Ch. 6 - Two Brothers

Bram menaruh ponselnya di atas meja studio dan meregangkan punggungnya.
"Pak Wardi bilang semua part udah terpasang. Tinggal exhaust doang yang belum. Jadi kita ke sana, langsung pasang, langsung kelar."
Timur yang duduk di tepi sofa sambil memainkan bass tanpa amp — hanya bunyi senar menghantam fretboard Dingwall-nya — mengangguk pelan. "Akrapovic gue udah nyampe bengkel kemarin. Dia bilang juga udah."
"Yang kembar?"
Timur mengetuk sisi bass dengan satu jari. Senyum tipis. Tidak menjawab.
Bram menatapnya sebentar. "Misterius banget lo."
"Nanti tau sendiri."
---
Pukul sembilan lewat dua belas menit, sebuah Avanza putih berhenti di depan rumah Bram. Pintu belakang terbuka, dan dua pasang kaki dengan panjang persis sama turun ke aspal secara bersamaan.
Leon dan Noel.
Buzz cut. Kaos yang sama. Celana yang sama. Ekspresi yang sama — antara excited dan berusaha terlihat tidak terlalu excited.
"Gue kira kalian naik taksi sendiri-sendiri," kata Bram dari teras.
"Noel mesen dulu," kata Leon.
"Leon yang bayar," kata Noel.
"Jadi satu perjalanan, dua kontribusi," mereka berbarengan, lalu saling lirik.
Bram mengambil kunci DR800S dari gantungan di dekat pintu.
---
Formasi di depan rumah Bram terbentuk dalam satu menit. DR800S dan MP3 Yourban berdiri berdampingan di jalanan kecil depan pagar. Timur sudah di atas MP3, engine idle, tiga roda menapak sempurna di aspal yang sedikit miring.
"Oke," kata Bram. "Kalian naik. Noel sama gue, Leon sama Timur." sambil menunjuk.
Leon naik ke jok belakang DR800S. Noel naik ke jok belakang MP3.
Tidak ada yang memprotes. Tidak ada yang mempertanyakan.
Konvoi bergerak.
---
SPBU di pertigaan sudah familiar — mereka sering berhenti di sini. Bram masuk duluan, memposisikan DR800S di samping pompa. Timur mengikuti, memarkir MP3 di sebelahnya.
Selagi operator mengisi tangki, Bram setengah menoleh ke belakang.
"Noel, lo udah dengerin rekaman jamming kemarin?"
Hening sebentar.
"...Leon."
Bram mengerutkan dahi. "Hah?"
"Gue Leon."
Bram menoleh penuh. Di jok belakangnya, Leon — bukan Noel — menatap balik dengan ekspresi datar yang susah dibaca.
Di sebelah, Timur juga sedang proses yang serupa.
"Leon, menurut lo chord voicing di bagian ketiga kemarin—"
"Noel."
Timur berhenti bicara.
"...Apa?"
"Gue Noel."
Timur menatap Noel yang duduk di jok belakang MP3-nya. Kemudian menatap Leon yang duduk di jok belakang DR800S. Kemudian menatap Bram. Bram menatap balik.
Satu detik.
Dua detik.
"Sejak kapan?" tanya Bram.
"Dari awal," jawab Leon dan Noel, bersamaan.
"Kalian diem aja?"
"Kalian yang salah ngajak naik," kata Noel.
"Kalian yang salah ngomong nama," kata Leon.
Timur meletakkan siku di stang dan menutupi separuh wajahnya dengan tangan. "Jadi gue ngebahas chord progression sama orang yang salah selama... berapa lama?"
"Dari rumah Bram."
"Hampir sepuluh menit."
"Dan lo jawab gimana?" tanya Bram ke Noel.
"Gue ngikut aja," kata Noel dengan ekspresi paling jujur yang pernah ada. "Tadi lo bilang 'kayaknya section bridge-nya perlu dikurangin satu bar'. Gue bilang 'iya kayaknya'. Itu terasa benar."
"Lo bahkan ga main di situ."
"Tapi memang terasa benar."
