Ch. 7 - Pantai

Timur mengirim foto ke grup WhatsApp "burnt memorial (jangan baperan)" pukul enam tiga puluh pagi.
Bukan foto sunrise. Bukan foto motor. Empat kotak karton cokelat bersih, sejajar di atas meja kaca kecil — logo yang sama di semua sisi, ukuran identik.
Tidak ada caption.
Leon membalas dua menit kemudian: "itu apaan"
Noel, satu detik setelah: "itu apaan"
Bram: tidak membalas. Tapi centang biru sejak enam tiga puluh dua.
Leon: "bram tau?"
Noel: "bram tau?"
Bram: 👍
Leon: "???"
Noel: "???"
Timur: terima kasih.

I. APARTEMEN
Satpam pos jaga apartemen The Residence Caturtunggal — name tag bertuliskan "WAHYU" yang terpasang sedikit miring — sudah terbiasa dengan berbagai jenis kendaraan yang masuk pagi hari. Grab, Gojek, motor biasa, sesekali mobil. Tapi pagi ini dia baru saja memproses sesuatu yang membutuhkan kalkulasi ulang.
Suzuki DR800S masuk pertama. Suaranya terdengar dari radius yang tidak wajar untuk perumahan di jam ini — dua knalpot Dominator ST, warm di low-end, panjang, mengalir. Pak Wahyu melirik dari balik pos. Laki-laki tinggi, jaket tebal, carrier besar di punggung, kaki hampir lurus sempurna di kedua sisi motor besar itu.
Pak Wahyu mengangguk. Penghuni tamu — lantai delapan, sudah daftar.
Lima menit kemudian, dari arah yang sama, terdengar sesuatu yang berbeda. Bukan menggelegar. Lebih ke mid-range yang articulat, dua sumber suara, beriringan, dengan karakter yang identik dan sedikit harmonis satu sama lain.
Pak Wahyu mendongak dari buku catatannya.
Dua Honda Monkey Baja, putih-merah, masuk perlahan ke gerbang. Dua pengemudi. Dua carrier di punggung. Dua wajah yang—
Pak Wahyu melepas kacamatanya. Mengusapnya. Memasang kembali.
"Kembar?"
"Kembar, Pak." — Leon.
"Kembar, Pak." — Noel, setengah detik setelah.
Pak Wahyu mencatat di buku tamu. Lama. Lebih lama dari biasanya — bukan karena prosesnya rumit, tapi karena dia sedang memproses apakah dua orang yang tampak identik sempurna perlu dicatat sebagai dua baris atau cukup satu.
"Nama?"
"Leon."
"Noel."
"...Asli nama kalian itu?"
"Asli, Pak."
Pak Wahyu menatap kolom nama di buku tamu. Menatap Leon. Menatap Noel. Balik ke buku.
"Leon-Noel, atau Noel-Leon?"
"Tidak ada gabungan, Pak," kata Leon dengan sabar. "Masing-masing satu nama sendiri."
Pak Wahyu menulis dua baris. Menutup buku. Memberikan stiker tamu.
"Motor taruh di parkiran bawah ya, Mas. Yang kecil itu di area motor."
Leon dan Noel mengangguk dan masuk. Dua Monkey Baja terparkir di sebelah DR800S — perbedaan visual yang, kalau difoto dari sudut yang tepat, akan terlihat seperti kolase bertema kesenjangan skala.
Pak Wahyu menatap parkiran dari posnya sebentar.
Lalu kembali ke buku catatannya. Ada beberapa hal yang lebih baik tidak terlalu lama dipikirkan sebelum jam tujuh pagi.

II. UNIT 8B
Apartemen Timur bukan besar. Tapi dihuni dengan cara yang membuat setiap sentimeter terasa disengaja — rak besi tipis di dinding kiri berisi buku manajemen yang punggungnya tidak berdebu, meja kerja kecil di sudut menghadap jendela, kursi ergonomis. Dapur mungil tapi bersih. Dan di satu sudut ruang tamu, sedikit tidak cocok dengan keseluruhan estetika efisiennya, ada bass stand dan amplifier kecil berdiri tenang seperti tamu tetap yang sudah punya tempatnya sendiri.
Leon dan Noel masuk dan langsung berhenti di ambang pintu.
"Lo tinggal di sini sendiri?" kata Leon ke Timur, yang sudah duduk di sofa dengan kopi di tangan.
"Sudah setahun lebih."
Leon dan Noel mengedarkan pandangan secara bersamaan — dari dapur, ke rak buku, ke jendela kota yang belum sepenuhnya terang.
"Kita perlu pindah," kata Noel pelan ke Leon.
"Sangat perlu," kata Leon balik.
"Lo berdua bayar berapa per bulan di kosan?" tanya Timur.
"Tiga ratus lima puluh."
"Di sini delapan ratus. Beda tipis."
Leon dan Noel menatapnya. "Itu bukan tipis."
"Dalam konteks sekarang, iya. Dua tahun lagi?" Timur mengangkat bahu. "Beda tipis."
Bram yang sudah duduk di kursi makan dari tadi memotong sebelum Leon bisa membalas: "Nanti urusan kosan kalian. Sekarang—" dia mengangguk ke empat kotak di meja kaca, "—buka."

