Ch. 2 part 2 - Malam di Wonosobo
Penginapan mereka adalah jenis penginapan yang ada di setiap kota kecil Jawa — cat putih agak kuning, kasur springbed yang berbunyi kalau digeser, dan teras kecil di depan kamar dengan dua kursi plastik yang satu kakinya sedikit pendek.
Mereka tambah kursi dari dalam. Empat orang, teras sempit, satu meja plastik bundar yang ukurannya pas untuk menaruh empat gelas kopi dan asbak.
Wonosobo jam sembilan malam. Dingin. Kabut dari arah Dieng masih turun tipis. Dari kejauhan suara jangkrik dan sesekali motor lewat di jalan utama.
Bram menyalakan rokok pertamanya. Timur sudah duluan — rokok pertamanya habis setengah sejak tadi. Leon dan Noel memesan kopi susu dari warung sebelah yang masih buka, datang dalam plastik kresek dengan sedotan bengkok.
Tidak ada yang mulai bicara dulu. Itu jenis diam yang nyaman — bukan canggung, bukan buntu. Jenis diam setelah hari yang panjang dan badan yang capek tapi pikiran masih hidup.
Timur yang mulai. Tanpa basa-basi, tanpa pengantar.
"Tadi dikejar bapak-bapak jalan kaki."
Hening dua detik.
"Dua kali," tambah Noel.
"Bapak yang sama," koreksi Leon.
"Beda bapak."
"Sama."
"Beda."
Bram menyedot rokoknya. "Intinya dikejar bapak-bapak jalan kaki."
Leon dan Noel tidak menjawab. Keduanya minum kopi susu dari sedotan bengkok secara bersamaan.
---
Butuh beberapa menit sebelum Leon akhirnya bersuara — bukan dengan nada defensif, lebih ke nada orang yang sudah menerima kenyataan tapi belum tau harus ngapain dengan kenyataan itu.
"Motornya emang... kurang napas di tanjakan."
"Kurang napas," ulang Timur datar. "Itu eufemisme paling halus yang pernah gue denger buat 'hampir mati di tanjakan Dieng.'"
"Dia ga hampir mati," kata Noel.
"Suaranya—"
"Dia kenceng, cuma—"
"Noel." Timur menatap. "Speedometer kalian berapa di tanjakan terpanjang tadi?"
Diam.
"Berapa."
"...Dua puluh," jawab Leon.
"Dua puluh tiga," koreksi Noel.
"Dua puluh," ngotot Leon.
Bram menghembuskan asap ke udara. "Bapak jalan kaki tadi kira-kira empat kilometer per jam."
Tidak ada yang menjawab.
"Artinya kalian cuma lima kali lebih kenceng dari bapak yang bawa karung sayuran."
Sekali lagi, dua sedotan bengkok masuk ke gelas kopi susu secara bersamaan.
---
"Engine swap," kata Timur. Bukan saran. Lebih ke diagnosis.
Leon mendongak. "Maksudnya?"
"Ganti mesin."
Noel langsung bereaksi — bukan panik, tapi lebih ke jenis waspada orang yang sangat peduli pada sesuatu yang spesifik. "Tampilannya berubah gak?"
"Tampilannya sama."
"Beneran?"
"Mesin ada di dalam. Yang keliatan dari luar tetap sama."
Leon dan Noel saling tatap. Satu pertukaran informasi yang tidak membutuhkan kata-kata. Lalu keduanya manggut bersamaan.
"Oke," kata Leon.
"Oke," kata Noel.
Bram tertawa kecil. "Selama bodywork ga berubah, kalian setuju apapun ya."
"Motor itu udah perfect secara visual," kata Leon dengan nada orang yang menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah jelas. "Kami cuma mau dia bisa napas normal."
---
"Basis mesinnya gue rekomendasiin Supra X 125 karburator," kata Bram. Dia mematikan rokok pertamanya, langsung ambil yang kedua. "Bore stroke-nya kompatibel, part-nya gampang dicari, mekanik mana pun ngerti."
Timur memiringkan kepala sedikit. "Kenapa bukan Beat atau Vario?"
"Injeksi. Modifnya lebih ribet, butuh ECU tune kalau mau main di atas standar. Karbu lebih straightforward buat aplikasi kayak gini."
"Fair."
"Terus," Bram melanjutkan, jarinya mengetuk meja plastik pelan, "piston high compression. Sepuluh setengah sampai sebelas banding satu. Jangan lebih dari itu."