Operator SPBU menyerahkan struk dengan wajah yang berusaha keras untuk tidak tersenyum.
---
Sisa perjalanan ke bengkel Pak Wardi berjalan dengan formasi yang sudah dikoreksi — Noel di belakang Bram, Leon di belakang Timur — dan dalam keheningan yang lebih hati-hati dari biasanya.
Sesekali Bram memastikan.
"Noel?"
"Iya."
"Oke."
Dua menit kemudian:
"Masih Noel?"
"...Masih."
---
Bengkel Pak Wardi tidak besar, tapi padat dengan cara yang efisien — rak besi berisi part di tiga dinding, lampu neon yang satu ujungnya agak berkedip, dan bau oli yang sudah meresap ke setiap permukaan termasuk kemungkinan besar ke Pak Wardi sendiri.
Dan di tengah bengkel, dua Honda Monkey Baja Z50J berdiri di atas paddock stand.
Leon dan Noel turun dari jok paling sebelum motor benar-benar berhenti.
Pak Wardi — lelaki lima puluhan dengan lengan yang terlihat seperti pernah mengangkat mesin diesel secara rutin — keluar dari balik salah satu motor sambil menyeka tangan di kain lap.
"Wah, wis teko kabeh, monggo-monggo masuk."
Leon dan Noel sudah ada di dalam.
Mereka berjalan mengelilingi kedua Monkey Baja pelan-pelan, seperti orbit kecil yang simetris. Satu searah jarum jam, satu berlawanan. Bertemu di sisi yang sama, berpisah lagi.
"Ini udah beda banget," kata Leon pelan.
"Beda banget," ulang Noel.
Pak Wardi menjelaskan dengan ringkas sambil sesekali diselingi istilah Jawa yang keluar natural: semua part sudah terpasang dan di-setting, karbu sudah dijetting sesuai target, CDI racing sudah diprogram, oil cooler sudah terhubung dan diuji, rem cakram depan sudah dipasang dan di-bleed, shock belakang adjustable sudah distel di posisi medium.
"Pokoknya wis rampung kabeh, to. Tinggal exhaust. Nah, sing iki—" Pak Wardi menoleh ke Timur dan mengangguk, "—saya minta tolong sampean dulu, kemarin. Matur nuwun lho, Mas."
Bram menoleh ke Timur. "Minta tolong apa?"
Pak Wardi yang menjawab duluan. "Lha iya, Mas Bram. Sampean pesan Dominator ST buat DR800 itu — sepasang, dual exhaust. Sing iku ra umum, to, susah nyarinya di sini. Saya sudah hubungi dua distributor, kosong kabeh. Terus saya telepon Mas Timur, minta tolong dibantu carikan lewat kenalan importir-nya."
Bram menatap Timur. "Lo yang ngurusin knalpot gue?"
"Pak Wardi yang nelpon. Gue tinggal forward ke orang yang tepat." Timur mengangkat bahu. "Kebetulan sambil urus punya gue sendiri. Dan sambil—" dia berhenti sebentar, "—urus yang lain."
"Yang lain apa?"
Timur tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia berjalan ke meja di sudut bengkel.
---
Di meja itu, beberapa dus karton berdiri. Timur mengambil dua dus berukuran identik dan menaruhnya di depan Leon dan Noel.
"Buka."
Leon dan Noel masing-masing mengambil satu. Membuka secara bersamaan — karton terbuka, bubble wrap terlipat, dan:
TWO BROTHERS Racing.
Logo hitam dan emas. Pipa stainless dengan finishing yang memantulkan lampu neon bengkel. Dua unit, identik sempurna.
Leon dan Noel diam selama dua detik penuh.
Kemudian Leon memegang knalpotnya dengan dua tangan dan mengangkatnya seperti sedang menimbang trofi.
"Two Brothers," kata Leon.
"Kita," kata Noel.
"Itu yang gue pikir waktu nemu ini," kata Timur, tangan masuk saku celana. "Filosofi lo. Dua yang sama persis. Produknya juga memang bagus buat aplikasi ini — mid-range yang vokal, cocok sama karakter mesin yang sudah di-upgrade."
