derajat ini."
Bukan pertanyaan. Lebih ke pernyataan yang membutuhkan konfirmasi dari semesta.
Timur membuka HP. "Google bilang sebelas derajat."
"Sebelas."
"Sebelas."
Bram menarik ritsleting jaketnya sampai mentok. Leon dan Noel tiba dua menit kemudian — Monkey Baja mereka berhenti, mesin masih ngos-ngosan pelan sebelum dimatikan — dan langsung memeluk diri sendiri masing-masing.
"Dingin," kata Leon.
"Sangat," kata Noel.
"Jaket cewek itu cukup hangat?" tanya Bram.
"Tidak," jawab Leon.
"Cukup," jawab Noel di saat yang sama.
Mereka saling menatap.
"Tidak cukup," kata Leon merevisi.
Timur sudah berjalan ke warung terdekat tanpa menunggu konsensus. Warung kecil dengan asap mengepul dari tungku — jual kopi, teh, mie instan, kentang Dieng goreng. Dia memesan empat teh panas sekaligus.
Di dalam warung itu, dengan kabut bergulung di luar jendela kaca yang berembun, empat orang dari band yang tidak sedang melakukan apapun yang berhubungan dengan band duduk dalam diam yang nyaman.
Bram menatap keluar jendela. Kabut terlalu tebal untuk melihat Telaga Warna. Gunung-gunung di sekitarnya tidak kelihatan. Yang ada hanya putih, pohon-pohon hitam, dan suara angin yang berbeda dari angin kota.
"Worth it ga sih," kata Bram, setengah ke diri sendiri.
Timur menyesap teh panasnya. "Tanya balik."
"Apa."
"Kalau ga worth it, ngapain kita ke sini."
Bram tidak menjawab tapi senyumnya sedikit naik.
Leon menatap kabut di luar. Noel menatap ke arah yang sama. Dalam satu momen yang tidak terencana, ekspresi keduanya identik — bukan karena mereka kembar, tapi karena mereka melihat hal yang sama dan merasakan hal yang sama di waktu yang sama.
Sesuatu yang dingin dan tenang dan jauh dari semuanya.

16.00 — Kawah Sikidang: Bau Belerang dan Kehilangan Timur
Setelah teh dan kentang goreng Dieng yang rasanya aneh tapi pas dengan cuaca, mereka jalan kaki ke Kawah Sikidang.
Kawah Sikidang adalah kawah aktif yang bisa dijangkau dengan berjalan. Asap belerang mengepul dari lubang-lubang di tanah. Baunya... belerang. Kuat. Tegas. Tidak minta izin.
Bram mendekat ke bibir kawah dengan rasa ingin tahu yang tulus.
Noel mendekati dengan kamera HP.
Leon mendekati dengan langkah orang yang tidak yakin apakah tanah di sekitarnya solid.
Timur tidak ada.
Bram menoleh ke belakang. "Timur mana?"
Mereka celingukan. Kabut, pohon, beberapa turis, seorang bapak penjual jagung, tidak ada Timur.
Lima menit kemudian Timur muncul dari arah yang tidak ada hubungannya dengan kawah — dari arah area yang lebih sepi, sedikit lebih tinggi, dengan ekspresi yang sama seperti ekspresinya selalu: datar, tenang, sedikit jauh.
"Dari mana?" tanya Bram.
"Jalan-jalan."
"Ke mana?"
Timur menunjuk ke arah tidak spesifik. "Sana."
Bram memutuskan itu jawaban yang cukup.
Di bibir kawah, mereka berdiri berempat. Asap belerang bergulir ke arah mereka bergantian tergantung arah angin. Leon dan Noel foto-foto. Bram melihat ke dalam kawah dengan ekspresi yang sulit dibaca — bukan takut, bukan kagum berlebihan, lebih ke... memperhatikan.
"Bumi emang ajaib," kata Bram pelan.
"Klise," kata Timur.
"Tapi bener."
"Karena bener makanya jadi klise."
Noel foto Bram yang lagi bicara sama Timur. Leon foto kawah. Angin berbalik, asap belerang menghantam wajah semua orang sekaligus.
Empat orang, satu gerakan: mundur sambil menutup hidung.
Kompak. Tidak direncanakan.

