Ch. 5 - Muat

Malam sebelumnya, Bram kirim pesan ke grup.
Bram: besok kumpul studio jam 5 pagi. kita load bareng dulu baru berangkat.
Timur: lah pagi banget
Bram: venue soundcheck jam 8. jarak 45 menit. itung mundur sendiri.
Leon: oke
Noel: oke
Timur: oke tapi aku protes dulu
Bram: protes diterima. jam 5 tetap.
---
I. LIMA PAGI — GARASI BRAM
Langit masih ungu tua waktu L300 masuk ke gang.
Kang Gusep tidak pernah terlambat. Ini bukan sesuatu yang pernah diumumkan — hanya fakta yang sudah ada, seperti gravitasi dan harga parkir yang selalu naik.
L300 berhenti tepat di depan garasi. Mesinnya mati. Kang Gusep turun — kaos polos, celana kain abu-abu, sandal jepit yang sudah terlalu banyak mengenal aspal Jogja.
Di dalam garasi, semua equipment sudah tersusun di lantai. Bram yang rapikan semalam — layer demi layer, sesuai checklist yang dicetak dua kali. Drum hardware paling bawah. Bass amp dan guitar amp layer pertama. Drum shells layer dua. Acoustic amps dan bass di layer tiga. Quad Cortex, mic kit, cable crate, dua ukulele paling atas. Foam di setiap celah. Kain tebal di semua sambungan.
"Wih," kata Leon, dari ambang pintu garasi.
"Bram yang nyusun," kata Timur. Nguap, tutup mulut dengan punggung tangan. "Dari tadi malam."
Leon dan Noel berpandangan — dua ekspresi yang sama persis, dua versi reaksi identik dalam satu frame.
Bram keluar dari dalam rumah membawa dua termos. Satu dikasih ke Kang Gusep tanpa sepatah kata. Kang Gusep menerimanya juga tanpa sepatah kata.
"Oke," kata Bram. "Kita load."
---
Loading dua puluh menit. Empat orang mengangkat, Kang Gusep yang atur posisi di dalam box. Semua sudah paham tugasnya. Quad Cortex masuk paling terakhir, dibungkus kain flanel tebal, diletakkan tanpa tekanan dari sisi manapun.
Kang Gusep tutup pintu box. Kunci. Tepuk dinding dua kali.
"Aman, Kang?" tanya Bram.
"Aman, Mas Bram."
"Bram aja, Kang."
"Iya, Mas Bram."
Timur menunduk, pura-pura mengencangkan tali sepatu yang sudah terikat dari tadi.
Bram menghela napas. "Berangkat."

II. DI KABIN L300 — LEON, NOEL, KANG GUSEP
Leon naik duluan dari pintu kiri, geser ke tengah. Noel naik setelah Leon, duduk di pinggir kiri dekat jendela. Kang Gusep di balik setir, posisi kanan.
Tiga orang di bangku depan yang muat tiga orang — untuk pertama kalinya.
Kang Gusep menghidupkan mesin. L300 bergetar stabil. Masuk gigi. Dari arah parkiran yang sama, sayup-sayup, suara DR800S dan MP3 menyala — Bram dan Timur ambil rute masing-masing.
L300 bergerak keluar gang.
Noel membuka jendela kiri. Angin pagi masuk — sejuk, masih ada bau tanah sisa gerimis semalam. Noel mengeluarkan siku ke luar, santai, seperti orang yang memang sering melakukan ini.
Leon melirik ke kiri. Lirik jendela Noel. Lirik ke kanan — ke sisi Kang Gusep yang menyetir.
"Enak banget lo," kata Leon ke Noel.
"Iya," kata Noel.
Leon memandang lurus ke depan. Diam.
---
Lima menit pertama berjalan sunyi. Jalanan Jogja pagi hari — tukang sayur di trotoar, warung buka satu-satu, motor dengan kresek di spion.
Kemudian Kang Gusep yang memulai.
"Kalian sudah lama main ukulele?"
Leon dan Noel agak terkejut — bukan karena pertanyaannya, tapi karena Kang Gusep yang bertanya duluan.
"Dari kecil," kata Leon.