Noel memeluk unitnya.
Bukan dramatis. Bukan gesture berlebihan. Dia benar-benar memeluk tabung stainless itu ke dadanya seperti seseorang yang baru ketemu kucing di jalanan.
Leon tidak memeluk unitnya — tapi jarinya menelusuri permukaan finishing-nya dengan cara yang sangat mirip dengan orang yang berusaha memastikan bahwa ini nyata.
Bram menyilangkan tangan. "Oke ini mulai aneh."
"Biarkan," kata Pak Wardi bijak, sudah kembali ke posisi jongkok di samping motor pertama dengan kunci pas di tangan.
---
Pemasangan tidak lama. Pak Wardi mengerjakan satu unit Monkey Baja, dibantu mekanik mudanya yang bernama Fajar untuk unit kedua. Leon dan Noel berdiri di samping masing-masing motor seperti dokter yang menunggui operasi.
Selagi itu, Timur mengeluarkan dus lain dari sudut bengkel — Akrapovic Slip-on Line SS untuk MP3 Yourban. Dan satu lagi, dus cokelat lebih panjang dan lebih berat dari yang lain:
Dominator ST Stainless untuk DR800S. Dua unit. Sepasang.
Bram mengangkat keduanya bergantian, merasakan bobotnya. "Ini jauh lebih ringan dari bawaannya."
"Itu salah satu poinnya," kata Timur. "Stainless full-body, tapi konstruksinya beda dari cast iron bawaan. Lo sendiri yang bilang knalpot stok DR800 lo udah mulai karatan dan bobotnya makan tenaga."
Bram tidak menyangkal. Knalpot stok DR800S memang bukan hal yang ringan — dirancang untuk durabilitas dan karakter suara tertentu, tapi setelah usia dan kondisi yang tidak ideal, yang tersisa lebih banyak beratnya daripada manfaatnya. Belum lagi karat di sisi dalam yang mulai mempengaruhi aliran gas buang.
"Pas gue konsultasi ke Pak Wardi soal ini, beliau yang rekomendasikan Dominator ST," lanjut Timur. "Cocok untuk adventure-touring. Pas Pak Wardi kesulitan nyarinya, gue yang follow up lewat jalur impor."
Pak Wardi mengangguk dari posisi jongkoknya tanpa menoleh. "Leres, Mas. Susah banget nyarinya di pasar lokal, soalnya spek untuk DR besar. Untung Mas Timur bisa bantu. Pinter tenan anaknya iki."
Timur menerima pujian itu dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali.
Bram menaruh kedua unit di meja. "Lo udah riset semua orang?"
"Gue riset kalian satu malam."
"Lo tau ini agak creepy, kan?"
"Gue tau. Tapi hasilnya bagus."
---
Pak Wardi berdiri, menepuk lutut, dan mengangguk ke Fajar.
"Monggo dicoba."
Leon dan Noel masing-masing starter Monkey Baja mereka.
Mesin menyala — dan suara yang keluar bukan lagi suara motor Z50J standar yang terengah-engah di tanjakan Dieng. Ini sesuatu yang lebih padat, lebih berisi. Two Brothers memberikan karakter yang tepat untuk mesin yang sudah di-bore dan di-tune: mid-range yang articulat dan vokal, setiap rpm berbicara dengan jelas tanpa blur. Tidak agresif berlebihan, tidak sopan — suara yang confident tapi tidak perlu teriak untuk didengar. Dan karena keduanya identik, ketika dua motor itu idle bersamaan, suaranya layer dengan sempurna. Bukan noise — semacam harmoni yang tidak direncanakan.
Leon memutar throttle pelan.
Noel memutar throttle pelan.
Bersamaan, karena tentu saja.
Pak Wardi menutup telinga dengan jari. "Rame tenan, lho!"
Fajar tersenyum lebar.
Leon dan Noel saling pandang.
"Ini," kata Leon.
"Iya," kata Noel.
"INI," kata Leon lebih keras karena motor masih nyala.