"Kenapa jangan lebih?" tanya Leon.
"Bensin Pertamax masih ketahan di rasio segitu. Kalau lebih tinggi lagi butuh Pertamax Turbo atau bahkan bensin balap. Buat harian ga praktis."
"Oh." Leon manggut. Kelihatan seperti dia mengerti. Kemungkinan besar dia tidak sepenuhnya mengerti tapi cukup mengerti untuk tidak bertanya lagi.
"Camshaft," lanjut Bram. "Stage satu. Jangan ekstrem."
"Setuju," kata Timur.
"Buat apa camshaft?" tanya Noel.
"Ngatur kapan klep buka-tutup. Stage satu artinya agresivitas rendah — power naik di rpm menengah, bukan rpm tinggi. Karakternya jadi lebih enak buat jalan santai."
Noel manggut. "Oke. Lanjut."
"Per klep—"
"Itu apa."
"Per. Klep," Bram mengulang. "Pegas yang nutup klep balik. Kalau diganti sedikit lebih keras, respons mesin lebih rapi waktu rpm naik cepet."
"Penting?"
"Lumayan penting kalau udah ganti camshaft."
"Oke."
Timur menyedot rokoknya. "Lo ngerti ga sebenernya?"
Noel berpikir sebentar. "Kurang lebih."
Leon: "Gue ngerti bagian 'power naik.'"
---
Bagian karburator membuat Bram dan Timur berhenti sebentar — jenis berhenti yang tandanya mereka mau debat.
"PE dua empat," kata Bram.
"VM dua enam," kata Timur.
"PE dua empat cukup."
"VM dua enam lebih galak."
"Ini buat turing, bukan buat drag."
"Gue tau. Tapi dua enam karakternya lebih fleksibel. Bisa dikalibrasi supaya tetap smooth di putaran bawah."
"Butuh tune yang lebih teliti."
"Worth it."
"Buat siapa? Mekaniknya belum tentu familiar."
Timur diam sebentar. Ini poin yang valid dan dia tahu itu.
"Oke," katanya akhirnya. "PE dua empat jadi pilihan utama. VM dua enam opsional kalau mau lebih galak dan mekaninya capable."
"Setuju."
Leon mengangkat tangan setengah. "Ini karburator itu yang bentuknya kayak tabung itu?"
Bram dan Timur menatapnya bersamaan.
"...Yang ada di mesin," tambah Leon, sedikit tidak yakin.
"Ya," kata Bram.
"Oh oke."
---
"Main jet seratus sampai seratus sepuluh," lanjut Bram. "Pilot jet tiga puluh delapan sampai empat puluh dua. Ini tergantung hasil uji jalan, harus disetting di tempat sama mekanik yang bisa baca busi."
"Baca busi?" Noel menoleh.
"Warna elektroda busi bisa ngasih tau campuran bensin-udara terlalu kaya atau terlalu miskin."
Noel mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang menerima informasi dan menempatkannya di folder 'hal-hal yang tidak perlu gue pahami sepenuhnya tapi cukup tau eksistensinya.'
"Knalpot semi free-flow," kata Timur, mengambil alih. "Header dua puluh lima sampai dua puluh delapan mili. Jangan full racing — bunyinya ga perlu berisik, yang penting aliran gas buang lebih lancar dari standar."
Leon langsung menegakkan badan. "Ini penting. Suaranya jadi kayak gimana?"
"Lebih berat sedikit dari standar. Lebih dalam. Tapi tidak berisik."
"Ga kayak knalpot racing yang brong-brong?"
"Tidak."
Leon kelihatan lega secara tulus. "Oke bagus. Gue ga mau motor gue kedengeran kayak mau perang."
Bram: "Motor lo sekarang kedengeran kayak tawon kedinginan."
"Tawon yang berkarakter," koreksi Leon.
---
"Gear," kata Bram. "Depan lima belas gigi. Belakang tiga puluh dua sampai tiga puluh empat."
"Rasio ini yang bikin dia bisa cruising lebih nyaman?" tanya Noel.
"Betul. Standarnya gear belakang Monkey itu besar banget — bagus buat akselerasi awal, jelek buat top speed dan efisiensi. Ini kita trade-off sedikit akselerasi buat napas yang lebih panjang di kecepatan tinggi."
"Jadi naiknya bakal lebih susah?"
"Sedikit lebih lambat akselerasi awal. Tapi begitu jalan, cruising tujuh puluh sampai sembilan puluh itu enak dan mesin ga meraung-raung."