Empat kotak yang sama. Logo Sena di setiap sisi. Sena 50S — mesh intercom system, koneksi sampai dua puluh empat pengguna sekaligus, Bluetooth 5.0, jangkauan hampir dua kilometer di kondisi terbuka.
Timur mengambil satu kotak. Membuka. Di dalamnya: unit speaker-mic yang compact, braket mounting berbentuk U, kabel USB-C, panduan singkat dalam empat bahasa.
"Gue yang beli?" tanya Timur ke Bram.
"Lo yang terima. Gue yang bayar."
"Lo kirim ke sini tapi tidak bilang apa-apa."
"Biar ada alasan untuk ke apartemen lo."
Timur menatap Bram. "Itu tidak perlu reasoning."
"Tapi efektif."
Leon sudah membuka kotaknya sendiri — mengangkat unit intercom, memutarnya di tangan. "Cara masangnya gimana?"
"Di helm," kata Bram. "Braket diklik ke sisi luar, speaker masuk ke area telinga, mic fleksibel di depan."
"Sama persis semua empat?"
Bram menatap Leon dengan tatapan orang yang sudah tahu pertanyaan ini akan datang. "Sama persis semua empat."
Noel sudah membuka kotaknya juga, menaruh unitnya di sebelah unit Leon di meja kaca dan menyejajarkan keduanya dengan presisi yang tidak perlu tapi dilakukan secara refleks.
Dua puluh menit berikutnya diisi dengan suara klik plastik, sesekali "ini yang mana dulu"-nya Noel, dan Timur yang mengikuti panduan pemasangan dengan cara yang sama seperti dia melakukan semua hal — teratur, tidak terburu, tidak perlu bantuan siapapun.
Bram selesai paling dulu. Helm full-face-nya terpasang dengan bersih — speaker di posisi tepat, tidak menekan telinga, mic fleksibel di posisi yang tidak menghalangi ventilasi.
"Test," kata Bram.
Timur yang baru selesai pasang merespons dari helm: "Terima."
Suaranya masuk ke earpiece Bram — bersih, tidak ada noise.
"Bagus."
"Ini bukan Bluetooth murahan."
Leon mengangkat tangan dari balik sofa — helm sudah di kepala, tapi satu kabel masih menjuntai karena lupa dirapihin. "Gue nyambung ga?"
Suaranya masuk. Jelas.
"Nyambung," jawab Bram.
"KERENNNN—"
Tiga orang menarik handset masing-masing dari kepala sekaligus.
"Leon. Volume."
"Maaf. Reflek."
Noel sudah selesai pasang juga dengan tenang, terkoneksi tanpa drama. Empat unit. Empat helm. Satu mesh network kecil yang beroperasi dalam radius yang jauh melebihi kebutuhan empat motor yang tidak pernah terlalu jauh berpisah satu sama lain.
Timur menatap empat helm yang tergeletak di sofa — semua terpasang, semua identik setup-nya.
"Gue tanya dengan dua tahun terlambat, tapi — kenapa kita tidak beli ini dari awal?"
"Karena," kata Bram, "dulu kita tidak punya empat exhaust baru yang bikin percakapan di jalan jadi tidak mungkin."
"Fair."

III. KEBERANGKATAN
Turun ke parkiran dengan carrier masing-masing. Bram duluan — carrier gunung lima puluh liter, warna gelap, sudah dipack semalam dengan cara yang rapi dan efisien. Timur menyusul — carrier lebih kecil tapi padat, dikemas dengan presisi yang sama. Leon dengan carrier merahnya. Noel dengan carrier hijau.
Pak Wahyu dari pos jaga menatap prosesi empat orang dengan carrier besar dan empat helm ini dari jauh.
"Mau kemana, Mas?"
"Camping, Pak," kata Bram. "Pantai Srakung."
"Jauh juga. Hati-hati ya, di sekitar Wonosari ada satu ruas yang lagi diperbaiki." Pak Wahyu melirik konvoi motor yang sudah siap di parkiran — DR800S besar, MP3 tiga roda, dua Monkey Baja kecil — lalu ke carrier-carrier yang akan diikatkan. "Semua bisa muat, Mas?"
"Bisa, Pak," kata Leon, tanpa penjelasan lebih lanjut.
Pak Wahyu tidak bertanya lebih jauh. Ada beberapa hal yang memang lebih baik dilihat saja hasilnya.

Carrier Bram terikat di rack belakang DR800S dengan sistem yang sudah dia test dua kali. Carrier Timur di MP3 — ada luggage platform kecil di belakang yang memang untuk ini. Carrier Leon dan Noel di jok belakang Monkey Baja masing-masing, diikat dengan bungee cord yang dibeli di minimarket pagi tadi, dengan hasil yang fungsional.
Noel menatap ikatan carrier di Monkey Bajanya. Menatap ikatan carrier di Monkey Baja Leon di sebelahnya.
"Oke."
"Oke," kata Leon.
Helm turun. Intercom on. Koneksi established dalam tiga detik — suara napas dan ambient sound dari empat titik berbeda masuk ke earpiece masing-masing.
Timur dari atas MP3 yang sudah idle: "Kita berangkat."
Leon di intercom, hampir berbisik: "...ini enak banget."
Noel: "Sangat enak."
Bram: "Diam dan jalan."
Tapi nada suaranya tidak se-serius kata-katanya.

Keluar ke jalan Caturtunggal yang sudah mulai ramai. Formasi terbentuk natural: DR800S di depan, MP3 di belakangnya, dua Monkey Baja di belakang. Empat exhaust di jalan perkotaan — Dominator ST Bram, Akrapovic Timur, dua Two Brothers kembar — menciptakan lapisan suara yang tidak bisa dikategorikan sebagai kebisingan semata.
Beberapa pengendara menoleh.
Seorang bapak di motor bebek melirik dua Monkey Baja, lalu melirik Leon, lalu melirik Noel, lalu kembali fokus ke jalan dengan ekspresi orang yang memutuskan bahwa ini bukan urusannya.
Di intercom, suara Noel: "Bram, kita kelihatan keren atau aneh?"
Jawaban Bram datang tanpa jeda: "Keduanya. Itu bukan hal yang buruk."
"Fair," kata Leon.