Bram menutup telinga juga tapi untuk alasan berbeda — dia baru menyadari bahwa dua Monkey Baja yang distarter bersamaan di dalam ruangan bengkel yang tidak terlalu besar adalah pengalaman akustik yang cukup intens.
"Matiin dulu, matiin dulu!"
Motor dimatikan. Hening kembali.
Leon mengusap tangki motornya dengan telapak tangan. Pelan, seperti orang yang tidak mau motornya tau bahwa dia baru saja melakukan itu.
"Pak Wardi," kata Noel, sangat serius. "Ini motor masih muat kita boncengan, kan? Kalau kita berdua naik satu motor—"
"Jangan," kata Bram dan Timur bersamaan.
"Kalian masing-masing satu motor," lanjut Timur.
"Tapi kan—"
"Satu motor satu orang. Itu filosofi lain yang perlu mulai kalian pegang."
Pak Wardi mengangguk serius seperti orang yang mendukung keputusan ini sepenuhnya. "Bener, bener. Satu motor satu orang, to. Aman."
---
DR800S dan MP3 Yourban giliran berikutnya.
Pak Wardi memasang sepasang Dominator ST di DR800S — dua pipa stainless yang keluar simetris di sisi kanan motor, menggantikan knalpot stok yang sudah berumur. Fajar menyelesaikan Akrapovic di MP3.
Bram starter DR800S.
Dengan sepasang Dominator ST, karakter suara DR800S berubah dengan cara yang tidak terduga bagi yang belum pernah mendengarnya — bukan bark pendek yang agresif, dan bukan pula sekadar versi lebih keras dari stok. Ini suara yang panjang dan warm di low-end, dengan dua pipa yang saling melengkapi menjadi satu tone yang kohesif. Roll-off atasnya bersih, tidak meledak, tidak memekik. Seperti seseorang yang berbicara dengan suara rendah dan tidak perlu meninggikan nada untuk membuat orang menoleh. Ada substansi di setiap putaran mesin, dan ketika Bram membuka throttle setengah jalan, suaranya mengalir — bukan meledak. Bobot yang hilang dari knalpot lama terasa juga di karakter tenaga: lebih ringan, lebih responsif, tanpa kehilangan identitas suara yang seharusnya dimiliki motor sebesar ini.
Timur starter MP3.
Akrapovic Slip-on Line SS punya cerita berbeda. Untuk scooter tiga roda dengan mesin yang lebih compact, hasilnya adalah suara yang lebih dalam dari standar — bass yang lebih berisi, rumble yang terasa di dada. Ada kesederhanaan di sini: bukan ramai, tapi serius dan solid. Setiap akselerasi punya tone yang merata dan terkontrol sampai atas, dengan decay yang bersih. Untuk sesuatu yang roda tiganya berdiri sendiri tanpa kickstand, suara itu punya authoritas yang tidak terduga dari ukurannya.
Leon dan Noel mendengarkan dari samping dengan ekspresi yang kini berbeda. Lebih serius. Menganalisis.
"Bass-nya Timur dalam," kata Leon.
"Punya Bram panjang. Sepasang," kata Noel.
"Punya kita?" tanya Leon ke Timur.
"Punya kalian di frekuensi mid. Karakter paling vokal dari empat motor."
"Kalau kita jalan bareng semua?"
Timur mematikan MP3. "Nanti tau sendiri di jalan."
---
Pak Wardi menyerahkan nota di meja kecilnya. Total keseluruhan — engine swap dengan semua part, pemasangan, tuning, jetting, brake upgrade, suspension, dan ongkos pasang exhaust untuk dua unit Monkey Baja.
Leon mengambil nota itu. Membacanya. Memberikan ke Noel. Noel membacanya.
Keduanya mengeluarkan dompet masing-masing.
Kemudian menghitung.
Kemudian menghitung lagi.
Kemudian Leon meletakkan uangnya di meja dan berkata dengan nada yang sangat tenang untuk situasi ini: "Kita kurang."
"Berapa?" tanya Bram.
"Lima puluh persen."
Hening di bengkel.
Timur menghela napas. "Gue cover sisanya. Udah, selesai."