17.30 — Insiden Parkir dan Debat Pulang
Kembali ke parkiran, ada satu masalah kecil.
Parkiran Dieng tidak datar. Hampir tidak ada permukaan datar di Dieng. Jalan parkirnya sedikit miring.
Motor biasa: pakai standar samping. Selesai.
DR800S Bram: standar samping panjang, motor miring ke kiri, oke.
Monkey Baja Leon: standar samping, motor kecil, tidak masalah.
Monkey Baja Noel: sama.
MP3 Yourban Timur: tidak punya standar samping. Berdiri dengan tiga roda. Di permukaan datar, ini sempurna. Di permukaan miring, fisika mulai berdebat.
Motor tiga roda yang tidak punya kickstand, di tanah yang sedikit miring, perlahan-lahan...
Tidak jatuh. Tapi bergerak sedikit.
Timur melihat motornya bergeser dua sentimeter ke bawah lereng dengan cara yang sangat perlahan dan sangat anggun.
"Oh."
Dia menahan motornya. Mencari batu. Mengganjal roda belakang dengan batu sebesar kepalan tangan. Motor berhenti bergerak.
Bram yang melihat semua ini dari jarak tiga meter: "Stabil katanya."
"Stabil di permukaan datar," jawab Timur dengan tenang. "Ini tidak datar."
"Kamu tadi bilang motor ini dewasa."
"Motor ini dewasa. Tapi parkiran ini tidak kooperatif."
Leon dan Noel, yang sudah selesai standar samping tanpa drama, menyaksikan semua ini dengan ekspresi identik yang berusaha keras tidak terlihat seperti mereka menikmatinya. Tapi sudut bibir mereka berbicara sendiri.

18.30 — Dieng ke Wonosobo: Turun Lebih Cepat, Tapi Lebih Ngeri
Keputusan bermalam di Wonosobo. Tidak ada yang cukup gila untuk turun ke Jogja malam-malam dari Dieng dengan kondisi kabut.
Turun dari Dieng ke Wonosobo adalah pengalaman yang berbeda dari naiknya.
Lebih cepat — tanjakan jadi turunan, gravitasi membantu.
Tapi lebih perlu konsentrasi — rem, engine brake, tikungan yang sekarang datang ke arah berlawanan.
Bram turun pertama, hati-hati dan metodis. DR800S-nya dengan suspensi panjang menyerap bumps turunan dengan tenang. Ban dual-purpose cengkeram aspal basah yang kini mulai ditambah embun sore.
Timur turun, tidak lebih lambat dari biasanya. Di tikungan menurun, MP3 Yourban-nya stabil — dua roda depan memberikan kepercayaan diri ekstra di permukaan licin.
Leon dan Noel turun.
Di turunan, Monkey Baja memiliki masalah baru: kecepatan yang tidak diminta. Di tanjakan mereka berjuang naik — di turunan, gravitasi yang tidak mereka minta mendorong mereka lebih cepat dari yang terasa nyaman di atas motor dengan wheelbase pendek dan suspensi singkat.
Mereka mengerem. Banyak.
Speedometer: 40 km/jam dengan rem setengah. Terasa lebih cepat dari itu di atas bodi motor kecil mereka.
Walkie-talkie: "Noel." — Leon.
"Apa." — Noel.
"Ini oke kan."
Jeda dua detik.
"Oke."
"Oke."
Mereka turun dengan selamat. Semua empat orang. Semua empat motor.

20.00 — Wonosobo: Malam Pertama yang Tidak Direncanakan
Mereka menemukan penginapan kecil dekat alun-alun Wonosobo. Kamar yang cukup, selimut yang lebih dari cukup untuk sebelas derajat Dieng yang masih nempel di tulang mereka.
Makan malam: soto Wonosobo di warung yang lampunya kuning dan mejanya sudah penuh tapi selalu ada kursi untuk empat orang lagi.
Bram makan dua mangkuk. Timur makan satu, pelan. Leon dan Noel makan bersamaan, selesai bersamaan, minta tambah bersamaan.
Di meja itu, tidak ada yang bicara soal jadwal. Tidak ada yang buka HP untuk cek besok. Bram menatap langit-langit warung. Timur memutar cangkir tehnya pelan. Leon dan Noel bergantian melempar potongan kerupuk kecil ke mulut masing-masing — akurasi mereka identik.
"Balik besok?" tanya Leon.
"Balik besok," kata Bram.
"Lewat mana?" tanya Noel.
"Jalur lain. Bosan jalan yang sama."
"Ada jalur lain?"
"Selalu ada jalur lain."
Timur: "Selama tidak jelas berbahaya."
Semua diam sebentar, lalu Bram tertawa pelan. Timur tidak tertawa tapi matanya bergerak sedikit — itu cukup.
Di luar warung, Wonosobo malam itu dingin dan sepi dengan cara kota kecil pegunungan sepi — bukan sepi yang kosong, tapi sepi yang penuh dengan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan.
Empat orang dari satu band, tidak sedang berlatih, tidak sedang manggung, tidak sedang memikirkan musik sama sekali.
Hanya empat motor di parkiran — satu besar, satu aneh, dua kecil — dan satu hari yang tidak direncanakan yang, entah bagaimana, berjalan persis seperti yang seharusnya.

— Bersambung ke Part 3, kalau mereka bertahan di jalur pulang yang "selalu ada" itu — 🏔️

Postingan populer dari blog ini

Ch. 1 - Prologue: Chaos on Wheels

Ch. 4 - Kamar Kosong

Ch. 2 part 2 - Malam di Wonosobo