Dua Monkey Baja, dengan mesin baru dan rasio gear yang sudah direvisi, melewati tanjakan-tanjakan kecil di luar Jogja dengan cara yang sangat berbeda dari Dieng dua bulan lalu. Di satu tanjakan ringan, Leon membuka gas dan merasakannya: power datang bersih dan linear, tidak ada lag, tidak ada mesin yang seolah ikut protes.
Di intercom, pelan: "Noel."
"Iya."
"Ingat Dieng?"
Hening dua detik.
"...Pak Wardi terbaik."

IV. CAFE WONOSARI
Mereka sampai Wonosari sekitar satu jam kemudian. Di pinggir jalan sebelum masuk kota, ada kafe kecil di dalam ruko yang catnya baru — dari luar terlihat sederhana, tapi parkirannya hampir penuh sejak pagi. Pertanda yang tidak pernah salah.
Dari dalam: AC, meja kayu yang decent, menu di papan tulis kapur. Tidak ada nama di papan luar, hanya ilustrasi cangkir kopi kecil dari cat semprot.
Mereka masuk dengan carrier yang ditinggal di motor. Meja kayu panjang di pojok dekat jendela — cukup untuk empat orang dan empat helm.
Pelayan datang — perempuan muda, celemek hitam, rambut diikat.
"Mau pesan apa, Mas?"
Bram tanpa membuka menu: "Filter arabica ada?"
"Ada, Pak. Hari ini ada Flores Bajawa sama Gayo."
"Bajawa."
Pelayan mencatat. Ke Timur.
"Cappuccino."
Ke Leon dan Noel. Leon membaca menu dari atas ke bawah. Pelan. Sangat pelan. Noel membaca dari arah berlawanan, dan keduanya berhenti di baris yang sama.
"Yang judulnya 'Tropical Sunrise' isinya apa, Mbak?"
"Es teh mangga, sirop, jelly nata de coco, susu, boba, sama whipped cream, Mas."
Leon dan Noel saling pandang.
"Dua," kata mereka bersamaan.
Pelayan mencatat tanpa ekspresi tambahan — tapi ada sesuatu di cara dia menutup buku kecilnya yang menunjukkan bahwa dia sudah mengantisipasi ini sejak melihat keduanya masuk.

Kopi datang duluan. Filter arabica Bram dalam pour-over sederhana, hitam, bersih. Cappuccino Timur dengan microfoam yang rapi.
Dua Tropical Sunrise datang tiga menit kemudian dalam gelas tinggi transparan — lapisan kuning-oranye di bawah, susu di tengah, boba hitam, jelly putih, dan whipped cream di atas dengan sedotan jumbo warna-warni.
Bram menatap kedua gelas itu sebentar.
"Itu minuman atau proyek seni."
"Minuman," kata Leon, sudah menyedot dari sedotan jumbo.
"Dan proyek seni," tambah Noel.
"Dan enak banget," kata Leon.
Bram mengambil cangkir filternya. Minum. Diam sebentar dengan cara orang yang sedang membiarkan rasa bicara sendiri.
"Bagus," katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri dari ke siapa-siapa.

Ponsel Bram bergetar di meja — notifikasi dari nama klien. Dia melirik layarnya sebentar, lalu ke yang lain. "Gue angkat dulu."
Ke teras kecil di depan kafe yang cukup sepi untuk bicara dengan benar.
Dari dalam, melalui kaca jendela, mereka bisa melihat Bram berdiri dengan satu tangan di saku, satu lagi membawa ponsel ke telinga. Casing kulit cokelat gelap Pixel 9 Pro-nya terlihat di genggamannya — ada sesuatu di teksturnya yang cocok dengan cara dia memegangnya, grounded tanpa perlu diperlihatkan. Beberapa detik kemudian dia mengeluarkan pak Marlboro Gold dari saku jaket, ketuk ujungnya, satu batang keluar. Nyalakan. Asap pertama keluar bersamaan dengan dia mulai bicara.
Di dalam, Timur menyesap cappucinonya. Noel sedang menghisap boba dari sedotannya. Semuanya mendengar ambient tanpa benar-benar mendengarkan.

Di teras:
"Pasal delapan belas ayat dua." Suara Bram datar dan tidak terburu. "Klausul itu valid secara berdiri sendiri. Tapi di pasal dua puluh tiga, ayat empat, ada kalimat yang efektif mengecualikan kondisi yang sama persis. Dua pasal yang saling bertentangan dalam satu kontrak."
Klien bicara dari seberang.
"Justru itu poinnya," kata Bram. Tidak ada urgensi di suaranya — lebih ke orang yang menjelaskan sesuatu yang sudah dia tahu dari dua hari lalu dan sabar menunggu timing yang tepat untuk mengatakannya. "Kalau mereka mau enforce pasal delapan belas, kita bisa challenge dengan pasal dua puluh tiga. Ambiguitas ada di kontraknya, bukan di fakta lapangan. Ini bisa diargumentasikan dengan kuat."
Asap rokok keluar pelan ke udara Wonosari yang masih segar.
"Draftkan surat keberatan dulu. Jangan ada aksi sebelum itu keluar." Jeda. "Kita punya posisi yang cukup kuat, tapi harus dipakai dengan timing yang benar."
Klien berbicara lebih panjang kali ini.
"Iya." Nada akhir yang singkat tapi final — seperti menutup folder yang sudah selesai. Klien rupanya sudah jauh lebih tenang dari waktu panggilan dimulai.
Bram matikan telepon. Satu tarikan terakhir dari rokoknya. Matikan di asbak teras. Masuk.
"Beres?" tanya Timur.
"Klien panik. Kontraknya punya loophole yang sebenarnya menguntungkan dia." Bram duduk, mengambil cangkir filternya. "Sekarang tidak panik."
"Itu cepat."
"Masalahnya jelas dari awal. Kalau masalahnya jelas, solusinya tidak butuh waktu lama."
Leon mengangkat Tropical Sunrise-nya ke arah Bram. Gelas tinggi berisi empat lapisan warna vs cangkir hitam polos.
"Cheers."
Bram mengangkat cangkirnya sebagai balasan.