"Dari kecil," kata Noel, setengah detik setelah Leon.
"Kenal ukulele dari mana?"
"Dari Timor Leste, Kang," kata Leon. "Waktu kecil kami pernah ke sana — kampung nenek dari pihak ibu. Pante Macassar. Di sana nenek suka main ukulele."
"Pulang langsung minta dibelikan?"
"Tidak langsung," kata Noel. "Waktu itu malah minta gitar dulu."
"Kenapa gitar?"
"Kelihatannya lebih serius," kata Leon dan Noel bersamaan.
"Terus?"
Leon dan Noel berpandangan. Jeda pendek yang merupakan konsultasi batin dua orang yang sudah delapan belas tahun hidup berdampingan.
"Ternyata senarnya enam," kata Leon.
Kang Gusep mengangguk. "Memang enam."
"Itu kebanyakan, Kang."
Kang Gusep melirik sekilas ke Leon.
"Beneran," sambung Noel. "Kami ngitung waktu pertama pegang. Satu, dua, tiga — oke. Empat — masih bisa. Lima — mulai tidak nyaman. Enam—"
"Langsung kami taruh lagi," kata Leon.
"Terus badannya," lanjut Noel. "Gede, Kang. Kami pegang, setengah badan kami hilang di balik gitarnya."
Kang Gusep menahan sesuatu di sudut bibirnya. "Jadi pindah ke ukulele karena senarnya lebih sedikit dan badannya lebih kecil."
"Lebih cocok," kata Leon dan Noel bersamaan.
"Dan ternyata memang cocok," tambah Leon.
"Memang cocok," konfirmasi Noel.
---
"Nama ngamen kalian Cubs," kata Kang Gusep beberapa tikungan kemudian. Bukan pertanyaan — lebih ke membuka.
"Mas Timur yang cerita?" tanya Leon.
"Iya. Tapi tidak sempat tanya artinya."
Leon dan Noel diam sebentar — diam yang sedang menyiapkan sesuatu.
"Nama aku," kata Leon, "Leon. Artinya singa."
"Nama aku," kata Noel, "Noel. Artinya lahir. Kelahiran."
Kang Gusep menunggu. L300 melewati bundaran kecil, pelan.
"Kelahiran dua singa," kata Leon.
"Cubs," kata Noel.
Hening sebentar.
"Siapa yang kepikiran?" tanya Kang Gusep.
"Kami berdua," kata Leon dan Noel bersamaan.
"Perlu waktu lama?"
"Tidak sama sekali," kata Leon.
"Langsung tahu," kata Noel.
Kang Gusep mengangguk — anggukan yang pelan, ada bobotnya. "Nama yang bagus."
Leon dan Noel tidak menjawab. Tapi keduanya sedikit tersenyum ke arah yang sama.
---
Di lampu merah dekat Tugu, aroma bubur ayam dari warung yang baru buka menerobos masuk lewat jendela Noel.
"Lapar," kata Leon.
"Tadi tidak sarapan?" tanya Kang Gusep.
"Jam lima pagi, Kang."
"Aku tadi sarapan."
Leon dan Noel menoleh ke Kang Gusep bersamaan. "Jam berapa bangunnya?"
"Setengah empat."
"Setengah empat?"
"Biasa."
"Tiap hari?" tanya Leon.
"Tiap hari."
Noel menarik sikunya masuk, menatap ke depan dengan ekspresi yang sedang mencerna angka. "Kang Gusep antar anak sekolah dulu tadi?"
"Yang besar kelas empat SD. Tadi diantarkan ibu karena aku sudah harus jalan."
Hening yang berbeda dari hening-hening sebelumnya — ada sesuatu yang baru mendarat dan butuh sedikit ruang.
"Dibayar cukup kan, Kang?" tanya Leon, pelan.
"Kenapa ditanya?"
"Ya... nanya aja."
"Cukup." Kang Gusep mengangguk sekali, mantap. "Mas Bram hitung dengan benar. Tidak pernah ada yang dikurangi."
Noel mengeluarkan sikunya ke jendela lagi.