"Gue juga," kata Bram. "Bagi dua sama Timur."
"Jangan," kata Leon.
"Bukan jangan," kata Bram. "Gue—"
"Jangan," kata Noel.
"Lo berdua—"
"Itu utang kami," kata Leon. "Ke kas band. Kami cicil."
"Kas band buat keperluan band," kata Timur. "Ini motor pribadi lo. Bukan inventory band."
"Motor kami yang kami pakai buat dateng ke gig," balas Noel. "Itu band-adjacent."
"Band-adjacent bukan terminologi yang nyata."
"Sekarang jadi nyata."
Bram menyilangkan tangan. "Kalian baru delapan belas. Gue sama Timur yang—"
"Justru karena itu," kata Leon. Nada suaranya tidak berubah, tapi ada sesuatu di dalamnya yang lebih settled. "Kami baru delapan belas. Kalau kalian yang bayar, terus kami cicil ke kalian, itu lain soal. Kami merasa kayak dikasih belas kasihan. Kalau ke kas band, itu beda. Itu sistem."
"Sistem yang lo karang sendiri baru aja."
"Semua sistem dimulai dari seseorang yang karang." Leon menatap Bram. "Lo sarjana hukum. Lo harusnya paham ini."
Bram membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Timur menoleh ke Bram dengan ekspresi yang sangat ingin berkata dia punya poin.
"Ini... tidak sepenuhnya salah secara argumen," kata Bram akhirnya.
"Jadi setuju?" tanya Noel.
"Gue bilang argumennya tidak sepenuhnya salah. Gue belum bilang setuju."
"Itu udah setengah setuju."
"Setengah setuju bukan setuju."
"Tapi lebih dari tidak setuju."
Pak Wardi duduk di bangku bengkelnya. Fajar menemaninya. Keduanya menonton dengan ekspresi orang yang menikmati pertandingan yang tidak ada taruhannya tapi tetap menarik.
"Oke," kata Timur. "Gue propose solusi. Kas band tanggung sisanya, kalian cicil ke kas band dengan nominal yang tidak boleh lebih dari dua puluh persen dari income ngamen bulan berjalan. Biar tidak mencekik."
Leon dan Noel berbisik cepat satu sama lain — dua detik.
"Deal. Tapi kami yang pegang pencatatannya."
"Gue minta copy laporan bulanan."
"Ada biaya administrasi."
Timur menatap langit-langit bengkel. "Tidak ada biaya administrasi."
"Ini negosiasi."
"Kalian baru deal dua detik lalu."
"Negosiasi bisa dibuka kembali."
"TIDAK BISA," kata Bram dan Timur bersamaan.
Dua detik hening.
Kemudian Leon tertawa — bukan tawa yang dibuat-buat, tapi tawa yang jebol keluar karena tidak bisa ditahan lagi. Noel menyusul satu detik kemudian, dan dalam tiga detik semua orang di bengkel termasuk Pak Wardi dan Fajar ikut tertawa.
Pak Wardi menggeleng pelan sambil masih tertawa. "Anak-anak saiki, jan pinter-pinter tenan lho."
Bram menarik napas. Mengeluarkannya. "Oke. Kas band. Cicilan wajar. Tidak ada biaya administrasi."
"Dicatat," kata Noel, masih tertawa.
"Dicatat," ulang Leon.
Mereka membayar sisanya dengan uang kas band yang Timur pegang sementara. Pak Wardi menerima dengan senyum lebar, lalu berpaling ke Fajar dan berkata sesuatu dalam Jawa yang tidak semua orang di sana tangkap sepenuhnya — tapi dari nada dan tawa Fajar yang mengikuti, kemungkinan besar isinya positif.
---
Selagi Fajar membereskan dus dan sisa packaging, Bram menghubungi seseorang.
Nada tunggu tiga kali.
"Kang."
"Iya, Mas?" Suara Kang Gusep terdengar dengan latar belakang suara elektronik — kemungkinan sedang servis sesuatu. Ritme bicaranya pelan dan teratur, ada sedikit lilt Jawa-Sunda yang muncul natural di ujung kalimat.