Sepuluh menit kemudian, giliran Timur.
Galaxy S24 Ultra-nya bergetar di meja — layar lebar, casing armor hitam yang tebal, notifikasi dari nomor yang tersimpan dengan nama singkat tanpa deskripsi tambahan. Timur melihatnya. Berdiri tanpa basa-basi.
"Gue keluar sebentar."
Ke teras yang sama.

Dari dalam kafe, suaranya tidak terdengar jelas. Tapi ada sesuatu di cara Timur berdiri yang berbeda dari postur default-nya yang selalu sangat settled. Bahu sedikit lebih tegang. Satu tangan sesekali gestikulasi kecil — jenis gestikulasi yang orang lakukan waktu sedang berargumen tapi berusaha tidak terlihat berargumen.
Leon melirik ke Noel. Noel melirik balik.
"Supplier," kata Bram tanpa mengangkat mata dari cangkir kopinya.
"Kedengarannya alot," kata Leon.
"Timur selalu begitu kalau ada yang coba ganti terms di tengah jalan." Bram minum. "Dia akan selesaikan."

Di teras:
"Itu bukan yang disepakati di awal." Nada Timur rendah dan terkontrol — bukan berbisik, bukan keras, tapi ada densitas di setiap kata yang membuat jelas bahwa ini bukan percakapan yang fleksibel dari satu arahnya. "Delivery window bergeser dua minggu ke tiga minggu itu perubahan material. Bukan detail kecil."
Supplier rupanya punya argumen, karena Timur mendengar beberapa detik sebelum merespons.
"Gue mengerti posisi kalian." Dia mengeluarkan A Mild dari saku, menyalakan. Satu tarikan, diembuskan ke samping. "Tapi 'mengerti posisi kalian' dan 'menerima perubahan terms unilateral' itu dua hal yang berbeda."
Beberapa putaran negosiasi berlangsung — Timur berbicara, berhenti, mendengar, berbicara lagi. Di satu titik dia diam cukup lama, dan ada sesuatu di cara diam itu yang bukan bingung — lebih ke orang yang sedang memilih dari beberapa opsi yang sudah dia siapkan sebelum telepon bahkan berdering.
"Lima belas persen advance tambahan sebagai kompensasi extension, dengan klausul penalty per minggu kalau melewati batas baru yang kita sepakati. Itu yang bisa gue tawarkan. Kalau di atas itu, gue perlu eskalasi ke level berbeda dan itu memakan waktu yang tidak menguntungkan kita berdua."
Hening di ujung sana.
Lalu rupanya ada jawaban — karena Timur mengangguk satu kali, walaupun tidak ada yang melihatnya.
"Oke. Kirim konfirmasi tertulis hari ini."
Matikan telepon. Satu tarikan terakhir A Mild, dimatikan di asbak teras. Masuk. Duduk. Minum cappuccino yang sudah tidak terlalu panas tapi masih acceptable.
"Beres?" tanya Bram.
"Beres."
"Mereka minta apa?"
"Extend delivery tiga minggu tanpa kompensasi."
"Dapat?"
"Dua minggu dengan kompensasi yang masuk akal." Timur menaruh cangkirnya. "Tidak ada yang punya posisi sempurna dalam negosiasi. Yang penting jangan ada yang merasa kalah."
Bram mengangguk. Kalimat yang kedengarannya seperti buku teks manajemen, tapi dari mulut Timur terasa seperti sesuatu yang ditemukan lewat jam terbang, bukan ruangan kuliah.
"Leon," kata Timur ke sebelahnya.
Leon mendongak dari Tropical Sunrise-nya.
"Jaga poin itu kalau suatu hari kamu dealing sama supplier untuk apapun."
Leon tampak sedikit terkejut dituju langsung. "...Oke."
"Serius."
"Oke, serius."

Pelayan melintas mengecek meja mereka. Matanya menyapu — satu cangkir hitam sudah hampir kosong, satu cappuccino setengah, dua gelas Tropical Sunrise yang whipped cream-nya sudah runtuh dan boba-nya sudah habis tapi es-nya masih ada.
"Masih mau tambah sesuatu, Mas?"
Leon dan Noel keduanya melihat ke sisa gelas masing-masing, lalu ke satu sama lain.
"Satu lagi?" kata Leon.
"Satu lagi," kata Noel.
"Dua lagi," kata Leon ke pelayan.
Pelayan mencatat. Berjalan ke dapur.
Bram menatap punggung pelayan yang pergi. Menatap Timur. Timur mengangkat bahu dengan ekspresi yang artinya bukan urusan gue.