---
Dari kantong plastik kecil yang digantung di tuas yang tidak ada fungsinya di dasbor, Kang Gusep mengambil dua bungkus roti isi — satu dioper ke Leon, satu ke Noel. Satu tangan, tidak mengalihkan mata dari jalan. Tidak pakai pengantar apa-apa.
"Tadi beli di warung depan rumah," kata Kang Gusep. "Pikir kalian pasti belum sempat makan."
Leon menatap bungkus roti di tangannya. Noel sudah buka dan makan.
Leon mau bilang sesuatu. Tidak jadi. Buka bungkus roti, makan.
---
"L300 ini dari PT keluarga Mas Timur ya, Kang?" tanya Noel.
"Iya. Sudah tidak terpakai untuk operasional bisnis. Mas Timur yang suruh aku pegang — supaya tidak perlu sewa kendaraan tiap manggung."
"Jadi Mas Timur yang kasih?"
"Dipinjamkan. Untuk operasional roadie." Kang Gusep pause. "Mas Timur itu, kalau sudah percaya orang, ya sudah. Langsung."
Leon dan Noel tidak menjawab — tapi keduanya tahu apa yang baru disampaikan, dan itu bukan sekadar info tentang L300.
"Kang Gusep awalnya kerja servis elektronik?" tanya Leon.
"Masih kerja servis. Kalau tidak ada jadwal manggung, aku servis."
"Panggilan?"
"Panggilan. Tetangga, kenalan. Kadang dari mulut ke mulut sampai jauh." Kang Gusep sedikit menyesuaikan posisi tangannya di setir. "Pernah ada yang minta servis radio tape tahun delapan puluhan."
"Tahun delapan puluhan?"
"Pak tua di Kotagede. Masih mau dihidupkan katanya. Pemberian almarhum istrinya."
"Dan bisa diservis?" tanya Leon dan Noel bersamaan.
"Bisa."
"Dari mana tahu caranya?"
"Buku servis, teman yang lebih senior. Lama-lama paham sendiri." Kang Gusep mengangkat bahu sedikit. "Hampir semua alat elektronik itu, kalau mau sabar, bisa dibaca."
Leon mengangguk pelan, mengunyah rotinya. "Ternyata itu juga yang dipake waktu di studio Bram kemarin."
"Yang kabel XLR itu? Itu mudah sebetulnya. Cuma perlu tahu di mana putusnya."
"Bram udah mau beli baru, Kang."
"Sayang kalau beli baru. Masih bisa."
---
"Engine swap Monkey Baja kalian sudah sampai mana?" tanya Kang Gusep.
"Masih proses, Kang," kata Leon. "Beberapa part masih inden di Pak Wardi."
"Pak Wardi bilang kapan selesai?"
"Minggu depan. Kalau semua part sudah lengkap bisa langsung pasang dan tuning sekalian."
"Pak Wardi tidak mahal. Kerjanya tidak pernah setengah-setengah."
"Semoga," kata Noel.
"Tabungan sendiri?"
"Tabungan sendiri, Kang."
Kang Gusep tidak berkata apa-apa lebih jauh. Tangan kirinya pindah ke setir. Dua tangan. Fokus. Seperti seseorang yang baru memutuskan sesuatu dalam diam — sesuatu yang lebih baik tidak perlu diucapkan.

III. DI JALANAN — BRAM & TIMUR
DR800S melaju di jalur tengah.
Bram tidak pernah tergesa-gesa di atas motor. Ada sesuatu yang paradoks di sana — orang dengan kaki sepanjang itu, di atas motor sebesar itu — tapi gayanya selalu kalem. Torso pendek tersedot ke balik fairing besar, lengan terangkat ke handlebars lebar, kaki hampir lurus ke dua sisi.
Lima puluh meter di belakang, MP3 Yourban graphite gelap. Tiga roda, double-parallelogram linkage terlihat jelas di antara kedua roda depannya. Timur duduk tegak dengan postur sempurna secara geometris — dagu sedikit terangkat, ekspresi baseline yang memang terlihat sedikit smug tanpa dia sadari.
Tidak ada interkom. Percakapan hanya terjadi di lampu merah, dalam burst-burst pendek.
---
Lampu merah pertama.
Timur geser ke kiri Bram. Visir dibuka.