"Perlu bantuan mindahin mesin. Mesin lama Monkey Baja-nya Leon sama Noel. Dua unit. Mau ditaro dulu di gudang rumah saya."
Hening sebentar.
"Mindahin mesin, Mas?"
"Iya, Kang."
"Mesin... motor?"
"Dua mesin motor."
Hening lagi. Lebih panjang. Terdengar suara solder diletakkan.
"Ini... urusan ngeband, Mas?"
Bram menimbang jawabannya. "Ini urusan band-adjacent, Kang."
"Band-adjacent teh apa, Mas?"
"Nanti kujelasin. Intinya, tetap dibayar, Kang. Sama kayak biasa."
Suara Kang Gusep berubah — dari nada keberatan yang sedang dibentuk menjadi sesuatu yang lebih pragmatis. "Oh. Iya, Mas, saya ke bengkelnya dulu ambil L300. Ini lagi setengah jam lagi kelar, nggih?"
"Santai, Kang. Kita tunggu di sini."
"Siap, Mas. Permisi."
Bram menutup telepon.
"Kang Gusep mau?" tanya Timur.
"Begitu tau tetap dibayar, langsung oke."
"Efisien."
"Konsisten."
---
L300 Kang Gusep tiba empat puluh menit kemudian — tepat ketika Leon sedang duduk di jok Monkey Baja-nya dalam kondisi motor mati, hanya untuk merasakan posisi duduknya yang kini berbeda karena shock belakang sudah diganti.
Kang Gusep turun dari kabin, melihat dua mesin motor bekas yang sudah dikeluarkan Fajar dan diletakkan di sudut bengkel, lalu menatap Bram dengan ekspresi yang sangat sabar untuk situasi ini.
"Dua mesin, Mas."
"Dua mesin, Kang."
"Berat."
"Makanya minta bantuan Kang Gusep."
Kang Gusep mengangguk pelan — kepala mengangguk, tapi mata masih menatap dua mesin cabutan itu dengan cara yang mengkomunikasikan bahwa dia sedang mendamaikan ekspektasi awal pekerjaan hariannya dengan kenyataan yang ada di depannya sekarang.
"Nggih. Ayo, Mas. Angkat bareng."
---
Di luar bengkel, keempat motor berdiri di halaman — DR800S, MP3 Yourban, dan dua Monkey Baja yang kini memiliki mesin berbeda, exhaust berbeda, dan energy berbeda.
Noel menarik throttle sekali dalam kondisi netral.
Suara Two Brothers mengisi halaman bengkel — dua motor, dua pipa, satu layer suara yang lebih besar dari ukuran kedua motor gabungan.
Leon melakukan hal yang sama.
Pak Wardi melambai dari pintu bengkel. "Monggo, monggo. Ati-ati neng dalan, ya!"
---
Mereka keluar dari area bengkel satu per satu.
Noel di depan, Monkey Baja-nya membuka throttle pelan ketika masuk ke jalan yang lebih lebar. Suara Two Brothers-nya keluar dengan tone yang mid-forward dan articulat — setiap rpm terdengar jelas, tidak blur, seperti seseorang yang berbicara dengan diksi bersih.
Leon mengikuti persis di belakangnya, dan ketika dua Monkey Baja berjalan beriringan, suara mereka overlap menjadi sesuatu yang tidak seperti dua motor kecil — ada kedalaman yang aneh, seperti dua suara yang saling mengisi.
Bram menyusul. Sepasang Dominator ST-nya bergulung di low-end dengan cara yang terasa berbeda dari tadi di halaman bengkel yang tertutup — di jalan terbuka, suaranya punya ruang untuk mengembang, dan karakternya makin jelas: panjang, warm, tidak terburu-buru. Motor yang lebih ringan beberapa kilogram dari sebelumnya, dan itu terasa di cara DR800S merespons input.
Timur terakhir. MP3 Yourban meluncur keluar dengan tiga roda yang menapak halus, dan Akrapovic-nya mengisi celah yang tersisa — bass yang lebih modern dan compact, precise. Seperti kick drum dengan decay yang dikontrol.