Noel mengangguk dengan serius. Leon juga. Ini bagian yang mereka benar-benar perhatikan — bukan karena mereka mengerti gear ratio, tapi karena angka 70-90 km/jam terdengar seperti kehidupan yang lebih baik dibanding 25 km/jam di tanjakan Dieng.
"Bisa tembus seratus?" tanya Leon.
"Seratus sampai seratus sepuluh bisa, sesekali."
"Gue minta itu buat syarat."
Bram menatapnya. "Lo minta syarat ke proses modifikasi motor?"
"Gue minta target."
"...Ya bisa."
---
"CDI racing," kata Timur. "Tapi advance ringan. Jangan agresif."
"Setuju. Kalau terlalu advance justru mesin cepat panas."
"Nah itu," Timur menunjuk ke Bram. "Oil cooler. Wajib."
"Wajib," Bram mengkonfirmasi tanpa ragu.
"Ini yang paling penting sebenernya di seluruh list ini. Monkey standar pendinginnya udara. Begitu lo naikin kompresi, ganti cam, pake mesin yang lebih besar — panas yang dihasilkan naik signifikan. Tanpa oil cooler, mesin bakal masak pelan-pelan dan lo ga sadar sampai udah terlambat."
Leon: "Masak gimana?"
"Overheat. Kerusakan komponen dalam."
"Oh." Jeda. "Kayak orang kepanasan?"
"...Analoginya lumayan tepat sebenernya."
Noel: "Berarti oil cooler itu kayak kipas angin?"
Timur menghela napas — bukan napas kesal, lebih ke napas orang yang sedang memilih versi penjelasan yang paling sederhana. "Mirip. Oli dialirkan ke cooler kecil di luar mesin, didinginkan, balik lagi ke mesin. Siklus terus."
"Oke mengerti." Noel manggut. Lalu: "Gue mau yang modelnya bagus. Bisa pilih warna?"
Timur menatap Noel cukup lama.
"...Beberapa merk ada pilihan warna," jawabnya akhirnya.
"Oke bagus."
---
"Oli," lanjut Bram. "Sepuluh W tiga puluh atau sepuluh W empat puluh, full synthetic. Interval ganti seribu sampai seribu lima ratus kilometer."
Leon mengangkat tangan lagi. "Ini... sering banget gak sih gantinya?"
"Untuk mesin yang udah dimodif, ya. Standar motor harian mungkin bisa dua ribu. Ini lebih ketat karena beban kerjanya lebih berat."
"Tiap seribu kilo berarti kira-kira..."
"Tergantung seberapa sering kalian turing."
Leon dan Noel saling lihat. Lakukan kalkulasi diam-diam.
"Lumayan sering ganti oli ya," simpul Noel.
"Konsekuensi modif," kata Timur. "Mau mesin aman dan awet, rajin servis."
"Oke."
"Beneran oke?"
"Beneran."
Timur tidak sepenuhnya yakin tapi melanjutkan.
---
"Kampas kopling upgrade," kata Bram. "Merk yang bagus, jangan asal. Kalau enggak, waktu ngegas naik tanjakan kampasnya selip."
"Rantai juga," tambah Timur. "Kualitas bagus. Bukan yang paling mahal, tapi jangan yang paling murah."
"Rem depan," Bram melanjutkan. "Kalau belum cakram, ganti cakram."
Noel: "Punya kita masih tromol."
"Ganti cakram. Ini bukan opsional kalau top speed naik ke seratus lebih."
Leon: "Oke. Kampas remnya juga ganti?"
"Kualitas bagus, ya."
"Oke oke." Leon mengeluarkan HP, buka notes. Mulai ketik.
Bram melirik. "Lo nyatat?"
"Biar ga lupa."
"Lo ngerti yang lo catat?"
Leon berpikir sebentar. "Sebagian."
---
"Shock belakang," kata Timur. "Lebih keras atau adjustable. Standarnya Monkey itu terlalu lembek untuk bobot yang naik kalau mesin lebih berat dan handling di kecepatan lebih tinggi."
Noel: "Monkey kita kan ringan. Bobot kita juga... ya."
Bram: "Tapi dengan kecepatan yang lebih tinggi, handling tetap harus stabil. Shock yang terlalu lembek bikin motor goyang di atas delapan puluh."
"Oh."
"Ban juga," lanjut Timur. "Sedikit lebih lebar dari standar. Jejak ban lebih lebar, grip lebih baik, stabilitas naik."
