Langsung ke konten utama

Postingan

Ch. 8 - Obrolan Panjang

Dua ukulele sopranissimo berhenti berbunyi sekitar pukul sembilan. Bukan karena diputuskan. Jari-jari Leon dan Noel berhenti bergerak seperti jam yang tidak perlu dimatikan karena sudah selesai fungsinya. Suara terakhir bergantung sebentar di udara pantai, lalu angin mengambilnya pergi. Api unggun sudah rendah tapi belum mati. Cukup untuk cahaya, cukup untuk bayangan empat wajah di pasir gelap. Bram berbaring miring, kepala di atas lengannya, menatap api. Rokok kedua baru saja dimatikan. Timur duduk tegak seperti selalu — lutut ke atas, tangan di lutut. Leon dan Noel berdampingan, dua sopranissimo diletakkan miring di pasir karena tidak ada yang peduli kalau pasir masuk ke badan kayu lima puluh ribu rupiah. Hening yang nyaman. Bukan hening yang buntu. Lalu Noel bersuara. "Kupang lebih banyak bintangnya dari ini. Tapi ini hampir sama." Kalimat itu keluar santai, seperti melanjutkan percakapan yang tidak pernah dimulai. Bram menoleh pelan. "...Kupang?" "Kami dari...
Postingan terbaru

Ch. 7 - Pantai

Timur mengirim foto ke grup WhatsApp " burnt memorial (jangan baperan) " pukul enam tiga puluh pagi. Bukan foto sunrise. Bukan foto motor. Empat kotak karton cokelat bersih, sejajar di atas meja kaca kecil — logo yang sama di semua sisi, ukuran identik. Tidak ada caption. Leon membalas dua menit kemudian: "itu apaan" Noel, satu detik setelah: "itu apaan" Bram: tidak membalas. Tapi centang biru sejak enam tiga puluh dua. Leon: "bram tau?" Noel: "bram tau?" Bram: 👍 Leon: "???" Noel: "???" Timur: terima kasih. I. APARTEMEN Satpam pos jaga apartemen The Residence Caturtunggal — name tag bertuliskan "WAHYU" yang terpasang sedikit miring — sudah terbiasa dengan berbagai jenis kendaraan yang masuk pagi hari. Grab, Gojek, motor biasa, sesekali mobil. Tapi pagi ini dia baru saja memproses sesuatu yang membutuhkan kalkulasi ulang. Suzuki DR800S masuk pertama. Suaranya terdengar dari radius yang tidak wajar untuk per...

Ch. 6 - Two Brothers

Bram menaruh ponselnya di atas meja studio dan meregangkan punggungnya. "Pak Wardi bilang semua part udah terpasang. Tinggal exhaust doang yang belum. Jadi kita ke sana, langsung pasang, langsung kelar." Timur yang duduk di tepi sofa sambil memainkan bass tanpa amp — hanya bunyi senar menghantam fretboard Dingwall-nya — mengangguk pelan. "Akrapovic gue udah nyampe bengkel kemarin. Dia bilang juga udah." "Yang kembar?" Timur mengetuk sisi bass dengan satu jari. Senyum tipis. Tidak menjawab. Bram menatapnya sebentar. "Misterius banget lo." "Nanti tau sendiri." --- Pukul sembilan lewat dua belas menit, sebuah Avanza putih berhenti di depan rumah Bram. Pintu belakang terbuka, dan dua pasang kaki dengan panjang persis sama turun ke aspal secara bersamaan. Leon dan Noel. Buzz cut. Kaos yang sama. Celana yang sama. Ekspresi yang sama — antara excited dan berusaha terlihat tidak terlalu excited. "Gue kira kalian naik taksi sendiri-sendiri,...

Ch. 5 - Muat

Malam sebelumnya, Bram kirim pesan ke grup. Bram: besok kumpul studio jam 5 pagi. kita load bareng dulu baru berangkat. Timur: lah pagi banget Bram: venue soundcheck jam 8. jarak 45 menit. itung mundur sendiri. Leon: oke Noel: oke Timur: oke tapi aku protes dulu Bram: protes diterima. jam 5 tetap. --- I. LIMA PAGI — GARASI BRAM Langit masih ungu tua waktu L300 masuk ke gang. Kang Gusep tidak pernah terlambat. Ini bukan sesuatu yang pernah diumumkan — hanya fakta yang sudah ada, seperti gravitasi dan harga parkir yang selalu naik. L300 berhenti tepat di depan garasi. Mesinnya mati. Kang Gusep turun — kaos polos, celana kain abu-abu, sandal jepit yang sudah terlalu banyak mengenal aspal Jogja. Di dalam garasi, semua equipment sudah tersusun di lantai. Bram yang rapikan semalam — layer demi layer, sesuai checklist yang dicetak dua kali. Drum hardware paling bawah. Bass amp dan guitar amp layer pertama. Drum shells layer dua. Acoustic amps dan bass di layer tiga. Quad Cortex, mic kit, cabl...