"Lo tahu nggak, nama Mt. Barramundi itu anagram dari nama kita."
Bram melirik ke Timur. "Lo baru sadar?"
Timur tidak langsung menjawab. "...baru sadar."
"Butuh berapa lama?"
"Dua tahun."
Bram tidak berkomentar. Lampu hijau.
---
Lampu merah kedua.
Timur geser lagi.
"Lo yang bikin?"
"Siapa lagi."
"Kenapa tidak bilang dari awal?"
Bram berpikir sebentar. "Biar seru."
Timur menutup visir. Lalu buka lagi. "Gue dua tahun jalan di bawah nama yang lo bikin dari anagram nama kita berdua dan baru tahu sekarang."
"Iya."
Lampu hijau.
---
Jalan lebar, kosong. Mereka berdampingan tanpa alasan untuk tidak.
Bram sesekali glance ke kiri. MP3 dan tiga rodanya — tidak pernah tidak aneh secara visual, tapi sudah lama jadi familiar. Seperti banyak hal yang awalnya asing dan kemudian pelan-pelan jadi bagian dari hari-hari biasa.
Mt. Barramundi.
Dua orang. Drum dan bass. Noisy, heavy, agresif. Panggung pertama yang toiletnya minta izin ke warung sebelah. Satu mic untuk semua. Sound system Pak Haryono. Sembilan penonton yang diam bukan karena bingung.
Waktu itu Timur bilang: harus lebih ramai.
Sekarang ada empat orang, dua ukulele yang tidak terdengar seperti dua ukulele, dan Burnt Memorial terdengar seperti sesuatu yang di atas kertas tidak seharusnya bisa berdiri. Tapi berdiri.
---
Lampu merah ketiga.
Timur geser.
"Menurut lo musik kita lebih bagus sekarang?"
Bram berpikir sebentar. "Lebih berwarna."
Timur mengangguk. "Gue sekarang bisa lebih fokus ke sound design. Ke landscape. Dulu di Mt. Barramundi gue yang harus cover semua range sendiri."
"Sekarang si kembar yang handle bagian atas."
"Rhythm, chord voicing, register tinggi — semua ke mereka." Timur pause. "Gue bisa tenggelam ke bagian yang memang gue suka."
Bram tidak menjawab. Tapi mengangguk sekali.
Cukup.
---
Lampu merah keempat.
"Exhaust MP3 gue masih di-shipping."
"DR800S gue juga mau ganti," kata Bram. "Udah titip ke Pak Wardi."
"Kenapa?"
"Karatan. Berat juga. Udah waktunya."
Timur menghitung. "Jadi minggu depan di Pak Wardi ada berapa exhaust?"
"Lima. Si kembar dua, lo satu, gue dua."
"Pak Wardi tidak akan komplain?"
"Pak Wardi tidak pernah komplain."
Lampu hijau.

IV. VENUE — SOUNDCHECK
L300 sudah di parkiran waktu Bram dan Timur tiba. Kang Gusep sedang membuka pintu box. Leon dan Noel di luar kabin meregangkan badan — Leon angkat kedua tangan ke atas sampai punggungnya berbunyi kretek-kretek, Noel tepuk-tepuk paha sendiri.
"Duluan berapa lama?" tanya Timur ke Kang Gusep, melepas helmet.
"Dua puluh menit."
"Kita lebih lambat."
"Enam lampu merah," kata Bram, parkir DR800S rapi di sudut.
"Dua di antaranya ngobrol," kata Timur.
"Di lampu merah?" tanya Leon.
"Di lampu merah."
Leon dan Noel memandang Timur, lalu Bram, lalu Timur lagi — ekspresi yang sama persis, dua versi. "Dan tidak ada yang nabrak."
"Tidak ada yang nabrak," kata Bram.
Leon dan Noel mengangguk bersamaan, seperti menerima fakta yang di luar logika tapi sudah terjadi.
---
Loading ke dalam venue tiga kali bolak-balik. Lift sempit — drum hardware lewat tangga belakang dengan sistem estafet yang berisik tapi efisien. Lima orang, tidak ada yang mengeluh.