"Tampilannya berubah ga?" Leon refleks.
"Sedikit lebih melar di bagian bawah. Justru keliatan lebih gagah."
Leon dan Noel saling tatap lagi. Mengangguk bersamaan. Ini bisa diterima.
"Steering damper kecil," Bram menambahkan. "Opsional tapi recommended. Mengurangi getaran stang di kecepatan tinggi."
"Ini keliatan dari luar?" tanya Noel.
"Iya, terpasang di stang."
"Modelnya ada yang bagus?"
Bram meletakkan rokoknya. "Noel. Prioritas."
"Keduanya prioritas."
"Fungsi dulu."
"Fungsi dan tampilan sama-sama penting."
Bram menatap Timur. Timur mengangkat bahu — ekspresi yang artinya dia bukan salah gue.
---
Kopi sudah hampir habis. Asap rokok sudah beberapa lapis. Kabut di luar masih ada.
Leon melihat notes-nya. "Jadi kalau semua ini dipasang, hasilnya..."
"Cruising tujuh puluh sampai sembilan puluh santai," jawab Bram. "Top speed bisa tembus seratus sampai seratus sepuluh kalau kondisi jalan bagus. Mesin aman selama dirawat bener."
"Handling lebih stabil?"
"Jauh lebih stabil dari standar."
Leon dan Noel diam sebentar. Memproses.
"Bapak jalan kaki bakal ketinggalan?" tanya Noel.
"Sangat jauh ketinggalan."
Noel menghembuskan napas — bukan napas lega, lebih ke napas orang yang baru menutup satu chapter dan siap buka yang baru. "Oke. Kita lakuin."
"Dua-duanya," kata Leon.
"Sudah jelas dua-duanya," kata Timur.
"Beneran dua-duanya. Spek sama persis. Part sama. Merk sama. Warna sama kalau bisa."
Bram: "Iya."
"Urutan pengerjaan juga harus sama. Jangan satu kelar duluan."
Bram menatapnya. "Lo minta bengkel kerjain dua motor secara paralel?"
"Idealnya."
"...Gue akan coba komunikasikan itu ke mekaniknya."
"Makasih."
---
Timur mematikan rokok terakhirnya. "Gue bisa bantu cari beberapa part lewat jalur keluarga. Importir umum, tapi kadang ada part after-market dari Taiwan atau Thailand yang masuk. Lebih murah, kualitas bisa comparable."
Leon: "Asalkan sama persis buat dua motor."
"Iya, sama persis buat dua motor," Timur mengkonfirmasi dengan nada orang yang sudah mengantisipasi kalimat itu.
"Oke bagus." Leon menutup notes HP-nya. "Gue ga ngerti separuh dari yang kalian omongin tadi tapi kayaknya oke."
Bram: "Kalian cuma ngerti bagian 'seratus kilometer per jam' dan 'tampilannya ga berubah' ya?"
Leon dan Noel menjawab bersamaan: "Kurang lebih."
Bram tertawa — bukan tertawa mengejek, tapi tertawa orang yang menghargai kejujuran.
Wonosobo jam sepuluh malam. Di luar, jalan utama sudah sepi. Kabut turun lebih rendah. Dari parkiran penginapan, empat motor berdiri — satu tinggi dan besar, satu aneh berkaki tiga, dua kecil berwarna putih-merah yang diam-diam sedang menunggu kesempatan kedua.
---
Noel menyeruput sisa kopi susunya yang sudah dingin. Menatap ke arah parkiran.
"Bram."
"Apa."
"Lo tau semua itu dari mana? Kan lo sarjana hukum."
Bram mengambil rokok terakhirnya. "Gue punya banyak klien bengkel."
"Jadi lo belajar mesin dari bikin kontrak bengkel?"
"Dari dengerin klien ngeluh soal sengketa part palsu selama dua jam per sesi."
Noel mempertimbangkan ini. "...Efektif juga ya cara belajarnya."
Timur, tanpa menoleh: "Ironisnya dia lebih tau spek mesin dari lo yang punya motornya."
Leon: "Kami tau yang penting-penting."
"Apa yang penting-penting?"
"Bisa jalan. Keliatan bagus. Ada dua."
Timur akhirnya tersenyum — tipis, tapi ada. "Fair enough."
— Jalur pulang besok. Belum diputuskan lewat mana. Bram bilang ada jalur lain. — 🏍️