Sementara itu — atau lebih tepatnya, selama semua itu berlangsung tadi — Leon dan Noel sudah dari tadi bergiliran menatap sesuatu di masing-masing ponsel mereka.
Yang dari luar terlihat seperti scrolling biasa ternyata, kalau diperhatikan, adalah sesuatu yang lebih terfokus — kedua iPhone SE merah dengan casing clear itu sesekali dirotasi horizontal, diketuk di titik-titik yang spesifik, dan keduanya sedang melihat hal yang berbeda tapi saling berkaitan.
Bram memperhatikan ini setelah duduk kembali dari teras tadi.
"Kalian ngapain dari tadi?"
"Upload," kata Leon.
"Konten apa?"
Noel menaikkan bahu sedikit — gesture yang bisa diinterpretasikan sebagai tidak terlalu penting atau agak penting tapi sedang santai menyampaikannya.
"Cubs," kata Leon.
Bram menaruh cangkir filternya. "Instagram Cubs yang buat ngamen?"
"Dan YouTube. Dan TikTok." Leon memutar HPnya ke arah Bram — tampilan kanal YouTube di layar, thumbnail video yang sudah rapi dengan estetika yang konsisten. "Kami buka beberapa channel baru. Isinya cover lagu yang kami aransemen ulang, sama tutorial ukulele."
Bram mengambil HP itu. Melihat layarnya. Subscriber count, view count, beberapa video dengan thumbnail yang — untuk dua orang yang beli ukulele di toko pancing — terlihat cukup profesional. Dia melihat ke Timur. Kembali ke layar.
"Sejak kapan?"
"Tiga bulan lalu."
"Tidak bilang siapa-siapa?"
"Coba-coba dulu," kata Noel. "Kalau tidak ada yang nonton, tidak perlu dibahas."
"Ada yang nonton?"
Leon dan Noel saling pandang.
"Lumayan," kata Leon.
Bram menatap angkanya lagi. Untuk tiga bulan pertama di kanal yang tidak dipromosikan secara aktif, angkanya cukup untuk membuat dia sedikit menegakkan punggung.
"Ini bukan 'lumayan.'"
"Belum besar," koreksi Noel.
"Tapi sudah ada yang DM minta tutorial chord spesifik di salah satu video," kata Leon. "Jadi kami bikin seri tutorial mulai dari dasar."
Timur menarik HP itu. Scroll satu video — detik-detik awal, dua ukulele masuk bersamaan dalam suatu chord yang sekalipun melalui speaker kecil terdengar familiar tapi punya karakter berbeda dari versi aslinya. Dia letakkan HP. Tidak berkomentar langsung.
"Lo berdua," kata Bram, "sambil ngamen di kafe dan warung, sambil bayar cicilan ke kas band, juga sekarang bikin konten digital."
"Coba-coba," kata Leon lagi. Tapi sudut bibirnya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan bahwa ini sudah jauh melewati definisi coba-coba sejak beberapa minggu lalu.
"Kerja keras juga," kata Timur akhirnya, dengan nada yang sangat datar tapi bukan datar yang kosong — lebih ke datar yang dipakai orang yang ingin pujiannya sampai tanpa perlu dikemas berlebihan.
Leon dan Noel tidak langsung menjawab. Tapi ada sesuatu yang berubah di postur keduanya — bahu sedikit turun, satu lapisan ketegangan yang tidak mereka sadari ada tadi kini tidak ada.
"Tapi," kata Bram dengan nada yang naik satu oktaf dalam cara yang mencurigakan, "kalau channel-nya grow dan mulai generate income, itu masuk pertimbangan negosiasi cicilan kas band enggak?"
"BRAM—"
"Ini pertanyaan valid secara administratif."
"Cicilan tetap cicilan," kata Noel tegas.
"Setuju. Tapi kalau income naik, dua puluh persen dari income yang lebih besar itu juga angkanya lebih besar. Itu menguntungkan kas band."
Leon berhenti. "...Itu benar secara aritmatika."
"Gue tahu. Itulah mengapa ditanyakan."
Timur menyesap sisa cappucinonya. "Bagus. Kalau dua channel tumbuh bersamaan, kalian bisa sustainable secara finansial lebih cepat dari yang kalian perkirakan."
"Sustainable sounds bagus," kata Leon.
"Sangat sounds bagus," kata Noel.
"Berhenti bilang sounds," kata Bram.
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan teknis. Cuma mengganggu."
Dua Tropical Sunrise putaran kedua tiba di meja. Pelayan menaruhnya dengan ekspresi seseorang yang sudah tidak lagi heran pada apapun.