Di jalan lurus pertama, mereka berempat berjalan berdampingan selebar jalan memungkinkan.
Empat exhaust berbeda. Empat karakter berbeda. Dan entah bagaimana, semuanya tidak saling menabrak secara akustik — masing-masing punya register sendiri, punya ruang sendiri.
Leon memutar throttle lebih dalam. Motor langsung responsif dengan cara yang sangat berbeda dari sebelum engine swap — tidak ada lag, tidak ada rasa berat yang tidak perlu. Power datang bersih dan linear.
"INI," teriaknya ke arah Noel di sebelahnya.
"IYA INI," balas Noel dengan volume yang sama.
"TANJAKAN DIENG KEMARIN," teriak Leon.
"TIDAK AKAN TERJADI LAGI," teriak Noel.
Bram dan Timur mendengar percakapan teriakan itu dari sebelah.
Bram melirik Timur. Timur melirik balik.
"Pantai kapan?" tanya Timur.
"Akhir minggu ini kalau cuaca oke," kata Bram. "Camping. Bawa tenda sendiri-sendiri."
Jeda sebentar.
"...Apa tadi?" teriak Leon dari depan.
"PANTAI," balas Bram lebih keras.
"CAMPING," tambah Timur.
"KAPAN?" teriak Noel.
"AKHIR MINGGU!"
Leon dan Noel saling lirik di antara dua motor mereka yang berjalan beriringan.
Bram dan Timur memperlambat sampai sejajar dengan keduanya. Timur mencoba lagi dengan volume penuh: "AKHIR MINGGU, PANTAI, CAMPING—"
"YANG SEPI!" potong Leon.
"KAMI BUKAN WISATAWAN!" sambung Noel.
Timur mematikan setengah usahanya dan berbicara dengan volume normal ke Bram: "Gue gak ngerti kenapa kita masih mencoba ngobrol di kecepatan ini."
"Karena biasanya masih bisa," kata Bram.
"Biasanya kita tidak punya empat motor dengan exhaust baru yang semuanya bersuara."
Bram membuka mulut. Menutupnya. "Kita perlu interkom."
"Sudah terlambat menyadari ini."
"Terlambat dalam artian harusnya dari dulu, atau terlambat dalam artian sudah tidak bisa diperbaiki?"
"Yang pertama."
"Oke, jadi masih bisa diperbaiki."
"Ya, tapi tidak hari ini."
Dari depan, Leon — yang ternyata bisa membaca situasi dari gerak bibir atau mungkin memang kebetulan — berteriak: "INTERKOM!"
Noel: "UDAH LAMA HARUSNYA!"
Timur menoleh ke Bram dengan ekspresi yang mengkomunikasikan bahwa dia tidak tau apakah harus terkesan atau frustrasi dengan kemampuan kembar itu.
"Kita beli interkom," kata Bram dengan nada yang sudah final.
"Empat unit."
"Empat unit."
"HARUS SAMA SEMUA," teriak Leon, yang rupanya masih mendengarkan.
"HARUS SAMA SEMUA," ulang Noel.
"KITA TAHU," balas Bram dan Timur bersamaan.
---
Matahari sudah mulai bergerak ke tengah ketika mereka memutar balik ke arah Jogja. Empat motor, empat exhaust, empat karakter suara yang berbeda — dan satu kesepakatan baru yang tidak perlu ditulis di mana-mana tapi sudah dimengerti semua orang.
Pantai. Akhir minggu. Tenda masing-masing.
Dan empat interkom yang belum dibeli.
Suara Dominator ST Bram bergulung pelan di bawah semua yang lain — panjang, warm, dan sangat reliable. Di motor yang lebih ringan dari sebelumnya, di jalan yang terbuka, itu terasa seperti sesuatu yang memang dari awal seharusnya ada di sana.
Tidak jelek, pikirnya.
Tidak jelek sama sekali.

bersambung ke Part 7

Postingan populer dari blog ini

Ch. 1 - Prologue: Chaos on Wheels

Ch. 4 - Kamar Kosong

Ch. 2 part 2 - Malam di Wonosobo