Sound engineer venue datang begitu stage hampir siap. Perempuan, clipboard, earphone monitor di leher. Memandang setup dengan ekspresi yang netral tapi sedang memproses sesuatu.
"Gitaris belum datang?"
"Tidak ada gitaris," kata Bram.
"Vokalis?"
"Tidak ada vokalis."
Dia mencentang sesuatu di clipboard. Tidak berkomentar lebih. Tapi waktu berbalik ke mixing desk, ada satu ekspresi kecil yang bukan penilaian dan bukan keraguan — lebih ke: ini mau jadi menarik.
Soundcheck dua putaran. Lagu penuh di putaran kedua — tiga setengah menit, empat pergantian time signature.
Di akhir putaran kedua, sound engineer mengacungkan jempol dari balik mixing desk.
"Aneh."
"Terima kasih," kata Leon dan Noel bersamaan.

V. PRA-SHOW — RUANG BELAKANG
Satu jam sebelum show.
Ruang kecil, kursi plastik, cermin panjang, meja satu. Kang Gusep duduk di lorong luar dengan termos.
Bram duduk dengan setlist di tangan. Delapan lagu. Preset sudah dicek dua kali. Catatan di pinggir, tulisan rapi.
Timur berdiri di depan cermin, cek posisi strap Dingwall. Neck panjang itu selalu perlu sedikit adjustment sebelum main.
Leon dan Noel duduk berdampingan — masing-masing pegang ukulele di pangkuan tanpa memainkannya. Ritual pra-show yang tidak pernah mereka jelaskan ke siapapun.
Hening produktif.
"Nervous?" tanya Timur, ke cermin, ke siapa saja.
"Tidak," kata Bram.
"Tidak," kata Leon dan Noel bersamaan.
Timur mengangguk. Pause.
"Kalian berdua megang ukulele-nya lebih erat dari biasanya."
Leon dan Noel menurunkan pandangan ke ukulele masing-masing, lalu mengangkat lagi ke Timur — ekspresi sama persis.
"Tidak ada yang bilang nervous," kata Leon.
"Tidak ada yang bilang nervous," kata Noel, tepat satu detik setelah Leon.
Timur membuka mulut. Menutupnya.
"Oke," kata Bram, tanpa mengangkat mata dari setlist. "Dinamika dijaga dari lagu satu. Jangan langsung penuh — biarkan naik." Dia lipat setlist, masukkan ke saku. "Leon, Noel. Intro lagu tiga — berdua ingat?"
"Ingat," kata Leon dan Noel bersamaan.
"Oke." Bram berdiri. "Kita main."

VI. SHOW
Lampu turun.
Hampir dua ratus kursi — cukup untuk ada bobot di udara, bobot yang terasa sebelum satu not pun dimainkan.
Bram masuk duluan. Duduk di belakang drum, stick sudah di tangan sejak sebelum masuk stage. Ekspresi rata.
Timur masuk. Bass di posisi yang sudah dikunci sejak soundcheck — caranya pegang Dingwall selalu terlihat seperti orang yang tahu persis apa yang ada di tangannya dan tidak perlu membuktikannya ke siapapun.
Leon dan Noel masuk dari kiri dan kanan, ketemu di tengah — bukan karena dikoreografi, hanya karena mereka selalu begitu. Dua Enya Moon di bahu masing-masing, tali warna sama.
Penonton yang belum kenal mereka memindai stage. Di mana gitarisnya. Di mana yang nyanyi.
Tidak ada. Tidak akan ada.
---
Lagu pertama dimulai dengan satu ketukan hi-hat.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Bass masuk — groove yang langsung terasa, bukan karena keras tapi karena presisi. Leon dan Noel masuk di bar keempat, chord pertama dari dua ukulele yang seharusnya terdengar kecil tapi tidak.
Lagu pertama selesai. Tepuk tangan yang tulus.
---
Lagu ketiga adalah titik balik.
Hanya Leon dan Noel yang masuk — dua menit, dua ukulele. Melodi saling mengisi, harmoni yang sesekali disonan dan selesai dengan cara yang terasa inevitable. Sentuhan flamenco di bagian tengah — bukan teknik yang diimpor, bukan show-off. Ini cara mereka main dari dulu, dari kafe-kafe Jogja, dari memori pantai Pante Macassar yang tidak pernah benar-benar pergi.
