Dua ukulele sopranissimo berhenti berbunyi sekitar pukul sembilan. Bukan karena diputuskan. Jari-jari Leon dan Noel berhenti bergerak seperti jam yang tidak perlu dimatikan karena sudah selesai fungsinya. Suara terakhir bergantung sebentar di udara pantai, lalu angin mengambilnya pergi. Api unggun sudah rendah tapi belum mati. Cukup untuk cahaya, cukup untuk bayangan empat wajah di pasir gelap. Bram berbaring miring, kepala di atas lengannya, menatap api. Rokok kedua baru saja dimatikan. Timur duduk tegak seperti selalu — lutut ke atas, tangan di lutut. Leon dan Noel berdampingan, dua sopranissimo diletakkan miring di pasir karena tidak ada yang peduli kalau pasir masuk ke badan kayu lima puluh ribu rupiah. Hening yang nyaman. Bukan hening yang buntu. Lalu Noel bersuara. "Kupang lebih banyak bintangnya dari ini. Tapi ini hampir sama." Kalimat itu keluar santai, seperti melanjutkan percakapan yang tidak pernah dimulai. Bram menoleh pelan. "...Kupang?" "Kami dari...
Timur mengirim foto ke grup WhatsApp " burnt memorial (jangan baperan) " pukul enam tiga puluh pagi. Bukan foto sunrise. Bukan foto motor. Empat kotak karton cokelat bersih, sejajar di atas meja kaca kecil — logo yang sama di semua sisi, ukuran identik. Tidak ada caption. Leon membalas dua menit kemudian: "itu apaan" Noel, satu detik setelah: "itu apaan" Bram: tidak membalas. Tapi centang biru sejak enam tiga puluh dua. Leon: "bram tau?" Noel: "bram tau?" Bram: 👍 Leon: "???" Noel: "???" Timur: terima kasih. I. APARTEMEN Satpam pos jaga apartemen The Residence Caturtunggal — name tag bertuliskan "WAHYU" yang terpasang sedikit miring — sudah terbiasa dengan berbagai jenis kendaraan yang masuk pagi hari. Grab, Gojek, motor biasa, sesekali mobil. Tapi pagi ini dia baru saja memproses sesuatu yang membutuhkan kalkulasi ulang. Suzuki DR800S masuk pertama. Suaranya terdengar dari radius yang tidak wajar untuk per...