V. DUA MESIN CABUTAN
Di sela semua itu, waktu gelas kedua sudah setengah jalan dan boba terakhir sudah habis, Bram menyinggung sesuatu yang sudah ada di pikirannya sejak di bengkel Pak Wardi.
"Mesin lama Monkey Baja kalian."
Leon dan Noel mendongak.
"Yang di gudang gue sekarang."
"Iya?"
"Dijual aja. Lumayan buat ringankan cicilan."
Hening.
"Gue bisa bantu cariin pembeli," kata Timur. "Ada beberapa orang di komunitas restorasi yang mungkin tertarik mesin original Z50J. Nilai historisnya ada untuk yang cari."
Leon meletakkan sedotannya.
"Tidak."
Bram menatap Leon. Lalu Noel, yang menggeleng satu kali — tidak dramatis, tapi jelas.
"Alasannya?" tanya Bram.
Leon berpikir sebentar. Bukan karena tidak tahu alasannya, tapi karena sedang memilih cara mengatakannya.
"Mesin itu yang bawa kami ke Dieng," katanya akhirnya.
Hening.
"Pelan banget," tambah Noel.
"Sangat pelan," kata Leon. "Hampir disalip bapak-bapak jalan kaki dua kali. Mesinnya meraung dari Wonosobo sampai atas. Kami waktu itu masih baru punya motor, pertama kali turing serius, dan mesin itu yang ikut." Dia berhenti sebentar. "Itu bukan bagian yang memalukan. Itu bagian yang ada."
"Dan itu worth disimpan?"
"Kalau nanti kami punya tempat tinggal yang proper—" Leon mengangguk pelan, "—mesin itu jadi sesuatu di sana. Di dinding, atau di rak, atau entah apa. Tapi ada. Bukan karena nilainya, tapi karena dia sudah ke Dieng bersama kami waktu masih kecil dan tidak kuat."
Meja kafe diam beberapa detik.
Timur menatap ke permukaan meja sebentar.
"Itu tidak irasional," katanya.
"Sentimental," kata Bram.
"Sentimental dan tidak irasional bisa ada di tempat yang sama." Timur berdiri. "Kita lanjut?"
Bram menatap Leon dan Noel sekali lagi. "Tidak dijual."
"Tidak dijual," konfirmasi Leon.
Leon dan Noel meraih sisa Tropical Sunrise masing-masing dan menghabiskannya.

VI. MENUJU SRAKUNG
Dari Wonosari ke Pantai Srakung, jalan berubah karakter — aspal yang tidak selalu mulus, meliuk di antara bukit-bukit kars yang muncul tiba-tiba, pohon jati di kanan-kiri, sesekali warung kecil dan papan petunjuk arah yang dicat manual ke pantai-pantai.
Di intercom, percakapan jadi lebih santai.
Leon: "Bram, DR lo kedengarannya bagus dari belakang."
Bram: "Gue yang bilang itu dari awal."
Noel: "Dua pipa yang bikin."
Leon: "Sepasang."
Noel: "Pas."
Timur: "Tolong tidak ada analisis exhaust di intercom."
Bram: "Kenapa?"
Timur: "Karena kita masih enam belas kilometer dan gue tidak mau dengerin review akustik satu per satu."
Hening dua detik.
Leon: "MP3 Timur kedengerannya gimana dari belakang?"
Noel: "Modern. Presisi."
Timur: "—"
Bram, tertahan tawa: "Gue minta maaf sudah beli interkom ini."

Parkiran Pantai Srakung adalah sebidang tanah yang dipadatkan dengan pembatas bambu dan satu gubuk kayu di pinggirnya. Seorang bapak paruh baya berdiri di sana — celana pendek, sandal jepit, topi anyaman yang sudah kenal banyak cuaca.
Mereka masuk. Bapak itu menatap motor satu per satu, lalu ke carrier yang terikat, lalu ke empat orang dengan helm masih di tangan.
"Mau camping, Mas?"
"Iya, Pak," kata Bram.
"Bawa peralatan sendiri?"
"Bawa sendiri semua, Pak."
Bapak itu manggut, senang. "Bagus. Di sini memang tidak ada warung. Paling ada orang jual kelapa yang kadang lewat, tapi tidak pasti." Dia menunjuk ke selatan. "Pantainya di bawah sana. Jalan kira-kira seratus meter, turun sedikit. Tidak susah. Tapi bawa senter kalau nanti malam — tidak ada lampu sama sekali."
Dia membantu menunjukkan posisi terbaik untuk mengikat motor — ada pohon-pohon kecil di tepian yang bisa jadi anchor tambahan. Kerjanya efisien tanpa banyak kata, cara orang yang sudah melakukan ini bertahun-tahun.
Sambil mengikat motor Monkey Baja Leon, bapak itu menatap sebentar ke Noel yang berdiri di sebelahnya.
"Kembar, to?"
"Nggih, Pak."
Bapak itu menoleh ke dua Monkey Baja yang terparkir berdampingan. Balik ke Leon. Balik ke dua motor.
"Motornya juga kembar."
"Nggih, Pak."
Bapak itu mengangguk dengan cara yang sangat settled — bukan heran, lebih ke orang yang baru menemukan bahwa sesuatu masuk akal penuh. "Lha ya mestinya, to. Lek kembar, motornya ya kudu kembar."
Leon dan Noel tidak bisa tidak tersenyum untuk itu.

VII. TREKKING
Seratus meter, menurun di tanah berbatu kars, dengan carrier di punggung, sore menjelang.
Bram turun duluan. Langkah panjang, stabil, carrier besar tidak terlalu mengganggu postur — tapi terasa. Timur menyusul. Efisien, tidak ada langkah berlebihan.
Dan kemudian Leon dan Noel.
Yang terjadi sedikit mengejutkan.
Bram menoleh di titik yang paling curam — dan Leon dan Noel hampir sudah sejajar dengannya. Langkah mereka konsisten dan tidak terburu, seperti orang berjalan ke warung di ujung gang. Tidak ada napas yang lebih berat. Tidak ada tanda-tanda kesulitan.
"Lo berdua serius?"
"Serius apa?" tanya Leon.
"Tidak keringatan."
Leon dan Noel melihat satu sama lain, lalu ke lengan masing-masing.
"Sedikit," kata Noel.
"Sedikit itu normal," kata Leon.
"Gue sudah napas lebih berat dari kalian padahal kaki gue dua kali panjang kaki kalian."
"Malioboro panjang," kata Noel.
Bram menatapnya.
"Kami jalan kaki kalau ngamen," jelas Leon dengan sabar. "Dari Malioboro ke utara, ke warung-warung sampai ke sekitar Tugu, kadang balik lagi. Beberapa jam. Dengan ukulele."
"Seberapa sering?"
"Kalau bulan sedang tidak bagus untuk kafe — lumayan sering."
Timur yang mendengar dari sisi lain: "Itu jarak yang tidak kecil."
"Kami tidak punya pilihan lain kalau lagi kepepet." kata Noel.
Bram melanjutkan turun dengan langkah yang sedikit lebih hati-hati dari sebelumnya. Bukan karena jalannya lebih sulit, tapi karena dia sedang menempatkan sesuatu di konteks yang lebih lengkap dari yang dia punya tadi.
Timur berjalan di sebelahnya tanpa berkomentar. Tapi cara dia memperhatikan jalur di depannya lebih teliti dari biasanya — bukan karena medan yang sulit, tapi karena ada informasi baru yang baru mendarat dan butuh sedikit ruang untuk settle.