Di balik mixing desk, Timur bisa membiarkan dirinya tenggelam ke bagian bawah — ke sound design, ke landscape yang selama di Mt. Barramundi harus dia bagi dengan semua range lainnya. Sekarang tidak perlu.
Waktu Bram dan Timur masuk di bar kedelapan, ada pergeseran di penonton yang bisa dirasakan meski tidak bisa dilihat. Dari menikmati ke benar-benar mendengar.
Sound engineer tersenyum kecil ke catatannya. Tidak ke siapa-siapa. Hanya tersenyum.
---
Di lorong belakang, Kang Gusep duduk di kursi plastik yang dipinjam tadi dari ruang belakang. Suara masuk jelas dari sana.
Dia minum dari termos, pelan.
Aneh, pikirnya — seperti setiap kali mendengar mereka main. Tapi penuh.
---
Lagu kedelapan. Terakhir.
Bram nod ke Timur. Nod ke kiri, ke kanan. Leon dan Noel menangkap. Malam ini — perpanjang.
Dua bar ekstra. Timur naik satu oktaf, Quad Cortex buka reverb yang biasanya ditahan rapat. Leon dan Noel main diminished yang digantung, tidak diselesaikan — sampai snare tunggal Bram menutup semuanya.
Satu detik hening penuh.
Tepuk tangan.

VII. SETELAH SHOW
Bongkar muat tiga puluh lima menit. Lebih cepat dari biasanya.
Sound engineer datang waktu Leon sedang gulung kabel.
"Tapping di intro lagu tiga — menit satu dua puluh. Belajar dari mana?"
"YouTube," kata Leon.
Perempuan itu berhenti. "Serius?"
"Dan dari nenek," kata Noel.
"Nenek kalian main ukulele?"
"Beliau yang pertama tunjukkan ke kami."
Dia mengangguk — bukan anggukan yang cepat, tapi anggukan yang sedang meletakkan sesuatu di tempatnya. "Bagus. Bagus banget sebetulnya."
Leon dan Noel mengangguk pelan. Bersamaan. Genuine.
---
Di parkiran, semua equipment sudah kembali ke box. Kang Gusep kunci pintu. Tepuk dinding dua kali.
Empat orang berdiri masing-masing di dekat kendaraan mereka — atau dalam kasus Leon dan Noel, di samping L300.
"Bagus malam ini," kata Timur.
"Iya," kata Bram.
"Lagu tiga," kata Leon.
"Setuju," kata Noel.
"Setuju," kata Timur.
Bram mengangguk.
Angin malam masuk dari barat. Parkiran setengah kosong, lampu tiang oranye.
"Kang Gusep," kata Noel.
"Ya."
"Makasih ya, Kang. Buat hari ini."
"Ini kerjaan."
"Tetap makasih."
Kang Gusep tidak menjawab langsung. Membuka pintu kabin, menaruh clipboard ke dasbor. Lalu berbalik.
"Masuk. Nanti kedinginan."
Leon dan Noel naik. Pintu kabin ditutup.
---
Bram dan Timur bergerak ke motor masing-masing.
"Minggu depan ke Pak Wardi," kata Timur.
"Sekalian semua," kata Bram.
"Exhaust gue, exhaust lo, exhaust si kembar."
"Empat motor, lima exhaust baru."
Timur memakai helmet, berhenti sebentar. "Knalpot si kembar yang gue beli — mereka masih belum tahu merk-nya."
"Masih surprise?"
"Masih surprise."
L300 menyala lebih dulu — stabil, pelan, bergerak keluar parkiran ke gelap yang hangat.
DR800S menyusul. MP3 paling belakang, suara knalpot original-nya yang flat mengisi malam untuk sementara waktu — untuk terakhir kalinya, sebelum minggu depan.
---
Minggu depan, mereka pergi ke Pak Wardi.
Semua berempat.
Monkey Baja sudah menunggu.
Dan ada lima exhaust baru yang belum dipasang.

— BURNT MEMORIAL: CHAOS ON WHEELS, PART 5 SELESAI —