Pantai Srakung terbuka di hadapan mereka.
Tidak ada warung. Tidak ada pembatas. Garis pantai panjang dengan pasir putih keabu-abuan, batu karang di sisi kanan, ombak Selatan yang tidak main-main, dan langit yang sudah mulai mengubah warnanya dari biru ke krem keemasan menjelang sore.
Dua detik tidak ada yang berkata apa-apa.
"Worth it," kata Bram.
"Iya," kata Noel.
"Sangat," kata Leon.
Timur tidak berkata apa-apa. Tapi dia sudah berjalan sedikit ke depan, ke arah garis ombak, dengan cara yang dia lakukan di Kawah Sikidang dulu — sedikit ke luar dari frame kelompok, sedikit ke dalam dirinya sendiri. Tidak ada yang bertanya ke mana. Mereka sudah tahu itu adalah jenis jalan yang tidak membutuhkan teman.

VIII. SETUP TENDA
Area camping: sedikit menjauh dari garis ombak, cukup datar, dengan batu-batu besar di sisi kiri yang menjadi pelindung alami dari angin barat.
Mereka menurunkan carrier. Bram membuka resletingnya, mengeluarkan tenda solo ultralight. Timur mengeluarkan tentanya yang lebih kecil tapi sama efisiennya.
Leon mengeluarkan satu tenda. Besar. Bukan ultralight.
Noel tidak mengeluarkan tenda.
Bram menatap tenda Leon. Menatap carrier Noel. "Noel. Tenda lo mana?"
"Di carrier Leon."
"Lo bawa apa?"
Noel membuka carrier dan mengeluarkan dua benda kecil, dibungkus kain lembut, diikat tali.
Dua ukulele. Sangat kecil — kalau berdiri di sebelah Enya Moon Taimane Signature yang biasa mereka bawa manggung, ukurannya mungkin sepertiga.
Timur menatap keduanya. "Itu apa."
"Ukulele," kata Noel.
"Itu bukan ukulele."
"Itu sopranissimo. Ukuran terkecil yang ada."
Bram mengambil salah satunya. Fingerboard-nya hampir selebar telapak tangannya. Empat senar tipis. Badan yang muat di genggaman satu tangan. "Ini ukurannya anak TK."
"Ini ukurannya sopranissimo," koreksi Leon. "Itu terminologi yang valid."
"Dan lo bawa ini ke camping karena—"
"Enya Moon tidak mungkin dibawa ke sini," kata Noel. Nada suaranya berubah jadi nada orang yang serius. "Itu aset manggung. Kalau tertindih di carrier, atau lecet kena pasir, atau kena udara garam berlebihan..." dia menggeleng. Ekspresi orang yang bahkan tidak mau menyelesaikan kalimat itu.
"Jadi lo bawa yang ini."
"Yang ini beli di toko alat olahraga di pinggir Malioboro." Leon pause sebentar. "Yang jual pancing sama papan karambol."
Bram berhenti. "Toko pancing."
"Dan karambol," tambah Leon. "Harganya lima puluh ribu sebiji."
Hening yang sangat spesifik di tepi Pantai Srakung.
Timur mengeluarkan suara yang bukan tawa dan bukan juga bukan tawa. "Lima puluh ribu."
"Dua-duanya dibeli di hari yang sama," kata Noel. "Tentu saja."
"Tentu saja," ulang Leon.
"Dan kalian bawa ini kemari, alih-alih tenda masing-masing."
"Kita setenda berdua," kata Leon, dengan nada orang yang tidak melihat ada yang perlu dipertanyakan dari ini. "Satu tenda besar sudah cukup."
Bram meletakkan ukulele sopranissimo itu ke pasir dengan sangat hati-hati — bukan karena menghormati instrumennya, tapi karena dia tidak yakin apa yang akan terjadi kalau dia tidak hati-hati dan memang tidak ingin tahu.
"Mainkan dulu," kata Timur.
Leon duduk di batu di dekatnya. Memegang ukulele sopranissimo di pangkuan, menyetem sebentar — fret kecil, senar tipis, jari-jari yang sudah terlalu familiar dengan Enya Moon kini harus menyesuaikan dengan instrumen yang reaksinya sangat berbeda. Lalu dia memainkan satu akord.
Suara yang keluar adalah — sember. Sedikit fals. Agak seperti ukulele normal tapi dengan sengatan flu ringan. Nada yang ada di sana, tapi dengan presisi yang... interpretable.
Noel tertawa duluan. Kemudian Leon. Kemudian Bram, yang sudah siap untuk tidak tertawa tapi tidak berhasil. Dan kemudian Timur — tipis, tapi ada, dan dengan Timur itu selalu cukup berarti.
"Itu suaranya," kata Noel.
"Iya, itu suaranya," kata Leon, masih tertawa.
"Dua-duanya sama?"
Noel mengambil unitnya. Main satu akord.
Sama. Sama sembernya. Konsisten di antara keduanya — fals, karakter yang sama, fifty thousand rupiah yang sangat identik kualitasnya.
"Konsisten," kata Timur, yang berhasil membuat semuanya tertawa lebih keras satu putaran lagi.

Setup tenda berlangsung dengan campuran efisiensi dan kekacauan yang seimbang. Tenda Bram berdiri dalam empat menit karena sudah latihan di teras. Tenda Timur dalam enam menit. Tenda besar Leon-Noel dalam dua belas menit karena keduanya mencoba memasang tiang yang sama dari arah berlawanan dan baru menyadarinya setelah lima menit.
"Satu orang yang masang, satu yang pegang," kata Bram dari tenda sebelah.
"Siapa yang masang?"
"Siapa pun. Pilih."
Leon dan Noel berdiri berhadapan.
"Suit," kata Leon.
"Suit," kata Noel.
Mereka suit. Seri.
Suit lagi. Seri lagi.
"Ini selalu seri," kata Leon, dengan nada frustrasi yang sudah sangat berdamai dengan kenyataannya.
"Karena kita selalu pilih yang sama."
"GUE TAHU."
"SATU ORANG PILIH SEKARANG," kata Bram dari dalam tenda yang sudah berdiri dan sudah ada orangnya berbaring di dalamnya.
Leon memasang tiang. Noel memegang. Tenda berdiri. Selesai.

IX. MALAM DI SRAKUNG
Api unggun kecil di atas pasir — bukan yang besar untuk drama, hanya cukup untuk cahaya dan hangat. Bram yang buat, dari kayu kering yang tersedia di area camping karena tampaknya ada yang meninggalkan persediaan lebih dari perlu.
Langit Gunungkidul malam hari adalah sesuatu yang berbeda dari langit Jogja kota. Tidak ada cukup polusi cahaya untuk mengalahkan bintang, dan hasilnya adalah langit yang terasa seperti menemukan channel yang selama ini ada tapi tidak pernah muncul di feed.
Mereka duduk mengelilingi api. Bram dengan Marlboro Gold-nya yang baru dinyalakan — asapnya naik ke langit dan menyatu dengan asap kayu bakar. Timur dengan A Mild, posisi duduk yang biasa — lutut ke atas, tangan di lutut, ekspresi yang sudah seharian sama tapi entah kenapa di cahaya api terlihat versi yang lebih rendah volumenya.
Leon dan Noel duduk berdampingan. Dua ukulele sopranissimo di pangkuan masing-masing.
"Mau main?" tanya Leon ke api, atau ke siapa saja.
"Main aja," kata Bram.
Leon menyetem pelan. Noel menyetem juga.
Mereka main.
Suaranya masih sember. Masih sedikit fals di beberapa nada. Tapi ada sesuatu di cara mereka bermain yang tidak berubah dari instrumen manapun — interplay itu ada, dua tangan di dua ukulele yang bergantian mengisi celah satu sama lain, harmoni yang terasa tepat walaupun sumber suaranya adalah dua benda yang dibeli berdampingan dengan alat pancing.
Di atas pasir, di depan api, di bawah langit Gunungkidul yang tidak ada filter-nya, suara sember dua sopranissimo dari toko karambol terdengar seperti sesuatu yang tidak bisa direncanakan tapi juga tidak mungkin lebih pas dari ini.
Bram menarik rokok panjang. Matanya ke api.
Timur menyesap A Mild-nya. Matanya ke langit sebentar, lalu ke api, lalu ke arah laut yang sudah tidak kelihatan tapi masih terdengar jelas.
Suara ombak. Suara kayu bakar. Suara dua ukulele yang seharusnya tidak sebagus yang terdengar malam ini tapi entah kenapa terdengar pas.
"Timur," kata Leon tanpa berhenti main.
"Apa."
"Lo tadi jalan sendiri ke pinggir ombak ke mana sebetulnya."
Timur tidak menjawab langsung. Menghembus asap ke udara malam.
"Sana," katanya akhirnya. Menunjuk ke arah yang tidak spesifik, seperti yang pernah dia lakukan di Kawah Sikidang.
Leon mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut.
Noel mengubah chord, masuk ke sesuatu yang lebih pelan dan lebih minor. Leon mengikuti satu bar kemudian.
Api crackle.
"Obrolan malam ini topiknya apa?" tanya Bram ke udara, ke siapa saja.
Timur mengeluarkan asap rokok terakhirnya yang panjang.
"Nanti," katanya.
"Nanti," ulang Bram.
Angin dari laut masuk pelan — bau garam, sedikit dingin, tidak minta izin.
Empat orang dari satu band yang di atas kertas tidak seharusnya bisa berdiri — tidak ada gitaris, tidak ada vokalis, ada dua ukulele yang dibeli di toko yang juga jual kail pancing — duduk di pinggir Samudera Hindia di bawah langit yang tidak ada yang memasang lampunya.
Musik mereka di panggung butuh Quad Cortex, PA yang decent, dan sound engineer yang mau membaca setlist tidak biasa. Di sini, malam ini, dua sopranissimo seharga lima puluh ribu sudah lebih dari cukup.
Pembicaraan malam itu belum dimulai. Tapi api masih menyala, rokok masih ada, dan bintang di atas mereka berjalan ke barat dengan cara yang tidak terburu-buru — ke arah yang tidak ada yang terlalu perhatikan tapi selalu benar.

— bersambung ke Part 8 —